
Sore hari, Haidar tengah rapat bersama dewan direksi saat tiba-tiba hatinya berdebar tanpa alasan. Ia sontak memegangi dadanya, membuat seisi ruangan panik.
"Pimpinan! Anda baik-baik saja?" tanya asistennya khawatir. Seisi ruangan itu juga serentak berdiri, memerhatikan keadaan Haidar seksama.
Haidar menggeleng lemah. "Tidak apa-apa, lanjutkan saja," Haidar mengelak. Rapat pun dilanjutkan, namun Haidar tak sepenuhnya fokus. Hatinya berubah resah.
"Untuk proyek kali ini, kami menerima beberapa tawaran kerja sama. Menurut kami ada satu perusahaan yang cukup potensial. Namun perusahaan mereka bukan di Indonesia, Pak. Perusahaan mereka sebenarnya cukup bagus, namun kami belum berani mengambil keputusan."
"Bukan di Indonesia? Lantas di mana?" tanya Haidar, keningnya berkerut, heran. Mengapa bisa ada tawaran kerja sama dari luar negeri? Apakah mereka tak bisa menemukan klien yang tepat di Indonesia?
"Amerika, Pak. Tepatnya perusahaan mereka berpusat di LA," jawab sang manajer.
"Bukankah itu bagus? Itu artinya perusahaan kita sudah taraf multinasional," Haidar menanggapi.
"Ini memang suatu hal yang bagus. Tapi, Pak, ada yang mengatakan direktur mereka dipimpin oleh seorang wanita, kami takut ... " sang manajer menggantung ucapannya, urung mengungkapkan keraguannya.
__ADS_1
"Kau takut dia tidak bisa memimpin proyek besar ini, begitu?" tebak Haidar. Semua orang yang ada di ruangan itu pun saling pandang.
Haidar tampak berdiri. "Ini sudah masa apa? Apakah menurut kalian perempuan masih tidak memiliki kemampuan untuk memimpin?"
Semuanya terdiam, tak tahu harus bagaimana bereaksi. Kebanyakan dari mereka memang masih berpikir bahwa perempuan tidak selayaknya terjun dalam dunia bisnis.
"Terima tawaran kerja sama itu, dan katakan bahwa aku sendiri yang akan ke Amerika untuk membahas rencana lanjutannya," Haidar memutuskan.
Semua direksi yang hadir hanya bisa mengangguk. Jika Haidar sudah memutuskan maka tak ada lagi yang berani menentang. Haidar lebih tegas dibanding kepemimpinan Fawwaz dulu, maka tak heran jika perusahaan yang dipimpinnya bisa menjangkau taraf internasional hanya dalam jangka waktu 3 tahun.
Haidar benar-benar telah berusaha keras untuk ini. 3 tahun bukan waktu yang lama, tapi ia mampu berjaya. Selama 3 tahun itu ia terus bekerja tanpa henti.
Haidar berjalan dengan langkah cepat untuk kembali ke ruangannya. Kepalanya tiba-tiba terasa pening saat bayangan Hamna melintas di pikirannya.
"Di mana kamu sekarang? Seperti apa kamu sekarang, Na? Apakah kamu hidup dengan baik selama 3 tahun terakhir? Kuharap begitu, jangan buat keikhlasanku sia-sia," racaunya seraya memijit pelipisnya pelan.
__ADS_1
"3 tahun aku berusaha keras untuk melupakanmu, Na. Tapi, 3 tahun pula hatiku tersiksa oleh rindu. Sampai kapan? Sampai kapan aku harus merana seperti ini?" Haidar tertunduk, wajahnya berubah sendu.
Haidar yang kini jauh berbeda dengan yang 3 tahun lalu penuh cinta dan gairah. Haidar yang sekarang tertunduk jauh lebih banyak diam dan menutup diri.
Garis senja mulai membayang di langit. Dengan gontai, Haidar melangkahkan kakinya untuk pulang. Entah rumah yang mana yang akan ditujunya malam ini.
Semenjak kepergian Hamna, pria tinggi tegap itu terus menanyai apa makna rumah yang sebenarnya?
Apakah sebuah bangunan tempatnya merebahkan diri atau sebuah peluk hangat tempatnya labuhkan hati?
Jika jawabannya yang kedua, maka Haidar tak pernah memiliki rumah untuk pulang. Ia terus berkelana ke sana ke mari mencari arah.
Mungkin saja ia memiliki rumah, hanya saja ia tersesat di antah berantah. Lalu sekarang mengendara mencari arah untuk pulang itu.
Entahlah, Haidar juga tak mengerti, mobilnya terhenti di persimpangan jalan menuju rumah Hamna. Rumah yang sama namun terasa berbeda. Sebab rumah itu tidak lagi dihuni oleh seseorang yang Haidar cinta.
__ADS_1
Haidar menatap nanar rumah Hamna dengan lama. Berharap yang sedang menyiram taman kecil itu adalah Hamna bukan pengurus rumahnya.
"Aku pasti sudah gila terus-menerus mengunjungi rumah itu padahal seseorang yang kucari tak ada di sana," Haidar berujar lemah. Lalu, setelah puas memandangi rumah itu, ia kembali mengendarai mobilnya menuju kediaman utama Musyaffa.