
Zayan menghela napas pelan. Kopi yang tadinya ia kira bisa menghangatkan suasana berakhir pada dingin tak tersentuh. Ia telah kehilangan minatnya pada kopi. Berbicara pada Hamna yang keras kepala jauh lebih sulit daripada yang ia kira.
Napasnya tercekat suasana. "Bisakah kita tetap jadi teman, Na? Aku tahu kesalahanku dulu tak semudah itu dimaafkan, setidaknya beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku menyesal dan benar-benar ingin meminta maaf dengan tulus."
"Meninggalkanmu tak pernah jadi pilihanku, Na. Aku terpaksa demi nama baik keluarga. Tapi sekarang aku sadar, jika keputusanku waktu itu membuatku kehilanganmu hari ini, aku tak akan pernah melakukannya. Dan aku benar-benar menyesalinya, Na."
"Aku memang bodoh, Na. Aku bodoh karena melepasmu demi sebuah kontrak. Tapi, sekarang aku kembali, Na. Aku kembali semata karena aku masih mencintaimu."
Tak ada kebohongan yang Hamna dapat dari penjelasan Zayan. Jika dulu ia berkata begitu, ia pasti akan memercayainya. Sekarang, penjelasan itu hanya terdengar seperti bualan di telinga Hamna.
Hamna menggeleng pelan, meski ia akui ia tersentuh. Tapi tidak, ia tidak ingin memberi celah untuk seseorang menyakitinya lagi. Zayan tampak lemah, gelengan kepala Hamna seharusnya cukup untuk membuat Zayan mengerti. Tak ada kesempatan lagi baginya.
"Apakah menurutmu, setelah apa yang kau lakukan padaku, aku masih bisa menganggapmu teman, Tuan Halim? Aku bukan orang yang bisa diajak berteman setelah hubungan cinta hancur. Perasaan perempuan tidak sebercanda itu."
__ADS_1
"Maaf," lirih Zayan. Ya, dia salah. Dia memang salah berharap dan meminta satu kesempatan lagi. Bagaimana pun, dia-lah yang meninggalkan Hamna dan membuat gadis itu merana selama bertahun-tahun. Dia seharusnya sadar akan hal itu.
"Bisakah kita akhiri ini segera? Aku masih ada urusan penting."
Zayan kembali mendongak, menatap Hamna lekat, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Setelah ini, ia berjanji tak akan muncul lagi di hadapan Hamna. Ia akan pergi dan membiarkan Hamna bahagia.
"Haidar itu, apakah dia kekasihmu?" pertanyaan Zayan sontak membuat Hamna kaku membisu. Bukan! Dia bukan kekasihku! Dia adalah dosenku! jawabnya dalam hati.
"Aku ingin kamu berbahagia, Na. Meski bukan denganku, berbahagialah dengan seseorang yang dapat mencintaimu melebihi aku. Semoga peluknya dapat menjadi tempat ternyaman bagimu untuk pulang."
"Aku menikahi wanita yang kupilih. Cintanya untukku luar biasa, Na. Tapi entah mengapa, menurutku dia berbeda. Cintanya tak sama seperti cinta yang kurasakan padamu dulu. Senyumnya indah, matanya teduh, tapi bagiku terasa berbeda, Na."
Hamna masih mendengarkan. Tentu saja berbeda, karena dia bukanlah aku.
__ADS_1
"Kau tidak bisa menyamakan setiap cinta, Tuan Halim. Pada tiap kisah, kadar cintanya berbeda, begitu juga rasa sakitnya. Dan bagiku, kisah kita sudah berakhir di sini. Tak peduli apakah cinta itu masih terasa atau justru kandas tanpa sisa. Kita usai, itulah faktanya."
"Tak ada gunanya kau tetap mencintaiku. Lupakan aku, dan buang jauh-jauh cinta lama itu. Sekarang waktunya bagimu menyambut cinta istrimu. Dia lebih berhak mendapatkan tempat di hatimu, dan juga anakmu, dia berhak disayangi olehmu."
Entah mengapa bagi Zayan. Ketegaran Hamna justru mengusiknya. Kebijaksanaan gadis di hadapannya amat menyayat hatinya. Mungkin benar bahwa penyesalan itu tiada gunanya lagi. Zayan menahan sesak itu dalam-dalam. Begitu pula cinta terhadap Hamna. Akan ia kubur dalam-dalam.
"Aku sudah memaafkanmu sepenuhnya. Kau sudah memiliki kehidupan baru sekarang. Dan aku pun juga demikian. Berbahagialah agar usahaku merelakanmu tak sia-sia."
Hamna beranjak, waktunya sudah habis. Ia harus segera menemui Haidar. Lelaki itu pasti sudah menunggunya. Zayan menatap kepergian Hamna dengan hati pilu. Dulu, dadanya berdebar tiap kali Hamna datang padanya dengan senyum merekah. Kini, hatinya berdebam keras seiring dengan kepergian Hamna.
Hari itu adalah hari di mana Hamna berhasil melepaskan belenggu hati yang ditahannya selama 5 tahun terakhir dengan penuh kesakitan. Kini, ia merasa lega. Ia tersenyum menghampiri Haidar yang berada di seberang jalan, tengah bersandar pada nyiur yang melambai indah seraya membaca buku.
Haidar menyambutnya dengan tersenyum pula. Sekali lagi, Haidar belajar bahwa ikhlas itu indah. Sedangkan dari kaca jendela, Zayan menatap keduanya dengan perasaan hampa. Barangkali beginilah rasanya kehilangan. Ya, dia pantas mendapatkannya. Tak lama ia pun pergi dengan langkah gontai. Menjemput cinta baru yang Hamna katakan.
__ADS_1