
"Hamnaaa... Aku kangen banget, lho sama kamu" teriak Shafiya seraya memeluk Hamna erat. "Gimana kabarmu? Pak Haidar itu curang, ya. Masa cuma dia yang berhak ada di sampingmu, bahkan aku yang sahabatmu pun tidak dibolehkan menemuimu" keluh Shafiya.
Sepuluh hari terakhir, Haidar benar-benar tidak mengijinkan Hamna keluar, dan selama itu pula Haidar menemani Hamna menyelesaikan skripsinya.
Haidar akan datang di pagi harinya membawakan buku atau jurnal untuk dibaca Hamna sebagai referensi, dan malam harinya ia akan kembali untuk membantu Hamna merampungkan penelitiannya.
"Sebenarnya, dia hanya ingin aku fokus pada tugasku saja. Berkat Pak Haidar aku bisa menyelesaikan tugasku tepat waktu... Oh ya, bagaimana kabar Bibi Ayuna? Apakah sidangnya berjalan lancar? Bagaimana kelanjutannya?" tanya Hamna hati-hati.
Shafiya tampak menarik napas kasar. "Kabar Bunda cukup baik, sidang pertamanya berjalan sangat lancar, kami tinggal menunggu surat panggilan untuk sidang kedua. Setelah itu, mereka akan benar-benar resmi ... berpisah" ujar Fiya tersenyum kecut.
Di antara banyaknya hal yang tak bisa Fiya terima, perceraian Ibu dan Ayahnya-lah yang paling membuat Fiya terpukul. Tak pernah ia menyangka akan mengalami situasi pelik semacam ini. Di mana ia harus memilih antara Ayah dan Bunda yang sama-sama ia sayangi. Sebulir hujan turun dengan mulus di pipi Shafiya. Sesak yang bercampur sedih.
__ADS_1
"Shafiya ... " panggil Hamna lirih, ia tak tega melihat sahabatnya itu murung padahal Shafiya adalah orang yang sangat ceria, bahkan ketika Hamna merasa sedih dan kesepian, Shafiya adalah orang pertama yang menyeka air matanya dan menemaninya. Tanpa bertanya, Hamna menarik sahabatnya itu dan memeluknya. Shafiya menangis sejadi-jadinya dalam dekap Hamna. Ia menumpahkan semua tangisnya di sana.
"Aku bersamamu, Fiya. Aku bersamamu. Sampai kapanpun. Jangan bersedih lagi, ya." bujuk Hamna. Keduanya tak lagi memedulikan pandangan sekeliling yang menatap mereka heran. Hingga beberapa menit berselang, tangis Shafiya mereda. Ia menyeka pipinya yang basah oleh lelehan air mata.
"Na, aku hanya tidak menyangka, jika cinta Ayah dan Bundaku akan secepat ini berakhir. Dan bodohnya aku, sama sekali tidak mengetahui buruknya Ayahku. Aku bodoh karena tidak menyadari rasa sakit Bundaku selama ini, Na. Aku merasa, aku penyebab kesedihan Ibuku. Apa kesalahanku sampai Tuhan menghukumku begini?" ucapan Shafiya benar-benar menyayat hati kecil Hamna. Apakah sahabatnya ini benar-benar menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi?
"Tidak, Shafiya. Jangan berkata begitu, Tuhan tidak menghukummu untuk itu. Kamu juga bukan penyebab perceraian Bunda dan Ayahmu. Dalam pernikahan, cinta bisa habis, begitu juga dalam pernikahan Bunda dan Ayahmu, cinta keduanya terkikis karena keduanya tak bisa merawatnya dengan baik."
Fiya mengangguk, "kamu benar, Na. Jika Bunda tetap bertahan dalam pernikahannya, aku tidak tahu akan sebesar apa lagi rasa sakitnya. Lebih baik meninggalkan sesuatu yang menyakiti kita dibanding terus terluka atas nama cinta. Ya kan, Na?" tanyanya menatap Hamna, gadis itu mengangguk memberikan senyum tipisnya pada Fiya.
"Kamu sudah mulai dewasa" ujar Hamna. Keduanya tertawa bersama seolah kesedihan langsung lenyap dengan tawa mereka. "Terima kasih, Na" ucap Shafiya yang diangguki oleh Hamna. Kini, ia merasa lega karena sahabatnya itu kembali merekahkan senyumnya.
__ADS_1
•••••
Happy Reading...
Jangan lupa dukungannya ya agar Author lebih semangat untuk menulis!
With Love,
Author
— HK
__ADS_1