141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Menjaga Cameron


__ADS_3

Hamna tampak sibuk dengan pekerjaan barunya, menjaga Cameron. Semalam Catharine meneleponnya dan meminta izin kepada Hamna untuk menjaga Cameron selama beberapa hari. Hamna menyetujuinya, lagipula pekerjaannya tidak terlalu banyak. Hanya sedikit masalah internal perusahaan saja, tidak akan terlalu menyulitkannya.


Pagi ini dengan dibantu Alice, Hamna membawa serta Cameron ke kantornya. Para staff yang tak sengaja bertemu mereka menyapa dan bertanya. "Bu Nana, bayi siapa ini? Lucu banget," ujar salah satunya mengagumi kelucuan Cameron.


Hamna tersenyum. "Keponakanku, namanya Cameron." Mereka bergantian mencubit pipi bayi laki-laki itu, gemas. Mata kebiruannya yang mengerjap membuat mereka semakin gemas.


"Bu, sebentar lagi pemegang saham dan mitra lainnya akan datang untuk membahas desain bangunan dan final rancangannya." Alice mengingatkan jadwal Hamna hari itu.


Hamna mengangguk sambil mendorong stroller Cameron menuju lift. "Departeman desain sudah memberi kabar?"


"Sudah, Bu, katanya mereka juga akan hadir untuk membahas final desainnya agar bisa langsung dibuatkan replikanya."


"Bagus, selama aku rapat, kamu tolong carikan orang untuk menjaga Cameron, bisa kan?" pinta Hamna.


Alice tampak menimbang. "Maaf, Bu Nana, jika Alice lancang. Kenapa Ibu membawa anak ini ke kantor? Bukankah kehadirannya justru akan mengganggu pekerjaan Ibu?" tanya Alice mengutarakan kecemasannya.


"Ibunya sedang ada urusan, aku agak cemas jika meninggalkannya dengan nanny. Lebih baik jika aku membawanya bersamaku. Lagipula Cameron anak yang lucu dan jarang menangis, tidak akan terlalu mengganggu pekerjaanku. Sudahlah, nanti kamu bantu aku carikan staff yang tidak sibuk."


"Baik, Bu. Maaf jika Alice lancang. Alice khawatir direksi akan membicarakan Ibu yang tidak-tidak. Alice takut kejadian itu terulang lagi," tutur Alice sedikit ragu.


"Kamu tenang saja," ujar Hamna menenangkan. Pintu lift terbuka. Keduanya langsung berjalan menuju ruangan Hamna bersama dengan Cameron.


"Kamu tahu, Alice? Sama sepertimu, Ibunya Cameron juga sudah banyak membantuku. Menjaga Cameron hanyalah salah satu caraku membalas kebaikannya. Coba pikirkan, jika seseorang telah banyak membantumu. Apakah kamu akan ragu membantunya?" tanya Hamna sambil terus mendorong stroller Cameron.


"Tentu saja Alice tidak akan ragu, Bu. Baiklah Alice pergi sekarang, ya. Nanti Alice kabari Ibu jika para shareholder dan bagian departemen desain sudah datang," jawab Alice lalu meninggalkan Hamna dan Cameron di sana.


Dalam cara apapun, Alice sepertinya selalu bisa melihat dan mendapatkan kebaikan dari Hamna. "Bu Nana sangat baik, orang yang memilikinya pasti sangat beruntung," gumamnya tanpa sadar.


"Asisten Alice!" panggil Erick. Gadis yang tadi termenung itu sontak menoleh.


"Eh, ya, Pak Erick. Ada yang bisa saya bantu?"


"Bu Nana ada di ruangannya?"

__ADS_1


Alice tampak memiringkan kepalanya, melihat sosok yang sedang menelepon di belakang Erick. Alice mengangguk.


"Bu Nana baru saja datang, sekarang ada di ruangannya," jawab Alice seraya tersenyum manis. Sesekali mencuri pandang pada Erick. Setelah itu, Alice berlalu dari sana.


"Pimpinan, Presdir sudah ada di ruangannya."


"Aku tahu, kamu pergilah temani Alice mencari staff untuk menjaga Cameron," pinta Haidar. Awalnya Erick tampak bingung namun sedetik kemudian ia undur diri dan mengejar Alice.


"Anak muda memang bersemangat," kekehnya lalu berlalu dari sana.


***


"Saya ucapkan selamat datang kepada para pemegang saham untuk proyek pembangunan hotel di kawasan Mariott. Hari ini kita akan membahas rancangan final desain sekaligus pengukuhan." Hamna menunjukkan diagram di layar proyektor.


Membahas rancangan serta yang lain-lain. Saat sedang bekerja, Hamna sangat teliti. Bahkan untuk pengukuran dan detail-detail pada proyek kali itu juga dibahasnya secara rinci. Ia tak ingin sampai mitranya merasa kecewa.


Dari mejanya, Haidar memerhatikan Hamna dengan seksama. Haidar teringat, saat di kampus Hamna juga seperti ini, sangat serius saat memberikan presentasi. Semua poin-poin penting dari presentasinya akan ia jelaskan hingga semua pesertanya mengerti.


"Dia jauh lebih mengagumkan dari 4 tahun lalu. Gadis yang selalu membuatku merasa bangga bisa mencintainya," gumamnya dengan jantung yang berdebar.


Tuan Sam tersenyum padanya. "Bu Hamna kelak kabari saya jika Anda memiliki proyek lagi. Saya tidak akan ragu untuk bekerja sama," ungkapnya tulus.


Hal yang sama juga diungkapkan Kaivan. "Tanaya sudah memberitahuku sebelumnya bahwa aku tidak akan salah memilih mitra. Hari ini aku membuktikan keyakinan istriku, presentasi dan rancanganmu benar-benar luar biasa," pujinya. Hamna tersenyum hormat.


"Senang mendapat kehormatan itu, Pak Syahreza," timpal Hamna tanpa mengurangi rasa hormatnya.


"Haidar itu orang yang observatif dan berpikiran panjang, selama aku bekerja sama dengannya, tak ada satu pun dari keputusannya yang keliru. Aku tak heran jika dia bisa memilihmu," bisik Kaivan yang membuat Hamna tersipu.


Setelah itu, Kaivan berpamitan pergi. Tanaya dan anaknya sudah menunggunya untuk jalan-jalan berkeliling Los Angeles.


"Mau ke mana Kaivan? Dan apa yang dia katakan padamu tadi?" selidik Haidar merasa cemburu dengan Kaivan.


"Eh itu, Pak Kaivan hanya mengucapkan selamat saja," jelas Hamna. Ia kemudian menarik Haidar untuk kembali ke ruangannya.

__ADS_1


"Merasa cemburu?" kekeh Hamna yang dijawab anggukan singkat Haidar.


"Lucu sekali."


"Aku? Lucu? Sungguh?"


"Iya, seperti kelinci." Hamna berkelakar. Tawanya yang ringan menggema. Memenuhi indra pendengaran Haidar.


'Sejak kapan dia bisa tertawa begitu indah?' pikir Haidar, melihat Hamna yang begitu gembira, ia juga turut bahagia.


"Bu Nana! Cameron ... " Alice terengah membuka pintu. Tawa yang sebelumnya menggema berganti kekhawatiran.


"Ada apa, Alice?" tanya keduanya bersamaan.


Alice tampak menarik napasnya panjang. "Alice tidak tahu, tapi Cameron menangis kencang daritadi. Para staff berusaha menenangkannya, tapi tak ada yang bisa," jelas Alice. Wajahnya berpeluh lelah.


Kemudian Hamna berlari ke ruangannya, Cameron masih menangis kencang. Ia langsung menggendong Cameron, membawanya dalam dekapan seorang Ibu.


"Cameron, Sayang, aku di sini, Nak. Cameron kenapa?" Hamna menimang Cameron layaknya seorang Ibu yang tengah menenangkan bayinya.


"Di mana susunya? Apakah dia sudah minum susu? Sudah diganti popoknya?" cecar Haidar. Para Staff terdiam. Tak berani membuka suara.


Mereka awalnya hanya membantu Hamna menjaga Cameron. Namun salah satu dari mereka karena gemas, tak sengaja mencubit pipi Cameron hingga bayi itu menangis keras.


"Sudahlah, terima kasih sudah membantuku. Kalian kembalilah bekerja," ucap Hamna pada akhirnya meredakan situasi. Ia masih menimang Cameron dan memberinya susu.


"Alice, kamu juga, kembalilah bekerja. Aku bisa mengurus Cameron. Tolong gantikan aku memeriksa beberapa berkas, ya." Alice menggangguk. Sama seperti yang lain, ia kembali ke ruangannya.


"Na ... " panggil Haidar pelan, Hamna menyahutinya sambil mendudukkan dirinya di sofa bersama Cameron.


"Aku salah sebelumnya. Menjaga anak, mengurusnya dan mendidiknya ternyata bukan pekerjaan yang mudah, ya?" ujarnya merasa bersalah. Kemarin ia berceletuk asal.


Dalam buaian Hamna, Cameron sudah tenang dan kembali tertidur. Hamna kembali meletakkannya ke stroller.

__ADS_1


"Memang tak mudah. Makanya nanti Pak Haidar juga harus berusaha membantuku merawat anak-anak," celetuk Hamna asal. Tangannya sibuk menyelimuti Cameron, memastikan bayi itu nyaman dalam tidurnya.


'Membantunya merawat anak-anak, apakah Hamna bermaksud?' pikir Haidar. Tiba-tiba wajahnya merona. "Jika begitu maksudnya, bukankah itu artinya dia setuju untuk menikah denganku?" desisnya merasa senang.


__ADS_2