
Dua jam berlalu dengan cepat, pukul 10 malam, keduanya masih fokus menatap layar laptopnya, membaca barisan kata ataupun mengetik satu dua kalimat. Sesekali keduanya menguap tanda kantuk mulai mendera. Ataupun meneguk kopinya berulang untuk membuat mata tetap terjaga.
Rasa pegal dan lelah mulai menjalari tubuh keduanya, terutama Haidar yang harus bekerja dua kali, baru-baru ini ia menjabat menjadi kepala keuangan di perusahaan ayahnya, sedang malam harinya ia mengisi waktunya dengan menjadi dosen pembimbing.
Melelahkan, tentu saja, saat Haidar harus menerima dua tanggung jawab sekaligus. Tapi, baginya, ini sepadan dengan apa yang telah diterimanya.
Suara tangis El yang keras menghentikan keduanya, mereka saling berpandangan "El?" lirih mereka bersamaan. Merasa ada yang tak beres, keduanya berlari keluar.
Benar saja, El terbangun dari tidurnya lalu menangis dan meraung keras. Hamna memeluk anak kecil itu dan berusaha menenangkannya, ia tepuk-tepuk pundak El dengan lembut. "Ghazi, kamu kenapa sayang? Jangan takut, ya, Kakak ada di sini" ujarnya.
__ADS_1
Ia membawa El dalam gendongannya, lalu menyanyikan lagu pengantar tidur untuk El, tak lama, anak kecil itu kembali tertidur. Nanny-nya kembali membawa El ke kamar.
Hamna bernapas lega, ia mengambil duduk dan menyandarkan punggungnya di sofa, di sana, wajah lelahnya terukir jelas, gurat-gurat kesedihan dan takut kehilangan ikut membayang. "Hamna" panggil Haidar pelan lalu ia turut duduk di samping Hamna. "Iya, Pak?"
"Lebih baik kamu istirahat sekarang, jangan terlalu kelelahan, kita lanjutkan tugasnya besok saja" Hamna tampak menimbang, pekerjaannya sedikit lagi selesai, tapi benar juga kata dosennya itu, lebih baik ia istirahat.
Baru saja ia akan berdiri, ia sudah limbung duluan. "Eh, hati-hati, Na!" bersyukur Haidar sempat menangkap tubuh Hamna. "Kamu sakit? Lelah? Masih bisa berdiri?" tanya Haidar beruntun.
•••
__ADS_1
Cahaya pagi menyusup ke manik mata milik Hamna membuat gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya. Di samping, El tengah memperhatikannya. "El?" tanyanya seraya mengucek matanya agar terbuka sempurna.
"Iya Kakak, ini El, Kakak ayo bangun. Uncle bilang kita mau pergi ke temjon" ucap El seraya melompat-lompat di kasur, mau tak mau Hamna menyetujuinya.
"El, yang benar Time Zone. El tunggu di bawah, ya, 30 menit lagi Kakak turun ke bawah. El jangan lupa sarapan dulu sama Uncle, oke?" El mengangguk-angguk lalu pergi ke bawah. Tak lupa ia menutup pintu sambil berlari-lari kecil dengan riang.
"Uncle, Uncle, Kakak sudah bangun" teriaknya menghambur ke arah Haidar yang tengah menikmati kopi paginya sambil menelepon. Laki-laki itu meraih teleponnya lalu menggendong El. "Baiklah, akan aku baca dulu berkasnya. Adakan rapatnya besok saja, hari ini aku sibuk, untuk waktunya akan kuberitahu nanti" katanya mengakhiri percakapan itu.
"El yakin Kakak Hamna sudah bangun?" tanyanya memastikan, El mengangguk, Haidar lalu meletakkan El di kursinya untuk sarapan. "Terus Kakaknya bilang apa tadi?" tanya Haidar lagi.
__ADS_1
El meminum susu coklat hangatnya lebih dulu lalu menjawab pertanyaan Haidar, "Kakak minta El turun ke bawah, nanti Kakak turun 30 menit lagi, Uncle" jelasnya.
"Oh, ya? Kakak langsung setuju sama El?" kembali El mengangguk. Laki-laki itu pun duduk di samping El. Ia kembali meneguk kopinya pelan seraya menunggu Hamna seperti yang dikatakan El.