141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Kejutan Kecil


__ADS_3

Suasana ramai-riuh menggema di aula kampus yang sudah disulap menjadi tempat wisuda. Teriak gema kebahagiaan terdengar dari lisan-lisan yang mengucap syukur setelah 4 tahun menempuh pendidikan yang penuh drama. Tak terkecuali Hamna, gadis itu sudah berdandan cantik sejak Subuh. Kebaya biru muda dengan selempang bertuliskan Cum Laude menghias tubuh.


Dari kursi jajaran dosen, Haidar terus memerhatikan gadis itu hingga Hamna menerima ijazah sebagai bukti kelulusannya. Senyum terus membayang di wajahnya yang tampan. Oh, tak lupa juga ia mengabadikan momen bersejarah bagi Hamna itu melalui potret gambar dan video sebagai kenang-kenangan.


Graduation Ceremony itu berlangsung khidmat, sesekali isak tangis meluncur dari lisan yang tak rela tak menyangka habis sudah masa students. Dunia yang sesungguhnya sudah menanti. Hingga di penghujung acara, moderator menutup upacara itu dengan doa dan hatur terima kasih.


Lalu semuanya menghambur keluar, merayakan kegembiraan. Bersama teman, kekasih ataupun keluarga. Yang penting, momen bahagia jangan terlewat begitu saja.


Hamna jadi gadis yang keluar paling akhir. Sifat anti berkumpulnya kambuh lagi. Tepat di gerbang kampus, Haidar sudah menanti. Dengan hadiah dan satu buket bunga yang menawan, harap yang diberi juga ikut tertawan.


"Happy Graduation, Na." Haidar memberikan buket bunga itu ke hadapan gadis yang dicintainya. Hamna menerimanya dengan hati berdebar, haru dan senang bercampur.


"Terima kasih, Pak Haidar," ucap Hamna tulus seraya menghadiahi Haidar sebuah senyum. Senyum yang selalu membuat Haidar mabuk.


"Masih ada satu kejutan lagi."


"Eh? Apa itu?"


Beberapa orang turun dari mobil secara bersamaan, masing-masing membawa bunga, kado dan boneka. Mereka adalah Fawwaz dan Hannah. Shafiya dan Ayuna, Dokter Fatih, Hanif, El dan bahkan teman-teman Haidar yang belum Hamna kenal.

__ADS_1


Semuanya mengucapkan selamat kepada Hamna. Mengundang tangis yang lebih mengharu-biru dari matanya. "Ka-kalian semua, datang untukku?" tanya Hamna tak percaya.


"Tentu saja, Sayang. Selamat ya, ini hadiah dari Ibu dan Ayah." Hannah memberikan sebuah kado yang sudah ia siapkan secara khusus bersama Fawwaz. Lalu diikuti yang lainnya memberi bunga dan kado.


"Ayah... Ibu... Terima kasih banyak!" Hamna menghambur, memeluk keduanya erat. Peluk yang menghilangkan rindu pada orang tuanya. Peluk yang menghangatkan hatinya. Setitis bening keluar tanpa ijin. Hannah mengusapnya sayang.


"Setelah ini ayo ke rumah makan, kita rayakan kelulusan ini bersama. Ayahmu sudah memesan satu rumah makan untukmu, lho"


Fawwaz bangga. "Apa? Apakah ini tidak terlalu berlebihan?" Hamna tak enak hati.


"Ya, kurasa juga begitu. Rasa senangnya melebihi kamu, Na. Jadi terima saja," ucap Haidar yang sedari tadi hanya diam.


"Hamnaaa, ayo kita rayakan bersama" ujar Shafiya lebih senang lagi. El juga turut membujuk Hamna. "Kakak Cantik, El mau makan lobster besar. Ayo Kakak cantik."


"Yayyyy" saking senangnya El sampai diangkat tinggi-tinggi oleh Haidar. Membuat anak lelaki itu menjerit takut.


"Eh tapi sebelum makan-makan, ada baiknya kita abadikan momen ini dulu dong," usul Hanif yang sudah membawa sebuah kamera.


Akhirnya mereka berbaris, membingkai wajah dalam foto agar bisa dipajang-dikenang. Setelahnya mereka pergi bersama ke rumah makan yang dipesan Fawwaz.

__ADS_1


Di rumah makan itu, mereka langsung disambut pramusaji. Mereka dituntun menuju meja panjang berjajar melintang. Lalu beraneka macam makanan dihidangkan.


"Selamat makan semuanya," ujar El mengundang gelak tawa. El benar-benar menggemaskan. Hamna menjawil pipinya yang kemerahan.


Hamna menatap wajah bahagia mereka satu persatu. Hannah dan Fawwaz yang tetap mesra di manapun. Shafiya dan Ayuna yang tampak bahagia dan baik-baik saja. El yang menggemaskan dan membuat siapa saja ingin memeluknya. Haidar dan teman-temannya yang lain tampak asyik bercengkrama.


Diam-Diam Hamna juga bahagia melukis tawa, sepuas mungkin menikmati kebahagiaan di depan matanya. Sebab besok mungkin tak akan bisa melihatnya lagi. Besok ia harus pergi. Meninggalkan kota menuju negara lain. Tanpa sadar setitik bening berselancar di pipinya.


"Na? Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Haidar yang ternyata menyadarinya. Hamna cepat menghapus sedihnya.


Mengangguk pelan seraya memaksa senyumnya terbit. "Iya, saya baik-baik saja, kok, Pak. Jangan khawatir, saya hanya terharu."


"Kamu ini, ya, apa perempuan semuanya begitu? Sedih menangis, saat bahagia juga menangis," gerutu Haidar sambil memberi Hamna selembar tisu.


Setelah ini, apakah saya masih bisa mendengar suaramu, Pak?


"Ya, perempuan selalu begitu. Selalu menangis di setiap keadaan. Salahkan perempuan karena memiliki hati yang begitu rentan."


"Bukan rentan tapi lembut. Hatinya begitu lembut sampai-sampai tak kuat menahan tangis. Dan tangis adalah ungkapan rasa paling tulus," timpal Haidar sambil tersenyum.

__ADS_1


Hamna tersenyum.


Haidar selalu bisa memenangkan hatinya hanya dengan kata-kata.


__ADS_2