
"Shafiya?" panggil Haidar kembali. "Eh, iya, Pak. Saya bisa saja menceritakannya, tapi apakah bisa Pak Haidar berjanji kepada saya satu hal?"
"Apa itu?" jawab Haidar menyanggupi. Namun Shafiya tampak meragukannya. "Katakanlah, Shafiya. Jika itu menyangkut Hamna, akan saya lakukan," kata Haidar lagi, kini di matanya menyorotkan keseriusan yang membuat Shafiya yakin.
Shafiya mengangguk. "Baik, Pak. Pak Haidar juga pasti tahu, sebagai sahabatnya saya hanya ingin yang terbaik baginya. Saya harap Pak Haidar bisa berjanji, Pak Haidar tak akan meninggalkan Hamna atau pun mengabaikan Hamna setelah tahu kebenarannya," terang Shafiya.
Haidar masih mendengarkan dengan baik. "Jika sekali saja Pak Haidar melukai Hamna atau membuat Hamna menangis, percayalah, saya orang pertama yang akan menghadapi Pak Haidar," lanjut Shafiya lagi, nada bicaranya terdengar tak main-main.
Sejak awal mengenal Hamna dan Shafiya, Haidar sudah bisa menilai bahwa Shafiya adalah tipe teman yang selalu mendukung temannya, tak peduli dalam keadaan apapun.
Hal itu bisa Haidar lihat dari sikapnya Shafiya terhadap Hamna. Mendengar penuturan Shafiya itu membuat Haidar sedikit bergidik ngeri.
Namun, jangankan menyakiti Hamna. Melihat Hamna yang murung saja, Haidar tak tega. Bahkan, sampai saat ini, Haidar-lah yang paling mengkhawatirkan Hamna.
"Pak Haidar bisa berjanji, kan?" ulang Shafiya kembali memastikan.
__ADS_1
Haidar mengangguk mantap. "Iya, Shafiya El-Qamar. Saya, Haidar Musyaffa Khairullah berjanji tidak akan pernah menyakiti sahabatmu, Hamna Nafisa Zubair," ujar Haidar serius, membuat Shafiya menahan senyum.
Haidar menegakkan punggungnya, siap mendengarkan ceritanya Shafiya. Gadis itu, tampak mengambil jeda sebelum berbicara.
"5 tahun lalu, setelah kematian orang tuanya. Hamna mengalami trauma dan enggan berbicara pada siapa pun. Pak Haidar juga tahu itu, ya?" Haidar mengangguk.
"Suatu hari saat saya dan Hamna keluar untuk berjalan-jalan, kami bertemu dengannya. Sosoknya yang ceria dan pengertian membuat Hamna sedikit-sedikit kembali menemukan arahnya."
"Singkat cerita, melihat Hamna kembali bahagia, tentu saya pun turut bahagia. Hamna mencintainya, begitu pun lelaki itu, namanya, Zayan Lathiif Halim."
Lain hal dengan Haidar laki-laki itu menahan gejolak amarah, juga cemburu di hatinya. "Mereka sempat merencanakan pernikahan, lalu apa yang terjadi, Fi?" tanya Haidar kian penasaran.
Shafiya meminum Cappuchino miliknya, lalu kembali bercerita. "Saya tidak tahu hal apa yang terjadi di antara keduanya, Zayan tiba-tiba pergi ke luar negeri dan Hamna menutup rapat dirinya. Tapi, dari kabar yang saya dengar waktu itu, Zayan memutuskan menikahi wanita lain." Baik Shafiya atau pun Haidar, keduanya sama-sama membisu.
Haidar tampak menegakkan rahangnya, merasa marah pada laki-laki yang meninggalkan Hamna itu.
__ADS_1
"Jika laki-laki tak bisa memberi kepastian pada seorang perempuan, ia seharusnya tak membuat perempuan mencintainya terlalu dalam. What a shame! Laki-laki itu tak ubahnya dengan seorang pecundang," ujarnya entah pada siapa.
"Jika saya tahu dia akan mengkhianati Hamna begitu dalam, saya akan menghalanginya sejak awal," lirih Shafiya, jemarinya memainkan ujung cangkirnya asal. Haidar hanya melirik gadis itu sekilas.
Haidar mengusap wajahnya, frustasi. Ia mendongakkan kepalanya, menatap langit yang kian memudar warnanya. "Hamna pasti sangat mencintainya dan masih menyimpan perasaan itu sampai sekarang," gumam Haidar masih setia menatap langit.
Jujur saja, mengetahui Hamna pernah mencintai seseorang begitu dalam hatinya merasa sakit.
"Itu dulu, Pak. Sekarang saya yakin yang tersisa bukanlah cinta, tapi kebencian. Hamna terlalu membencinya sampai tak bisa menghapus sosok itu dari hidupnya," ucapan Shafiya yang tiba-tiba membuat Haidar seketika menegakkan punggungnya.
"Saya sudah sering katakan pada Hamna untuk berdamai dengan hatinya dan jadilah terbiasa, tapi dia terus saja menggeleng, saya bahkan tidak tahu harus bagaimana lagi memberitahunya, Pak."
"Kamu benar, Shafiya. Hamna tak bisa terus lari dari rasa sakitnya. Lari dari rasa sakit hanya akan membuatmu semakin terluka. Jangan lari, terlukalah sampai kamu sembuh."
Hening, tak ada lagi pembicaraan. Keduanya sama-sama sibuk dengan isi pikiran mereka masing-masing.
__ADS_1
Dering ponsel Shafiya berbunyi, mengalihkan atensi gadis itu untuk sesaat. Ia menggeser layar ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan kepada seseorang.