
Fawwaz berdiri dengan gagahnya, di sisi kirinya, Hannah berdiri setia sambil mengedarkan senyuman cerahnya. Menemani sang suami dalam segala kondisi, memberi dukungan dan cinta yang semestinya.
Fawwaz berucap terimakasih kepada para tamu undangan yang telah hadir. Lalu acara itu pun dimulai. Fawwaz dan Hannah memotong kue dan saling menyuapi satu sama lain. Ya, meski pernikahan mereka telah terhitung 30 tahun, kemesraan itu tetap ada.
Keduanya memang benar-benar menjaga cinta, kasih sayang dan kepercayaan. Tiga hal yang dipegang teguh Fawwaz dan Hannah sebagai pondasi pernikahan mereka.
Pertengkaran dan perdebatan tentu ada dalam suatu pernikahan, tapi sebagai suami dan istri yang saling mendedikasikan diri. Pertengkaran itu seharusnya tidak menjadi hal yang menggoyahkan pernikahan.
Lalu, pasangan suami istri itu mempersilakan para tamu untuk menikmati acara dan hidangan yang tersedia. Riuh tepuk tangan mengiringi keduanya begitu mereka turun.
El sudah dijemput Ibunya 15 menit yang lalu. Sedangkan Haidar sibuk menjamu tamu-tamu yang datang. Fawwaz sibuk berbincang dengan koleganya, tak terkecuali Hannah, perempuan yang jadi bintang utama itu langsung dikelilingi para perempuan seusianya.
Dan di sinilah Hamna, duduk terpekur sendirian menikmati kue-kue yang ada tanpa minat. Ia cukup tahu diri untuk tidak bergabung ke dalam lingkaran itu.
__ADS_1
Ia belum cukup pantas untuk masuk dan membaur. Gelar bisnis baru saja disandangnya, butuh setidaknya lima tahun untuk ikut perbincangan di antara tamu-tamu tersebut.
"Saya lihat, kamu cukup dekat dengan Haidar akhir-akhir ini," ujar seseorang yang entah kapan sudah duduk di hadapan Hamna. Memaksa gadis itu mengingat siapakah yang tengah berbicara.
"Maaf, Tuan. Sepertinya Anda salah orang." Hamna beranjak begitu ingat siapa yang ada di hadapannya. Pria di hadapannya adalah salah satu paman Haidar yang beberapa waktu lalu menghinanya.
Tak ingin mengulang hal yang sama, Hamna lebih baik pergi. Namun sepertinya pria itu telah menargetkan Hamna sebelumnya.
"Gadis yatim sepertimu tidak pantas untuk masuk ke dalam keluarga Musyaffa kami. Tak peduli apakah Haidar menyukaimu atau tidak, jangan pernah berharap lebih," cercanya pada Hamna.
"Cih! Gadis yatim sepertimu memang munafik! Di mulut berkata tidak, tapi siapa yang tahu apa niatmu sebenarnya?" ejeknya lagi. Syukurnya ini adalah acara Tuan dan Nyonya Musyaffa, jika bukan, Hamna benar-benar ingin menampar Paman Hayan di hadapannya itu.
Hamna hanya mampu tersenyum simpul, ia sudah sering menghadapi orang-orang yang meremehkan orang lain seperti Paman Hayan. Dan cara terbaik membalas hinaan orang semacam itu adalah dengan menyerangnya balik!
__ADS_1
"Tuan, saya tidak pernah melihat seorang pria dari keluarga terhormat yang bicaranya lebih banyak dari Anda. Saya pikir, bukankah seharusnya Anda ada di antara mereka, berbincang soal bisnis dan pencapaian luar biasa yang setidaknya pernah Anda raih," tutur Hamna yang langsung membuat Hayan kesal.
Pria itu pergi dengan menghentakkan kakinya kesal, melenggang dari hadapan Hamna sebelum gadis itu bicaranya lebih banyak. Hamna tampak puas, Hamna memang diam tapi bukan berarti akan tetap diam jika seseorang menghina harga dirinya. Harga diri perempuan harus dijunjung tinggi-tinggi!
"Ayah, Ibu... Jika kalian masih ada, eh-tidak! Kamu tidak boleh sedih, Na. Ayah dan Ibu pasti bangga kamu bisa berdiri sekuat ini sekarang," lirih Hamna menguatkan dirinya sendiri.
Hinaan semacam itu memang sering terdengar oleh Hamna. Dan sejauh yang ia dengar, hinaan itu tak pernah dihiraukannya. Tapi hinaan yang dilayangkan Hayan benar-benar mengusik hatinya.
Setelah itu, Hamna pergi dari sana dengan hati terkoyak. Ia bahkan tak berpamitan pada Haidar atau pun orang tuanya. Ia berjalan dengan derai air mata.
Sehina itukah menjadi yatim? Jika Hamna bisa meminta, Hamna juga ingin sebuah keluarga yang utuh. Tapi bisa apa ia di hadapan takdir selain menerima?
"Aku kira bertemu dengan Pak Haidar adalah hal terbaik. Namun ternyata aku salah, bertemu dengannya justru merobek lukaku lebih dalam," cicitnya merasa getir.
__ADS_1
Untuk terakhir kalinya sebelum pergi, ia berjanji tak akan mendatangi rumah ini. Ia lalu masuk ke dalam mobil yang sudah dipesan sebelumnya. Lalu pergi meninggalkan kediaman Musyaffa.