141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Genting


__ADS_3

"Ini kopi dan kuenya, selamat menikmati. Permisi." Pramusaji itu undur diri setelah meletakkan pesanan mereka di meja.


"Saya tidak tahu kalau Pak Haidar memesan kue keju" ujar Hamna, tangannya memotong kue keju lebih dulu dan memasukkan satu suapan ke mulutnya, "hmm, enak dan lembut" ucapnya merasakan tekstur kue di mulutnya.


"Suka? Ini makan juga punya saya" Haidar menyodorkan kue keju bagiannya kepada Hamna. Laki-laki itu kembali menatap wajah Hamna yang kembali merekah. Ia tersenyum senang. Laki-laki itu bersyukur dalam hati, sepertinya Ibunya benar, kue bisa mengubah suasana. Terlebih lagi, perempuan adalah pemakan yang hebat.


Hening menyelimuti keduanya. Hamna masih asyik memakan kue kejunya, menghabiskan semuanya sendirian. Haidar terkekeh melihat tingkah Hamna, ia pun turut menikmati kopinya. Baru seteguk ia meminumnya, tiba-tiba Hamna terbatuk, tersedak kue yang sedang dimakannya.


"uhuk ... uhuk ... minum ... minum"


"Astaghfirullah, Na. Ini minum kopimu, pelan-pelan" Haidar memberikan cangkir kopinya sembari menepuk-nepuk pundak Hamna pelan.


"Pelan-pelan saja makannya, Na. Tidak akan ada yang merebut kuemu, ya ampun, kamu sampai tersedak, kan" celoteh Haidar, saat batuk Hamna mereda ia memberikan sapu tangan miliknya dan memberikannya kepada Hamna.

__ADS_1


Gadis itu agak tertunduk malu, "maaf" lirihnya, lagi-lagi ia membuat dirinya sendiri malu di hadapan dosennya itu. "Apa aku makan terlalu cepat? Oh ya ampun, aku tidak sadar. Tapi kuenya benar-benar enak sampai aku tidak bisa berhenti. Ya Tuhan, aku malu sekali" gerutunya dalam hati.


"Bagaimana? Sudah merasa lebih baik?" Haidar bertanya, gadis itu hanya mengangguk, "ya, terima kasih, Pak"


Dering ponsel Hamna mengalihkan pandangan keduanya. Gadis itu mengangkat ponselnya, di layarnya tertera nama Shafiya, ia cepat-cepat menerima panggilan itu.


"Hamna, hiks ... tolong aku, huhuhu ..." terdengar suara Fiya yang tergugu ketika Hamna menjawab teleponnya.


Nada bicaranya yang parau membuat Hamna khawatir. "Kenapa?" tanya Haidar tatkala melihat raut wajah Hamna yang berubah seketika.


Gadis itu sesenggukan di seberang telepon, berusaha menahan tangisnya, "Bunda ... Bundaku ... Pingsan, huhuhu ... "


"Ya Rabb, kamu tenangkan dirimu dulu, ya. Sekarang kamu di mana? Di rumah? Oke, aku segera ke sana ya. Sekarang kamu panggil si Bibi dulu, terus kamu rebahkan Bundamu dulu, ya. Aku akan cepat ke sana"

__ADS_1


"Iya, Na. Kamu tolong cepat ke sini, ya. Aku takut, Na."


"Iya, iya, aku ke sana sekarang" lalu telepon ditutup.


"Shafiya kenapa?" Tanya Haidar kembali. Wajah Hamna tampak panik. "Bibi Ayuna pingsan. Saya harus ke sana sekarang, Pak. Permisi" katanya lalu berlalu.


Tapi Haidar menangkap pergelangan tangannya, "kamu mau ke sana sendiri?"


"Iya, Pak, tolong lepas, saya harus cepat-cepat ke sana. Fiya membutuhkan sa ... "


"Ayo saya antar!" ujar Haidar, lalu ia menarik tangan Hamna. Gadis itu terdiam.


Keduanya memasuki mobil, "oh ya, Na. Lebih baik kamu hubungi dokter dulu" perintah Haidar. Hamna mengangguk, ia mengambil ponselnya dan mencari-cari nomor yang biasa ia hubungi di saat genting.

__ADS_1


Keduanya melaju, membelah jalan dengan gelisah yang menyertai. Hamna berusaha menenangkan dirinya sendiri. Gadis itu benar-benar dibuat gusar oleh Fiya. "Apalagi yang terjadi? Semoga baik-baik saja, tapi kenapa Bibi Ayuna bisa pingsan?" Hamna bertanya-tanya dalam hati.


Haidar memerhatikan gadis itu, meski tampak tidak peduli pada apapun, tapi pada saat-saat tertentu ia benar-benar memikirkan orang lain. Gadis itu bahkan tidak memikirkan dirinya sendiri. Begitu menerima kabar, ia langsung akan pergi, tidak berpikir akan pergi dengan apa.


__ADS_2