
Kelas telah usai dari satu jam yang lalu tetapi Haidar masih berkutat dengan pekerjaannya. Matanya masih terus menatap layar di hadapannya, jarinya sibuk mengetik tanpa henti. Laki-laki itu memijat pelipisnya pelan, rasa pusing biasa menyergapnya akhir-akhir ini. Pekerjaan barunya benar-benar menyita separuh dari isi kepalanya, belum lagi masalah yang belum kunjung ia selesaikan.
Dering ponsel menghentikan kegiatannya, ia mengambil ponsel yang diletakkannya di meja. Ditatapnya layar pipih itu, di sana nama 'Ibu' dengan jelas dapat ia baca. "Assalamualaikum, halo, Bu?" Ucapnya sesaat panggilan tersebut tersambung. Di seberang telepon, Hannah tampak gusar.
"Wa'alaikumussalam, Nak. Kamu sudah makan belum? Masih sibuk kerja, ya?" Jawabnya sembari mondar-mandir di ruang tamu. Fawwaz tengah memerhatikan gerak-gerik istrinya itu. Sama seperti Hannah, hati Fawwaz pun tengah diliputi gelisah.
"Belum, nanti saja Haidar makan kalau pekerjaan Haidar sudah selesai. Kenapa, Bu? Ada sesuatu? Kenapa suara Ibu terdengar cemas?" Tanya Haidar, kini tangannya sibuk meraba-raba map dan mengeluarkan isinya.
Di seberang, Hannah memandang wajah suaminya, ragu untuk berkata kepada Haidar. Fawwaz menganggukkan kepalanya, seolah meyakinkan istrinya. "Katakanlah" isyarat Fawwaz, Hannah menarik napas. "Aih aku harus bagaimana sekarang?" batinnya.
Haidar masih menunggu, "Bu, Ibu masih di sana, kan? Ada apa?" Panggil Haidar sekali lagi, "Iya, Nak, Ibu masih di sini. Begini, bisakah nanti kamu pulang lebih awal? Keluarga besar akan menunggumu ... pamanmu, Hayan, akan membawa seseorang ... dia ... " Hannah menjeda ucapannya. Menunggu reaksi Haidar.
Haidar terdiam sejenak, berusaha mencerna ucapan Ibunya itu, "Seseorang apa? Apa maksudnya, Bu?" Hannah tampak tersentak oleh nada bicara Haidar yang agak keras. "Maaf, Bu ... Haidar kaget"
"Ibu mengerti, Nak" Hannah semakin sesak, tak kuasa membayangkan betapa tertekannya Haidar. "Kamu tahu, kan. Ayah dan Ibu juga tidak setuju dengan perjodohan semacam ini. Tapi ... Hayan, dia tidak mau mendengar perkataan Ayahmu. Jadi ... " Ia melirik Fawwaz, kepala laki-laki setengah baya itu juga tertunduk, tampak tak kuasa lagi.
"Sampai kapanpun, Haidar tidak akan menerima perjodohan, pertunangan atau apapun itu, Bu. Haidar akan pulang dan menentangnya. Tak peduli seberapa kuat Paman Hayan memaksa, Haidar tidak akan tunduk sedikitpun!" bentak Haidar agak kesal dengan pemikiran pamannya yang begitu sempit. Menganggap pernikahan adalah bisnis yang akan menguntungkan.
Hannah menarik napas, pasrah. Ia memandangi suaminya. Berbeda dengannya, Fawwaz tampak bangga dengan keteguhan hati Haidar untuk menolak. "Apa yang kamu dengar? Masih merasa bangga? Huh!" dengus Hannah, marah.
Fawwaz terkekeh, ia menarik Hannah untuk duduk bersamanya, "semua akan baik-baik saja, percayalah, anakmu itu cerdas seperti Ayahnya" ucap Fawwaz memeluk istrinya. "Entah anak ataupun ayah, sifatnya sama saja" batin Hannah.
Haidar terduduk lemah, sebisa mungkin ia menahan marah. Belum tuntas rasa peningnya soal pekerjaan, sekarang ditambah lagi dengan masalah pernikahan. Ia benar-benar dibuat frustasi.
Suara ketukan di pintu terdengar, "Ya Rabb, siapa lagi yang mau menggangguku?" bisiknya lesu. "Siapa?" tanya Haidar dengan malas. Ia benar-benar sudah lelah menghadapi orang-orang. "Ini saya, Pak, Hamna. Bolehkah saya masuk?" sebuah sahutan terdengar dari luar.
"Hamna? Dia belum pulang? Kuharap dia tidak terkejut dengan penampilanku yang kacau begini" batinnya. Ia berdeham, "ya, masuk saja" teriaknya dari tempat duduknya. Biasanya ia akan segera membukakan pintu dan bersikap ramah. Tapi tidak untuk hari ini.
Hamna muncul dari balik pintu. Dan ia terkejut melihat penampilan laki-laki di hadapannya itu sangat berantakan. Tidak seperti Haidar yang biasa ia lihat, Haidar yang ditatapnya sekarang benar-benar tampak lusuh. Mendadak, perasaan khawatir menyusupi hatinya.
"Pak Haidar?" panggilnya pelan. Haidar menoleh, "kamu belum pulang, Na?" Haidar bertanya dengan agak lemah. Lalu Hamna mengambil duduk di depan Haidar.
"Tadi sudah mau pulang, tapi saya lihat mobil Pak Haidar masih terparkir. Jadi, saya pikir Pak Haidar masih bekerja, dan mau membantu sedikit. Ini, saya juga bawakan kopi" Hamna memberikan kopi yang sempat dibelinya kepada Haidar.
Laki-laki itu menerimanya, "terima kasih. Sebenarnya kamu tidak perlu repot-repot begini, saya bisa beli sendiri nanti" jawabnya, Haidar menatap langit-langit kantornya.
__ADS_1
"Apakah ada sesuatu yang mengganggunya? Baru kali ini aku melihatnya seperti tertekan. Haruskah aku bertanya? Tidak, tidak, tidak. Bukankah itu akan canggung? Tapi, bagaimana jika dia benar-benar dalam masalah?" batin Hamna bertanya-tanya.
"Pak Haidar? ... Are you okay? C-Can you ... Tell me ... why?" Hamna bertanya dengan agak hati-hati. Haidar menatapnya, "haruskah aku menceritakan masalahku?" pikirnya ragu.
Haidar bangun, ia tersenyum, "no, no problem whatsoever"
"Apa seseorang pernah mengatakan sesuatu kepadamu, Pak?"
"Tentang apa?"
"Pak Haidar tidak pandai berbohong" Hamna menatapnya lekat-lekat. Haidar menarik napasnya kasar. "Kamu benar. Saya sedang dalam masalah besar sekarang dan saya tidak tahu harus bagaimana" jawab Haidar tertunduk.
"Masalah apa sampai Pak Haidar tidak bisa mengatasinya?" tanya Hamna, sependek yang ia tahu, Haidar bukanlah laki-laki yang akan begitu mudah menyerah tanpa melakukan usaha apapun.
"Pernikahan" jawab Haidar singkat. Mendadak hati Hamna terasa nyeri. "Pak Haidar sudah mau menikah? Bukankah itu hal yang bagus? Kenapa Pak Haidar murung?" ujarnya. Haidar bangkit dari duduknya.
Ia menghela napas berat, Hamna masih memerhatikannya. "Sebenarnya, saya tidak ingin menikah."
"Kenapa?" tanya Hamna, pikirannya mulai kacau saat Haidar berkata tidak ingin menikah. "Karena aku hanya ingin menikah dengan orang yang aku cintai, Na. Aku hanya ingin menikahimu" batin Haidar.
Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepala Haidar. Ia menatap Hamna serius, "kamu yakin mau membantu saya, Na?" tanya Haidar memastikan. Ia sungguh-sungguh berharap Hamna setuju.
Hamna tampak berpikir. "Aku tidak salah kan menawarkan bantuan? Kenapa perasaanku jadi tidak enak begini? Tapi, jika kutolak, sangat tidak adil untuknya bukan? Pak Haidar sudah banyak membantuku."
"Eh, te-tentu saja, Pak. Selama saya bisa membantu ..., kenapa tidak?" jawab Hamna kaku.
"Menikahlah dengan saya!" ujar Haidar tiba-tiba membuat Hamna mendadak berdiri, terkejut. "A-Apa? Me-menikah?"
Haidar turut berdiri. Kini keduanya berhadapan. Haidar menatap Hamna intens. "Saya serius, Na. Saya tahu pernikahan adalah hal yang sangat serius dan tidak bisa dijadikan candaan. Tapi ini sangat mendesak, Na. Please, help me. If you don't wanna marriage with me. At least, pretend to be my future wife, you can, right?" mohon Haidar.
"W-what? Marriage? Future wife? What do you mean?" sahut Hamna terkejut.
Haidar mencoba menenangkannya, ia memapah Hamna untuk duduk. "Okay, I know, ini kedengarannya gila. Tapi akan saya jelaskan, oke? Ka-kamu tenahg dulu" lalu Haidar menjelaskan semua masalahnya kepada Hamna. Tentang perjodohan dan alasan kenapa ia tidak ingin menikah. Hamna menyimaknya, jujur saja, hatinya juga ikut gelisah.
Dipandanginya wajah Haidar yang tampak lesu, senyum yang biasa menghias wajahnya seolah hilang.
__ADS_1
"Saya tampak mengenaskan, ya?" tanya Haidar sesaat ia selesai menceritakan semua keluhnya.
"Saya tahu, tidak apa-apa, saya akan menghadapinya sendiri" Haidar bangkit, ia mengacak-acak rambutnya. Melihat itu, Hamna jadi tak tega. "Apa keuntungan yang bisa saya dapat jika membantu Pak Haidar?" ujar Hamna berikutnya. Haidar tampak mematung.
"Kamu bilang apa tadi, Na?" Haidar kembali duduk, wajahnya berubah serius saat menatap Hamna.
"Kompensasinya" jawab Hamna berusaha tenang ditatap begitu dekat oleh Haidar.
"Ko-kompensasi? Ma-maksudnya kamu setuju? Benar begitu, Na?"
Hamna menarik napasnya, "iya, Pak Haidar. Sebaiknya katakan atau saya akan berubah pikiran"
"Emm, I'll give you 3 promises ... How?" tanya Haidar mencoba bernegosiasi dengan Hamna.
"3 janji? Untuk apa? Saya tidak membutuhkan janji-janji" jawab Hamna merasa tak suka. Karena beberapa hal, ia benar-benar muak mendengar kata janji.
"Oh, okay, okay. 3 permintaan, whatever you want, I'll give you that. Setuju?" tawar Haidar lagi. Hamna mengangguk. "Itu juga boleh"
Haidar menarik napas lega. "Membuat kesepakatan dengan seorang Hamna ternyata bisa serumit ini" batin Haidar. "Senang berbisnis dengan Anda, Pak" ujar Hamna mengulas senyum tipisnya.
"Oh, tentu, saya juga. Terima kasih, Na. Kamu ... sudah mau membantu saya. Tanpa kamu, saya tidak tahu harus bagaimana lagi"
"My pleasure. Jadi, kita pergi belanja?"
"Oh ladies ... " Haidar memutar bola matanya. Hamna tertawa singkat melihat Haidar kembali ceria.
"Ayo" Haidar mengambil kunci mobilnya. "With your credit card, okay?"
"Baiklah, makan siang sebagai uang muka. Setuju?"
"Oh no. Kenapa saya merasa seperti sedang memalak seorang pria kaya?"
"Saya memang kaya, kamu tahu itu, kan?"
"Oh ya ampun, Pak Haidar mengidap syndrome narsistik, ya?" Haidar tertawa mendengar perkataan Hamna. Ia tidak tahu, yang jelas, dengan Hamna, ia bisa menunjukkan sisi lain dirinya. Lalu keduanya menyusuri langkah pulang dengan senang hati.
__ADS_1
...*****...