
Haidar mengajak Hamna pergi berlibur ke pantai pasca sidang skripsi Hamna dua hari yang lalu. Haidar seketika tersenyum melihat Hamna yang berlarian, mengingat gadis itu akhirnya bisa lepas dari kungkungan skripsi dan masa lalunya.
Mungkin tidak sepenuhnya lupa, tapi itu lebih baik dibanding Hamna dua minggu yang lalu berteriak histeris. Kini Hamna sedang mencoba berdamai dengan dirinya sendiri. Berdamai dengan masa lalu dan luka itu.
Sedikit demi sedikit Hamna sudah berhasil melepaskan beban di hatinya. Semuanya berkat Haidar yang selalu mendampingi Hamna dan menjadi tempat luapan emosi Hamna yang kadang memuncak. Dan pada akhirnya, ketulusan Haidar telah membawa Hamna pada titik terikhlasnya.
Hamna melempar senyum manisnya pada Haidar seraya berteriak agar Haidar mengikutinya. Haidar tertawa, ia turut bahagia melihat Hamna yang tertawa lepas. Akhir-akhir ini Haidar sering melihat Hamna yang tersenyum.
Dulu, jangankan tersenyum, Hamna selalu menatapnya tajam. Sekarang, gadis itu bahkan tertawa saat Haidar membuat lelucon. "Cantik, sangat cantik," gumam Haidar.
"Pak, ayo sini! Pasirnya lembut, tahu!" ujar Hamna yang sudah bermain dengan pasir. Kakinya melompat-lompat di atas pasir. Lagi, Haidar tersenyum seraya mendekati gadis itu. Sungguh, senyum Hamna meneduhkan pandangannya.
Setelah puas memandangi Hamna, Haidar beranjak dari sana, tak ingin mengganggu kesenangan Hamna. Ia pergi ke sebuah kedai untuk memesan dua gelas es kelapa dan duduk di sana sambil memerhatikan Hamna dari jauh.
"Haidar?" sebuah suara mengalihkan atensinya seketika. Pria itu menoleh ke samping. Menatap seorang pria tinggi tegap.
__ADS_1
"Sedang apa kau di sini?" tanyanya lagi. Haidar bangkit dari duduknya. "Zayan? Sedang apa di sini?"
Lelaki yang dipanggil Zayan itu tersenyum. "Biasa, mengajak istri dan anak liburan. Kau juha sedang liburan, ya? Sendiri?" Haidar menggeleng.
"Dengan calon istri," jawab Haidar, ia sengaja menekankan kata calon istri. Entah untuk apa. Zayan mengangguk sambil matanya sesekali mencari keberadaan calon istri yang Haidar bilang.
"Di mana dia? Kau tidak mengenalkannya padaku?" ujar Zayan bercanda. Kau sudah mengenalnya, Zay.
Haidar tersenyum singkat. Jarinya menunjuk ke arah pantai. "Di sana, sedang bermain pasir."
"Oh, ya, di mana anak dan istrimu?" Haidar bersuara. Penasaran seperti apa istri Zayan hingga ia mampu meninggalkan gadis sebaik dan secantik Hamna.
Perempuan itu tersenyum, sedang anak kecil itu berlari ke arah Zayan dan memeluknya. "Papa!" Zayan menggendong anak yang diakuinya sebagai anak kandung itu.
"Senang bertemu dengan Anda lagi," sapa Marshanda. Haidar menundukkan kepalanya sedikit dan tersenyum. Haidar sempat terkejut saat melihat Marshanda yang bersanding dengan Haidar. Apalagi saat Zayan mengenalkannya sebagai istri.
__ADS_1
Apa-apaan ini? Marshanda adalah istri Zayan? Tuhan, plot twist macam apa ini? Sekarang aku tahu kenapa Hamna ingin cepat pulang saat di mall waktu itu. Nana ini pasti mengingatkannya pada Zayan. Aih...
"Loh? Kalian sudah saling kenal?" tanya Zayan yang tampak heran. Tak biasanya istrinya itu ramah pada seseorang.
Marshanda tersenyum seraya menggamit lengan Zayan. "Mas, dia yang waktu itu aku pernah ceritakan padamu. Yang menolongku di mall," jelasnya. Zayan tampak melepas genggaman Marshanda.
"Be-benarkah? Haidar terima kasih banyak, ya! Terima kasih telah menolong Nana."
"Bukan masalah besar, kok. Santai saja," sahut Haidar. Sungguh ia juga tak menyangka akan ada pertemuan tak terduga seperti itu.
Saat keduanya sedang asyik mengobrol. Nana tampak menarik-narik ujung baju Zayan. Meminta ditemani main pasir.
"Sayang, main sendiri dulu, ya." Nana tampak murung namun Marshanda sudah menggandengnya menuju pantai.
"Nana sama Mama dulu, ya, mainnya. Papa lagi ngobrol sama temannya, boleh?" Nana mengangguk. "Anak pintar, yuk!"
__ADS_1
Nana berlarian di pasir. Sebelum menyusul Nana, Marshanda sempat melirik ke belakang, menatap Zayan sekilas dengan nanar.
Kamu boleh saja tidak mencintaiku, Mas. Tapi setidaknya beri saja sedikit perhatian untuk anakmu.