
Gadis itu terduduk lemah, memeluk lutut, matanya terpejam tanpa daya. Beberapa ART datang dan menawarinya makan tapi ditolaknya, ia sama sekali tak selera makan. Kepalanya masih dijejali ketakutan semalam, ia merinding dibuatnya. Lalu, matanya yang tajam menelusuri ruang televisi hingga ke dapur. Beberapa barang yang diingatnya hilang dari tempatnya berada.
Sebenarnya, ia tak masalah jika barang-barang berharga itu hilang, hanya saja ia menyayangkan beberapa koleksi guci mahal milik mendiang Ibunya. Gadis itu mengingatnya dengan baik, vas bunga yang terbuat dari kaca dengan hiasan manik dari emas di samping televisi adalah favorit Ibunya.
Vas bunga itu hadiah dari Ayahnya di hari ulang tahun pernikahan mereka. Ia masih merekam kenangan itu di kepalanya. Setiap pekan di akhir Minggu, Ibunya akan mengganti bunga mawar di vas bunga itu sambil menonton televisi atau bercengkrama mesra dengan Ayahnya. Lalu ia akan datang mengagetkan keduanya dan tertawa riang.
Tak ia sadari, air matanya mengalir lagi mengingat kenangan itu. Sakit sekali rasanya kehilangan orang-orang tercinta secara bersamaan. "Kita mungkin bisa melanjutkan hidup setelah kepergian orang-orang terkasih kita. Tetapi, kenangan mereka akan tetap ada, dan itulah yang membuat kita tersiksa dengan rindu."
"Seseorang mungkin meninggalkan kita dan tak akan pernah kembali ke dunia, tapi ingatan tentang mereka akan terus hidup. Dan yang lebih menyesakkan adalah, saat menyadari bahwa raga mereka tak mampu lagi kita peluk, hanya kenangan mereka yang bisa kita dekap. Dan rasa sakit itu aku rasakan di sini" ujar Hamna bermonolog, telunjuknya menunjuk pada hatinya.
Hamna tak bisa hidup bersama keluarganya, tapi kenangan-kenangan bersama keluarganya selalu menghiasi hari-hari Hamna yang sunyi. Dan akan terus seperti itu. Ia seringkali merasa sedih, sesak, getir dan kadang tenggelam dalam perasaan rindu yang tak mampu ia utarakan.
Betapa hari-hari begitu berat dilaluinya. Tanpa cinta dan kekuatan, ia tercekik dalam kesendirian. Ia kepayahan, namun tetap berusaha hidup dalam luka dan kepahitan itu. Seraya bertanya-tanya pada dirinya sendiri, akankah kebahagiaan dan cinta benar-benar bisa digenggamnya lagi?
__ADS_1
Ia mengusap air matanya cepat saat bel pintu berbunyi. Salah seorang ART membukakan pintunya, seorang pria berpakaian rapi berdiri si sana dengan memegang buket mawar besar. Ia melangkah masuk dengan gagah, lalu ia memberikan buket bunga yang besar itu kepada Hamna yang tertunduk, melamun.
"Eh, apa ini?" tanyanya kebingungan, ia mengangkat kepalanya menatap sesosok di hadapannya. "Bunga, apa lagi?" jawab Haidar lugas masih dengan menatap mata Hamna. Gadis itu melengos, "maksud saya, bunga ini untuk saya?" Haidar mengangguk.
"Ambillah, Na. Tangan saya pegal, tahu?" Hamna menerima buket bunga itu lalu menghirup aromanya, harum. "Kalau kamu suka, di sana masih banyak. Oh, ada buah-buahan dan yang lainnya juga" tangannya menunjuk ke arah belakang Hamna. Gadis itu berdiri dan menengok ke belakang.
Di ruang tamu yang luas itu, para kurir meletakkan barang-barang yang mereka bawa dengan sangat hati-hati. Ada banyak sekali buket bunga mawar, bingkisan dan sisanya barang-barang seperti televisi, vas bunga, laptop hingga lukisan.
Hamna memijat pelipisnya, merasa heran dengan apa yang dilakukan Haidar. "Apa ini, Pak?" Haidar menoleh, ia berdeham pelan. "Ah soal itu ... Entah dari mana teman-teman saya dan mahasiswa jurusanmu tahu kamu sakit, jadi mereka mengirim ini semua dan memberi salam, katanya, semoga kamu cepat sembuh"
Haidar menjentikkan jarinya. "Kamu tidak usah khawatir, mereka juga sudah membeli rumah di sampingmu. Jika barang-barangnya tidak cukup, letakkan saja di sana" jawabnya santai.
"Ap-apa?!" Serunya, terkejut. "Aduh, biasa saja dong, Na. Mulai dari sekarang, saya akan jadi tetangga barumu, jadi baik-baiklah kepada saya, ya" Haidar memasang cengiran khasnya. Menghadapi Haidar, sungguh, Hamna tak mampu berkata-kata lagi. Lagi-lagi gadis itu memijit pelipisnya.
__ADS_1
•••
PREVIEW BAB SELANJUTNYA
"UNCLE!!!" teriak seorang anak kecil berusia 5 tahun, anak laki-laki itu menghentakkan kakinya dengan marah, matanya yang kecil menatap Haidar penuh kekesalan, Haidar menepuk jidatnya. "Gawat, gawat, gawat, aku lupa ada El di mobil" batinnya.
Ia tersenyum kepada El, lalu menggendong anak kecil itu. "Keponakan Uncle yang ganteng dan baik, maaf ya, Uncle lupa" ucapnya, satu tangannya menyentuh kupingnya. "Hmph!" ketus keponakan Haidar itu, bersedekap. Hamna menatap keduanya tak berkedip.
•••
HAPPY READING
Don't forget to like, vote, comment, and share if you like this love story!
__ADS_1
With Love, Author
— HK