141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Pencuri!


__ADS_3

Hamna berjalan masuk dengan gontai. "Benar-benar melelahkan sekali. Padahal aku sudah menyiapkan diriku sebelumnya, tapi siapa sangka, mereka benar-benar membuatku tampak menyedihkan" ucapnya bermonolog sambil membuka kunci pintu.


Seisi rumah tampak gelap. "Sepertinya Bi Ina sudah pergi" gadis itu menghela napas berat berkali-kali, seolah dengan itu beban hatinya akan luruh ke lantai.


Rasa kesepian menerjangnya kembali. Meski Hamna mampu melalui semua perasaan kesepiannya, tapi tetap saja, saat sepi menghampirinya dengan, itu jauh lebih menyesakkan dibanding dengan rasa terhina yang baru saja ia dapatkan.


Bagi Hamna, kesendirian yang menimpanya jauh lebih kejam, ia menikam hati dan pikirannya bertubi-tubi. Tanpa memberi jeda bahkan untuk rasa takut. Kesendirian bagi Hamna lebih menakutkan.


Ia meraba-raba sakelar lampu, seketika seisi ruangan menjadi terang. Lalu ia berjalan pelan menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.


Baru beberapa langkah ia menaiki tangga, tiba-tiba telinganya menangkap suara berisik dari arah ruang baca Ayahnya. "Kenapa berisik sekali? Apakah ada orang? Mungkinkah Bibi Ina belum pergi?" Batinnya dipenuhi keraguan. Ia berjinjit dan mengintip ke dalam ruang baca yang pintunya terbuka sedikit.


Sayup-sayup ia mendengar suara laki-laki yang berbisik-bisik. "Ssst, pelan-pelan, bagaimana jika orang rumah tiba-tiba pulang?"


"Tidak mungkin, aku sudah memastikannya. Kalaupun pemilik rumah ini pulang, dia hanyalah seorang gadis"

__ADS_1


"Kau yakin?"


"Sangat yakin, jika dia melawan, bunuh saja, lalu semuanya beres!"


Mendengar hal itu, Hamna membekap mulutnya seketika, tak percaya ada pencuri masuk rumahnya. Hamna mundur dengan panik "Ya ampun, pencuri? Apa yang harus kulakukan sekarang? ... Polisi! Ya, aku harus menelepon polisi sekarang" pikirnya. Lalu setelah itu, ia bergegas pergi dari sana, sebelum ketiga pencuri itu menyadari keberadaannya.


Dengan hati-hati, Hamna menjinjing high heelsnya dan berjalan dengan sangat pelan, di tiap langkahnya ia memastikan tidak menimbulkan suara. Jantungnya berdetak kencang, perasaan takut dan was-was menghinggapi hatinya.


Dengan gemetar ia menutup pintu kamarnya lalu mencari-cari ponselnya di dalam saku, ia menekan tombol darurat tanpa ragu.


"Bagaimana jika aku ditemukan lalu dibunuh? Bagaimana caranya aku kabur dari sini? Aku harus apa? Ya Tuhan, aku takut sekali, tolong aku, huhuhu" sekujur tubuhnya bergetar hebat oleh rasa takut.


***


"Ibu, Ayah! Haidar harus pergi" teriak Haidar berpamitan sembari berlari dengan panik. Ia memakai jaket dengan asal lalu meraih kunci motornya. "Ini sudah larut, kamu mau ke mana, Nak?" Hannah bertanya dengan heran. Sudah tengah malam tapi anak laki-laki semata wayangnya itu akan pergi.

__ADS_1


"Kantor polisi" jawabnya cepat. Hannah dan Fawwaz berpandangan, "kantor polisi? Kenapa? Apa sesuatu terjadi?" tanya Fawwaz, ia bergegas menuruni tangga. "Iya, ada apa sebenarnya? Kenapa malam-malam mau ke kantor polisi?" Hannah menimpali.


"Rumah Hamna ada pencuri masuk" lugasnya bersiap akan pergi. "Apa? Bagaimana bisa?" ujar Hannah dan Fawwaz bersamaan.


"Haidar, kamu cepat ke sana, biar Ayah dan Ibumu yang ke kantor polisi. Kamu pastikan dulu Hamna baik-baik saja, oke?" titah Fawwaz, lalu ia pun bergegas mengambil kunci mobil. Haidar mengangguk, "baik, Ayah. Haidar pamit dulu. Assalamualaikum"


"Ya, Wa'alaikumussalam, semoga Hamna baik-baik saja, ya" Hannah berharap. "Iya, semoga saja, ayo kita juga sebaiknya cepat pergi ke kantor polisi"


***


Bagaimana cara Haidar menyelamatkan Hamna yang terjebak di dalam lemari? Tunggu kelanjutannya di episode berikutnya, ya!


Jangan lupa beri dukungan seperti like, comment and favorite if you like this novel, yap! Share juga ke teman-temanmu agar lebih banyak yang baca ♡‿♡


Salam, Author ...

__ADS_1


__ADS_2