141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Sesak yang Terlepas


__ADS_3

"Kalian sepertinya cukup dekat, kamu memungutnya dari kampung mana?" Sarkas Hayan kepada Haidar, laki-laki yang tengah menikmati makanannya itu tiba-tiba terdiam, diam menahan marah.


Fawwaz lebih dulu menggertak, "Hayan, jaga bicaramu!"


"Kenapa? Bukankah gadis itu memang seorang gadis kampung? Sama sekali tidak pantas masuk ke dalam keluarga Musyaffa" tantang Hayan. Suasana makin memanas saat Haidar menggebrak meja dengan keras. Fawwaz menghela napasnya kasar lalu memerintah istrinya. "Anna, tolong bawa ipar-iparmu ke atas" Hannah mengangguk, lalu semua perempuan beranjak dari sana.


"Ya, aku juga penasaran sekali, kamu bertemu dengannya di mana? Bagaimana latar belakang keluarganya? Apa nama perusahaan keluarganya? Dan bisnis mereka bergerak dalam bidang apa?" Kali ini, Youssef yang bersuara.


Haidar masih diam, semata karena ia masih menghormati kedua pamannya itu. Hayan tertawa sumbang, "Youssef, apa kau tidak mengerti? Tidak perlu menanyakan latar belakang keluarga, perusahaan atau apapun. Karena sudah sangat jelas darimana gadis itu berasal" Haidar makin tak bisa menahan amarahnya, ia maju hendak menghampiri Hayan dan Youssef tapi Fawwaz menghalanginya.


"Duduk, biar Ayah yang mengurusnya" ujarnya, tapi Haidar tak bisa. "Haidar tak tahu kalau mulut seseorang bisa berbau begitu busuk. Sejak kapan keluarga Musyaffa jadi begitu rendah? Paman bahkan terdengar sangat menjijikkan sekarang, cuih" katanya menghina.


"Jaga bicaramu Haidar!!!" Sentak Youssef marah. Fawwaz tampak memijit pelipisnya, masalahnya jadi semakin rumit baginya.


"Tidak apa, Youssef, dia masih muda dan tidak akan mengerti. Cinta yang dia banggakan tak akan pernah membawanya ke manapun. Cinta hanya akan membuatnya buta dan menumpulkan logika. Dia seolah lupa jika orang-orang hanya akan memandang jabatan dan kekayaan saja" jelas Hayan jumawa.

__ADS_1


"Cih! Paman berkata seperti itu seolah Paman Hayan akan terus hidup bersama jabatan dan kekayaan itu" balas Haidar semakin berani. Fawwaz menatap anaknya itu dalam diam, ada perasaan kecewa merayapi hati kecilnya sebagai Ayah. Ia tidak menyangka anaknya bisa bicara kasar seperti itu. Namun ia juga sedikit bangga, Haidar tahu bagaimana caranya membalas perlakuan orang yang merendahkan dirinya.


Hayan dan Youssef tampak menahan kekesalan mereka, keponakan mereka ternyata sudah lebih lancang. "Terserah saja Haidar. Yang pasti pamanmu ini sudah mengingatkan dirimu, cinta hanya akan membutakanmu!" sentak Hayan lagi.


"Itu akan terjadi jika seseorang mencintai secara membabi buta dan menangguhkan logika yang ada. Cinta tidak akan membutakan mata seseorang dalam melihat kebenaran, jika ia tahu ke mana cintanya mengarah" seru Hamna yang sedari tadi memerhatikan pembicaraan keempat laki-laki itu dalam diam.


Semua laki-laki itu menatap Hamna terkejut, tak menyangka gadis yang sedang berdiri tegak di tengah-tengah mereka bisa berbicara begitu tegas soal cinta. Semuanya mematung.


Hamna mendekati Hayan lalu tersenyum sepintas. "Maaf jika Hamna lancang, Paman Hayan ... Tapi, Hamna punya satu pertanyaan ... " Ia menjeda ucapannya. Semua orang menunggu dengan jantung berdebar. Sungguh, entah karena apa, suasana menjadi lebih menegangkan dibanding saat mereka berempat berseteru tadi.


Hamna tertawa sumbang, ia mundur beberapa langkah. "Pantas saja Paman Hayan begitu angkuh. Hamna pikir, malam ini Hamna bisa menjalin hubungan kekerabatan yang baik atau belajar sesuatu dari kalian semua. Tapi ternyata ... Keluarga Musyaffa yang terhormat sama saja dengan keluarga kaya pada umumnya ... Angkuh, senang merendahkan orang lain dan menganggap status lebih dari segalanya. Memalukan!"


Ia menatap mata keempat pria itu bergantian. Seolah kehabisan kata, semuanya terdiam, termasuk Haidar. Ia sungguh merasa bersalah telah menempatkan Hamna pada situasi pelik malam ini.


"Oh ya, tadi Paman Hayan mempertanyakan keluarga Hamna, kan? Awalnya, meski paman tidak memperlakukan tamu dengan baik, setidaknya Hamna harus memperkenalkan diri dengan layak. Tapi, sepertinya sekarang hal itu hanya akan sia-sia saja bukan? Karena orang yang selalu memandang rendah seseorang, meskipun telah dijelaskan tetap tidak akan mengerti, ia akan tetap merendahkan orang itu sampai akhir! Hamna benar, bukan?" Ujarnya, dan tak ada satupun yang berani membuka mulutnya.

__ADS_1


Hamna menarik napas sebentar sebelum melanjutkan orasinya. Entah karena apa, malam ini, ia ingin mengeluarkan semua sesak yang bersarang di dadanya. "Maaf sekali, Hamna sangat menghormati orang yang lebih tua. Tapi saat ada orang yang mengatakan status orang lebih rendah, Hamna tidak bisa menerimanya begitu saja. Ayahku pernah berkata, di mata Tuhan, semua manusia itu sama, tak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi, tak ada yang lebih buruk atau lebih mulia, tak ada si miskin atau si kaya ... " Hamna menjeda ucapannya, mengingat mendiang Ayahnya, tiba-tiba bulir air matanya turun tanpa ijin.


Haidar yang menyadari kesedihan Hamna bergegas memberinya tisu dan mengusap lembut pundaknya. "Maafkan saya, Na, maaf ... " bisiknya, namun masih bisa didengar oleh Hamna.


Setelah menyeka air matanya, Hamna melanjutkan lagi ucapannya. "Orang yang selalu memandang dunia dengan tinggi, tak akan mampu memahami nilai cinta dan hubungan dengan baik. Tapi ... Ada satu hal yang Hamna kagumi dari kalian, meskipun kalian menggilai tahta dan harta, setidaknya kalian tahu caranya memperlakukan istri-istri kalian dengan baik. Hamna akan menganggap itu sebagai nilai plus kalian" katanya lugas.


Baik Fawwaz, Haidar, Hayan ataupun Youssef terdiam kaku, malam ini mereka benar-benar telah meremehkan seorang Hamna. Malam ini mereka menyadari sesuatu berkat Hamna. Gadis itu mengambil tasnya dengan cepat. "Maaf, paman-paman semuanya, Hamna harus pulang sekarang. Terima kasih atas jamuannya malam ini. Permisi" pamitnya lalu pergi dengan getir. Haidar berlari mengejarnya.


"Hamna ... Tunggu sebentar, Na!" Panggilnya. Namun Hamna terus berjalan tak memedulikan Haidar yang tengah memanggil dan mengejar langkahnya. Setelah jaraknya dekat dengan Hamna, laki-laki itu meraih lengan Hamna membuat gadis itu berhenti sejenak. Ia menggenggam jemari Hamna lembut, "saya akan mengantarmu pulang"


"Tidak perlu, Pak. Saya bisa pulang sendiri. Oh ya, tolong sampaikan salam saya kepada Ibu dan para Bibi, ya. Maaf sekali tidak bisa berbincang dengan mereka. Lain kali saya pasti akan menyempatkan waktu untuk berkenjung" katanya tersenyum getir.


"Hamna ... Maafkan saya, ya? ... " Katanya pelan, namun Hamna tak menjawab, gadis itu hanya menatap Haidar dingin. Haidar lalu melepas genggamannya dan membiarkan Hamna pergi. Sebenarnya Haidar tak rela, hatinya merasa sakit melihat Hamna yang terluka. "Baiklah ... Hati-hati, ya. Kabari saya kalau sudah sampai rumah" Hamna mengangguk lalu berjalan pergi meninggalkan Haidar di ruang tamu.


"Maaf, Na. Maaf telah melibatkanmu dalam masalah keluargaku. Maaf telah menyakitimu malam ini. Aku janji akan menebusnya nanti, semoga kamu dapat memaafkanku malam ini" ucap Haidar bermonolog.

__ADS_1


__ADS_2