
Setelah berhasil menandatangi kontrak kerja sama dengan Kaivan Syahreza dua hari lalu. Keduanya langsung kembali dengan penerbangan yang sama hari itu juga.
Sebagai ucapan terima kasihnya kepada Haidar karena telah membantunya. Hamna mengundangnya untuk datang ke apartemennya di kawasan Venice hari ini. Dengan senang hati Haidar tak akan menolaknya. Telah lama ia merindukan makanan Hamna.
Dengan membawa jinjingan belanjaan, Hamna mempersilahkan Haidar untuk masuk. "Kamu tinggal sendirian di sini?" tanya Haidar seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu.
Ada ruang tamu yang cukup luas, balkon sebagai tempat bersantai yang mengarah langsung ke pusat Ibukota. Dapur dan pantry yang menyatu. Di sisinya ada sebuah kamar mandi. Dua kamar tidur yang saling berhadapan dan satu ruang kerja.
Apartemen itu cukup luas untuk ukuran seorang Hamna yang tinggal sendiri. "Waktu kuliah, aku tinggal berdua. Tapi setelah mendapat pekerjaan, temanku pindah ke apartemen yang lebih dekat dengan kantornya," jelas Hamna.
Ia menyuguhkan Haidar yang sudah duduk di sofa ruang tamu secangkir jus buah dan beberapa camilan yang sempat ia buat sebagai ganjalan perut sebelum makan siang.
Hamna sudah mengenakan apronnya dan bersiap untuk memasak. "Mau kubantu, Na?" tawar Haidar yang sudah mendekati dapur. Memerhatikan sekilas Hamna yang tengah mengeluarkan sayuran yang tadi dibelinya di Supermarket.
Hamna menggeleng. "Tidak usah, Pak, biar aku sendiri saja. Pak Haidar duduklah di sana dan makan camilannya dulu. Tak akan lama, kok." Hamna mulai mencuci sayurannya.
Haidar ingin membantu tapi ia sadar diri, ia tak pernah terjun ke dapur sejak 3 tahun lalu. Selama ini ia hanya berkutat dengan pulpen dan kertas. Haidar yakin, alih-alih membantu, ia pasti akan merepotkan Hamna. Dan akhirnya, Haidar duduk kembali di sofa dan menonton televisi tanpa minat.
Sesekali ia melirik Hamna yang sedang fokus memasak. 'Kenapa perempuan kelihatan cantik saat sedang memasak, ya?'
'Ke depannya akankah bisa kulihat kamu yang seperti ini?' Haidar membayangkan suatu hari ia akan terbangun di pagi hari. Pemandangan yang pertama dilihatnya adalah Hamna yang sedang menyiapkan sarapan untuknya dengan penuh cinta.
Ting... Ting... Ting...
Denting bel apartemen berbunyi, mengaburkan lamunannya. "Pak, bisa tolong lihat siapa yang datang?" teriak Hamna dari dapur. Ia masih sibuk di depan kompor.
Haidar beranjak untuk memeriksa. Dari celah pintu, ia melihat seorang perempuan yang usianya tak jauh berbeda dengan Hamna tengah menggendong anak.
"Na, sepertinya itu tetanggamu, aku tidak berani membukanya," kata Haidar sambil menunjuk arah pintu. Ia tidak langsung membukanya, di kota LA yang luas sebaiknya berjaga-jaga. Tingkat kejahatan di sini cukup tinggi.
Hamna langsung mematikan kompornya seketika dan melepas apronnya. "Apakah dia menggendong seorang bayi?" Haidar mengangguk.
Hamna cepat-cepat melepas apron dan beranjak membuka pintu apartemennya. "Catharine!" sambutnya. Catharine tersenyum hangat, akhirnya Hamna membuka pintunya.
__ADS_1
"Hamna, syukurlah kamu ada. Kamu sedang sibuk tidak? Boleh aku titip Cameron padamu?" tanyanya cepat.
Hamna menggeleng. Ia melirik ke luar pintu, karena ekspresi Catharine tampak khawatir. "Tidak. Oh tentu boleh, kamu ada keperluan?"
"Iya. Ibuku jatuh sakit, aku harus menjenguknya tapi tak bisa membawa Cameron bersamaku."
Sayup Haidar mendengarkan percakapan kedua perempuan itu. Bukan niatnya menguping tapi memang nada bicara kedua perempuan itu cukup keras sehingga Haidar bisa mendengarnya juga.
"Hei, kamu sepertinya kedatangan tamu?" Catharine melirik ke arah ruang tamu, tempat Haidar berada.
"Ah, iya dia rekan kerjaku, aku mengundangnya untuk makan siang," kata Hamna sambil menerima Cameron dari tangan Catharine dan sebuah tas berisi perlengkapan untuk Cameron.
Lalu Catharine pergi dari sana setelah berterima kasih pada Hamna. Cameron tampak nyaman dalam gendongan Hamna. Ia membawa Cameron ke ruang tamu.
Haidar terpaku di tempat duduknya, memerhatikan Hamna yang menggendong seorang bayi. 'Bukankah dia sangat cocok menjadi seorang Ibu?'
"Dia anak tetangga yang kamu ceritakan itu?" tanya Haidar memastikan sambil berdiri untuk melihat anak bayi yang digendong Hamna itu.
Hamna mengangguk sebagai jawaban. "Yang tadi itu Catharine, tetanggaku. Dia seorang single parent. Maaf ya, Pak, kalau makan siangnya harus ditemani Cameron." Hamna meletakkan Cameron di atas baby bouncer dan meletakkannya tepat di samping Haidar.
"Ya, tidak apa-apa. Hanya menjaga bayi saja apa sulitnya?"
Merespon pernyataan Haidar itu, Hamna hanya menggelengkan kepalanya disertai kekehan kecil. Haidar tak tahu betapa sulitnya menjaga seorang bayi. Ia kembali mengenakan apronnya dan melanjutkan kegiatan memasaknya.
Di ruang tamu Haidar sibuk bermain dan mengajak Cameron berbicara. Cameron anak yang lucu dan tampan menurut Haidar. Matanya kebiruan, rambutnya berwarna coklat kecemasan, pipinya agak kemerahan dengan hidung kecil mungil persis seperti anak-anak yang sering ia jumpai.
'Anakku dengan Hamna nanti akan seperti apa ya? Mirip aku atau Hamna? Jika perempuan sebaiknya mirip Hamna. Jika laki-laki, sifatnya juga harus seperti Hamna. Tegas berwibawa' Haidar larut lagi dalam lamunannya.
Hamna mengibaskan tangannya di depan wajah Haidar. "Pak? Pak Haidar? Kok melamun? Ayo, makanannya sudah siap," ajak Hamna.
Haidar tersentak. "Eh, ya, maaf. Tadi ... Aku sedang memikirkan sesuatu. Bagaimana dengan Cameron?"
"Bantu aku meletakkannya di meja makan, Pak. Aku siapkan susu dulu untuk Cameron."
__ADS_1
"Baik."
Setelah makan siang itu, keduanya duduk bersantai di balkon dengan Cameron di antaranya. "Apakah Ibunya Catharine sering menitipkan bayinya padamu?"
Hamna mengangguk. Di pangkuannya Cameron baru saja tertidur. "Iya. Aku bertemu dengan Catharine setelah pindah ke sini. Bisa dibilang kami cukup dekat. Dia sebenarnya bersuami tapi kemudian dia bercerai dengan suaminya tepat saat Catharine mengandung Cameron." Hamna memandangi wajah bayi laki-laki yang tertidur pulas itu, merasa gemas dengan pipi chubby Cameron.
"Sejak saat itu, aku merasa kami saling terhubung. Bisa dikatakan, selama ini kami saling berbagi penderitaan. Saat aku menempuh pendidikanku, Catharine kerap membantuku, aku masih ingat saat aku jatuh sakit, dia dengan sigap membawaku ke rumah sakit dan merawatku. Begitu juga saat Catharine berada dalam kondisi sulit. Kami berusaha bertahan dengan saling membantu."
Ia mengingat kembali momen-momen menyakitkannya dengan Catharine. Saat perempuan itu melahirkan seorang diri, dan harus bekerja padahal belum genap 40 hari ia melahirkan.
"Brengsek!" Haidar merasa marah. Entah pada laki-laki yang meninggalkan Catharine atau pada dirinya sendiri. Selama 3 tahun ini ternyata gadisnya telah mengalami banyak hal, sedangkan ia tak melakukan apapun untuk Hamna. Ia menatap Hamna sendu.
"Lalu, laki-laki itu, apakah dia pernah menjenguk Cameron, misalnya seperti memberi tunjangan atau semacamnya?"
"Seingatku tidak. Sejak hari di mana dia meninggalkan Catharine, aku tak pernah melihatnya lagi sekali pun."
Haidar menggeram marah. "Brengsek! Laki-laki macam apa yang meninggalkan seorang istri di saat sedang mengandung pula! Benar-benar tak bertanggung jawab!" makinya.
"Tapi aku justru bersyukur."
"Kenapa begitu?"
"Dari kemarahanmu, aku tahu Pak Haidar pasti seorang lelaki yang bertanggung jawab dan sangat perhatian. Jika tidak, mana mungkin Pak Haidar akan terus membuntutiku dua hari terakhir ini," canda Hamna di akhir kalimat.
Haidar tampak menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Ehm, sebenarnya aku hanya ingin memastikan bahwa proyek yang aku investasi berjalan dengan baik," elaknya. Hamna tertawa.
"Oke, oke, lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"Ah soal itu ... Masih ada Ayah yang akan mengurusnya. Tiba-tiba dering ponselnya berbunyi. Hamna mempersilahkan Haidar untuk mengangkatnya.
"Halo. Ada apa, Yah?" jawabnya begitu panggilan terhubung. Ia berjalan menjauh dari balkon.
"Kapan urusanmu selesai? Urusan bisnis saja kenapa sangat lama. Ini sudah satu minggu, Haidar," suara Fawwaz terdengar menggema di telinga Haidar.
__ADS_1
"Ayah. Ini bukan hanya urusan bisnis, aku sedang mengejar cintaku. Ayah urus saja dulu semuanya. Satu minggu lagi aku akan kembali. Aku tutup dulu, ya, sampai nanti." Haidar langsung menutup teleponnya secara sepihak.