141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Buku Apa yang Kamu Suka?


__ADS_3

Setelah kejadian itu, Haidar tidak pernah melepaskan pandangannya dari gadis itu. Keduanya berjalan bersisian layaknya sepasang kekasih. Orang-orang yang menatap keduanya pasti akan mengira bahwa Hamna dan Haidar adalah pasangan yang sangat serasi.


Setelah melewati pandangan mata-mata yang penasaran akan keduanya, akhirnya mereka memilih resto seafood. Nuansa restoran itu seperti benar-benar di laut. Temboknya dicat warna biru laut dan langit-langitnya berwarna biru cerah denga ornamen awan-awan putih.


Di tiap sudutnya terdapat akuarium besar dengan berbagai macam ikan hias yang kelihatan begitu cantik. Baik Hamna dan Haidar, keduanya sama-sama takjub.


Pramusaji restoran itu menghampiri keduanya dan menanyakan pesanan mereka. Hamna memesan kepiting dan udang untuk Haidar, dan untuk dirinya sendiri ia memesan ikan nila bakar, lengkap dengan dua minuman dingin. Setelah pramusaji mengantarkan pesanan mereka, keduanya makan dengan tenang.


"Bagaimana makanannya? Apa Pak Haidar suka?" tanya Hamna setelah mereka menumpuk piring-piring kotor itu. Sudah menjadi kebiasaan Hamna selepas makan, ia pasti menata piring-piring kotor bekasnya makan. Katanya, hal sekecil itu pun bisa membantu meringankan pekerjaan orang.


"Ya, saya suka, makanannya enak. Dari mana kamu tahu saya suka kepiting?"


"Oh ya? Padahal saya hanya asal pesan saja"


Hamna merasa bahagia karena pilihannya tepat. Setelahnya, Haidar memanggil pramusaji yang tadi dan menanyakan tagihannya, belum sempat pramusaji itu memberikan tagihannya, tangan Haidar dicekal oleh Hamna. "Saya yang bayar, Pak"


Keduanya berdebat perkara siapa yang akan membayarnya.


"Saya yang bayar, Na"

__ADS_1


"Biar saya saja"


"Gak bisa gitu dong, pokoknya saya yang bayar, titik!"


"No, no, no ... It's not fair. Kita split bill aja ya?"


"Gak mau. Begini saja, kita kasih acak kartu kredit kita terus biar Mbaknya yang pilih. Yang dipilih, dia yang bayar. How is it?"


Hamna tampak menimbang, "well, ya"


Keduanya meletakkan kartunya di meja, Haidar sudah menukar kartunya dengan cepat. Pramusaji itu tampak kebingungan, "bebas Mbak, gak usah ragu, yang mana aja terserah" ucap Hamna ketika dilihatnya pramusaji yang tampak kebingungan itu.


Akhirnya, pramusaji itu memilih kartu milik Haidar. Laki-laki itu tersenyum jumawa. Merasa menang atas Hamna. Hamna hanya bisa menarik napas, ia tak akan menang melawan dosennya sendiri. Setelah selesai, keduanya ke luar.


"Masih mau lanjut, Pak. Apa Pak Haidar gak capek? Kita ke toko buku bagaimana?" jawabnya, tanpa menatap Haidar.


"Capek? Apa itu? Saya masih bertenaga dan kuat begini. Gendong kamu pun saya masih kuat, lho. Mau coba?" godanya pada Hamna.


"Eh itu toko bukunya di depan. Ayo, Pak!"

__ADS_1


Dengan penuh minat, Hamna menatap rak-rak buku di depannya. Haidar mengikutinya dari belakang. Matanya pun turut tertarik pada rak yang berisi beraneka ragam buku itu. Diperhatikannya Hamna yang tampak bersemangat menghampiri rak satu persatu.


Sesaat tangannya mengambil buku, membacanya sekilas lalu meletakkannya kembali. Kadang, gadis itu mengernyitkan kening ketika buku yang diambilnya nampak tak sesuai dengan harapannya.


Sedang Haidar masih sabar mengikutinya, laki-laki jangkung itu kadang diam-diam memotret Hamna yang sedang fokus membaca atau ketika gadis itu jalan berpindah dari satu rak ke rak yang lainnya. Semua foto yang diambilnya tampak cantik.


"Kamu suka baca buku yang seperti apa, Na?" tanya Haidar tiba-tiba ketika mereka berada di rak buku-buku novel.


"Emm-," Hamna tampak berpikir, ia tidak pernah menentukan bacaan apa yang seharusnya ia baca. Selama ia merasa buku itu bagus untuk dibaca, maka ia akan membacanya. "Saya bisa membaca buku apapun, self improvement, motivasi, ekonomi dan bisnis yang paling sering. Oh, ya, kadang-kadang juga buku ma ... "


"Yang paling suka kamu baca ketika jenuh, misalnya?" Haidar memotong ucapannya.


"Novel or love stories, urban fantasy, fan fiction, horror mystery, something else"


"Really? Saya kira kamu hanya membaca modul saja"


"Hanya untuk membunuh waktu, saya rasa" jawabnya, lalu ia fokus kembali pada buku-buku yang dilihatnya.


Tanpa bosan, Haidar memandangi wajah lugu Hamna, wajah yang ia tahu menyimpan duka yang kedalamannya tak dapat dijamah oleh siapapun. Tapi ia juga tahu, gadis yang berdiri di sampingnya sekarang adalah sosok yang kuat bagai karang, meski karam ia tak mungkin tenggelam.

__ADS_1


Orang-orang yang tak tahu kisahnya akan mengira bahwa ia hanya gadis biasa yang tak memiliki beban apa-apa. Padahal yang Haidar tahu, Hamna adalah gadis yang hebat dalam menyimpan luka. Tak pernah ia membiarkan seorang pun melihatnya menangis. Tapi sampai kapan ia mampu membendung semua kesedihannya?


Hal itu pula yang membuat Haidar selalu ingin berada di sampingnya, menariknya dari kedukaan, mengusir semua kesepian yang dimilikinya dan memberinya kebahagiaan yang sebelumnya tak pernah ia dapatkan. "Hamna, aku mencintaimu. Aku ingin membuatmu bahagia. Tolong beritahu aku bagaimana caranya?" batin Haidar.


__ADS_2