
10 Pagi, di sebuah Kafe di kawasan Venice. Haidar sudah duduk merenung di sudut kafe, di meja paling belakang. Beberapa pasangan tampak asik bercengkrama, membuat Haidar kian gerah.
Lagi, ia melirik arloji mahalnya. Berdecak kesal, tak biasanya ia dibuat menunggu seperti ini. "Kenapa perempuan sangat lama saat diajak bertemu?" katanya sambil melirik ke arah pintu masuk kafe. Tapi orang yang ditunggunya tak kunjung datang padahal 30 menit telah berlalu.
Bahkan secangkir Americano sudah habis diminumnya. Ia tergerak untuk menelepon Erick, memastikan kembali apakah benar Hamna yang ingin menemuinya?
"Maaf, aku terlambat," ujar seorang perempuan berhijab berdiri di hadapan Haidar saat ia hendak menelepon.
Lekas ia matikan ponselnya dan meminta Hamna untuk duduk dengan senyum mengembang. Kekesalan yang semula merambati hatinya seolah lenyap hanya dengan sapaan ringan itu.
Haidar berdeham kecil untuk menutupi kegugupan dirinya. Sungguh, jantungnya berdetak lebih cepat hari ini saat menatap Hamna. Andai saja Kafe ini tidak diiringi musik pop yang mengalun, Haidar yakin Hamna dapat mendengar detak jantungnya berirama sekarang.
"Kamu ... mau pesan apa?" tanya Haidar dengan gugup. Melihat Hamna yang duduk di hadapannya bagai mimpi baginya. Ya meskipun Haidar tak tahu apa yang diinginkan gadis itu sehingga mengajaknya bertemu.
"Latte dan satu cheesecake," jawab Hamna setelah melihat buku menu. Haidar mengangguk lalu memanggil waitress di sana.
Setelah waitress pergi, sunyi meliputi mereka berdua padahal suasana Kafe tersebut begitu ramai oleh obrolan-obrolan anak muda yang tampaknya sedang memadu kasih.
"Tidakkah Pak Haidar merasa kita terlalu tua untuk berada di sini?" gurau Hamna. Mengingat usia mereka sudah cukup dewasa. Sedangkan anak-anak muda yang berada di sekeliling mereka adalah remaja yang baru mengalami pubertas.
"Menurutku tidak, lihat di sebelah sana juga ada sepasang orang tua." Haidar menatap ke arah sepasang lansia yang tampaknya sedang menikmati ice cream berdua.
Haidar balik menatap Hamna. "Na, kamu ingat tidak saat aku mengajakmu ke taman waktu itu?"
Ingatan Hamna berputar saat keduanya berada di taman kota 4 tahun silam. Ia mengangguk sebagai jawaban.
"Saat itu kamu mengatakan bahwa kamu tidak iri dengan pasangan muda yang sedang jatuh cinta, kamu lebih kagum pada pasangan orang tua, seperti yang di sana itu," tatapan Haidar jatuh pada pasangan tua itu lagi, Hamna ikut menatapnya.
__ADS_1
Tentu saja Hamna mengingat dengan baik apa yang dikatakannya dulu. Ia pun mengulum senyumnya membuat Haidar menatapnya bingung.
"Kenapa kamu tersenyum aneh begitu?" Hamna menggeleng. "Tidak ... " elaknya.
Waitress datang mengantar pesanan mereka. Haidar langsung menghirup aroma latte yang masih menguar lalu meminumnya pelan.
'Perasaan mungkin sesuatu yang cepat sekali berubah. Tapi satu hal yang kusadari sekarang adalah, perasaan jatuh cinta padamu tetap sama. Sederhana namun sangat berarti' batin Hamna masih sambil menatap Haidar dalam diam.
Haidar mengernyit lagi tatkala melihat Hamna yang kembali tersenyum diam-diam. Entah sudah berapa kali ia melihat Hamna yang mengulum senyum seperti itu.
"Jadi, apa yang membawamu ke sini?" tanya Haidar kemudian sedikit menyentak Hamna dari khayalannya.
"Ada satu hal yang ingin kukatakan," jawab Hamna. Ia mengaduk latte-nya pelan.
"Secepat ini? Ehm, maksudku, aku pikir kamu perlu waktu beberapa hari untuk merenungkannya dengan baik. Tunggu, tunggu sebentar, biar aku mempersiapkan hatiku dulu." Haidar tampak menarik napas panjang dan menepuk dadanya beberapa kali.
'Tidak. Kali ini aku tidak akan membiarkanmu menunggu, patah hati ataupun merasa kecewa lagi. Kali ini aku akan membuka seluruh hatiku untukmu dan memberikannya padamu,' batin Hamna. Setelah merenungkannya dengan baik, ia memang tak memiliki alasan apapun untuk menolak.
"Kenapa diam? Apakah sulit sekali untuk mengatakannya?" Haidar mulai tak sabar.
Hamna tak menjawab, ia justru menatap Haidar lekat. Haidar yang berada di hadapannya sekarang, bukan hanya laki-laki yang dulu hingga sekarang mencintainya. Tapi laki-laki yang bijaksana dan tulus ingin bersamanya. Perasaan Hamna menghangat.
'Perasaan dicintai seperti ini juga tak buruk. Mungkin memang sudah waktunya bagiku untuk memperjuangkan cinta dan kebahagiaanku sendiri' yakin Hamna.
"Aku ... Aku sudah mempertimbangkannya." Haidar menunggu dengan jantung berdebar. Ia yakinkan hatinya sekali lagi untuk menghormati apapun keputusan Hamna.
"Apa jawabanmu, Na? Katakanlah!" desaknya. Hamna menunjukkan jari manisnya, di sana cincin yang pernah Haidar berikan masih melingkar dengan cantik. Cincin berlian yang bahkan tak pernah dilepasnya.
__ADS_1
"Itu... Itu cincin dariku, kan?" Hamna mengangguk. "Tidak pernah sekalipun kulepas," katanya lagi.
Haidar terperanjat. "Itu artinya ... " Haidar tak bisa berkata-kata lagi. Linglung. Frasa yang dimilikinya seolah berlompatan keluar. Ia mencoba mencerna semuanya. Ia menatap jari manisnya, cincin yang sama juga melingkar di jarinya.
"Aku memang pergi, tapi tak pernah sehari pun melupakanmu. Kuakui aku egois, tapi demi bisa bersamamu, aku ingin membuktikan bahwa aku pantas," jelasnya. Kejujuran itu meluluhlantakkan Haidar.
"Dan selama ini, aku telah salah paham padamu. Aku pikir, kamu ... "
Hamna menggeleng. "Tidak apa-apa. Aku juga salah karena menyembunyikan kepergianku. Tapi, percayalah, Pak. Aku hanya ingin melihatmu bahagia ... "
"Apa kau tahu, Na? Selama 3 tahun ini apa saja yang telah kulalui untuk melupakanmu? Aku bekerja siang dan malam, dengan harapan agar aku bisa cepat melupakanmu. Tapi semuanya sia-sia, tiap kali aku beranjak tidur, yang kuingat tetap saja kamu."
"Dalam hati aku bertanya-tanya apa kurangnya aku sampai kamu memilih meninggalkanku? Apa yang belum kulakukan untukmu? 3 tahun, Na! 3 tahun aku tak bisa tidur nyenyak!" Hamna menyeka bulir yang tak sengaja jatuh.
"Maaf. Aku tahu itu pasti menyiksamu. Tapi, Pak. 3 tahun ini juga bukan hal yang mudah bagiku. Bukan kamu saja yang tersiksa oleh rindu dan prasangka yang mematikan logika. Aku juga sering terjaga tiap malam."
"Dan aku pikir, sudah cukup bagi kita untuk merasakan hal-hal pahit itu," Hamna menatap Haidar lekat. Pria itu kian berdebar, menunggu kata selanjutnya.
"Maukah Pak Haidar memulainya lagi dari awal?" Haidar tampak mengerjapkan matanya berkali-kali. "Ma-maksud? ... Maksud kamu apa, Na? Tolong ulangi dari awal!" pintanya.
"Ya, memulainya lagi dari awal," ulang Hamna. Kini kepalanya tertunduk malu. Haidar meraih dagunya, meminta Hamna untuk menatap matanya lebih jauh.
"Kamu ... Sungguh-sungguh?" Hamna mengangguk sebagai jawaban
"Aku tahu ini pasti tidak mudah diterima. Tapi kali ini ijinkan aku menebus semua rasa sakit, kekecewaan dan 3 tahun yang kita lewatkan."
Haidar menggenggam jemari Hamna kuat. "Aku ... Aku tidak bermimpi, kan?" Haidar menepuk pipinya pelan, perasaan ini seperti mimpi.
__ADS_1