
Haidar menepikan mobilnya dekat pantai di tepian kota. Ia butuh penyegaran atas segala hal yang telah ia alami seharian ini. Hamna, pekerjaan, tanggung jawab yang diembannya, belum lagi masalah pelik percintaan. Beberapa hal membuatnya sangat stress.
Haidar melangkahlan kakinya menjejaki pasir nan lembut di pantai itu. Desau angin memainkan beberapa anak rambutnya acak, seolah mengerti hatinya sedang gundah.
Selama beberapa menit, ia tetap begitu, membiarkan angin menerbangkan riak-riak kebimbangan hatinya. Ia menyugar rambutnya ke belakang, angin membuat rambutnya yang hitam legam sedikit berantakan.
Tanpa Haidar sadari, seorang pria sudah berdiri di sampingnya. Haidar perkirakan usianya tak jauh beda dengannya. "Mencari sesuatu atau iseng saja mampir?" tanya sang pria berbasa-basi.
"Yah, hanya mencari udara segar," jawab Haidar sekenanya. Pria di sampingnya hanya mengangguk pelan. "Butuh teman? Atau rokok mungkin?" tawar pria itu.
"Tidak, terima kasih," tolak Haidar halus. Ia sedang tak ingin. "Tidak keberatan, kan, kalau aku merokok di sini?"
"Silahkan saja, tapi kumohon jaga jarak. Aku tidak suka asapnya," pria itu langsung mengambil jarak lalu menyalakan rokoknya.
Keduanya sama-sama sibuk menatap ke depan, kepada ombak yang tampak tenang. Larut dalam arus pemikirannya masing-masing.
"Sering datang ke sini?" tanya sang pria lebih dulu, Haidar menoleh. "Tidak, ini pertama kalinya. Kau? Sering datang ke sini?"
__ADS_1
Pria itu mengembuskan asap dari rokoknya, lalu menghela napas. "Dulu, iya, bersama seorang gadis yang sangat kucintai."
"Sekarang? Ke mana gadis itu?" Haidar mulai menelisik, sedikit penasaran. Lelaki di sampingnya melirik Haidar sekilas.
"Menurutmu, apakah terlalu kejam jika kukatakan aku meninggalkannya demi menikahi wanita lain?" Haidar tersentak. Kenapa rasanya terdengar tak asing?
"Menurutku? Tidak, yah, kau juga pasti tahu. Semakin dewasa, keadaan sering membawa kita pada posisi sulit. Beberapa hal harus rela kita lepas demi mencapai sesuatu," jelas Haidar, laki-laki itu hanya mengangguk singkat.
"Tapi, jika diambil dari sudut pandang sang perempuan, tentu saja sakit. Pasti sulit menerima fakta bahwa lelaki yang dicintainya menikahi perempuan lain, apalagi tanpa penjelasan apapun sebelumnya," lanjut Haidar lagi. Entah karena apa ia berani mengatakan hal tersebut padahal ia tak begitu tahu kisah cinta lelaki di sampingnya.
Sedangkan pria asing itu terdiam, perkataan Haidar, entah mengapa terasa sangat diperuntukkan baginya. "Ya, kau benar. Kurasa aku telah menyakiti gadis yang kucintai. Menurutmu, apa yang seharusnya kulakukan, untuk menebus kesalahan itu?" tanyanya lagi.
Haidar menepuk bahu lelaki itu pelan. "Santai saja, menurutku, seharusnya kau meminta maaf terlebih dahulu. Atau jika gadis itu mau mendengar penjelasanmu lebih bagus lagi."
Lelaki itu kembali mematung. "Bagaimana jika dia menolaknya? Dan kukatakan aku masih mencintainya dan berharap dia mau menerimaku kembali? Karena, hanya dialah cinta sejatiku," ujarnya yang membuat Haidar mengerutkan keningnya.
"Jika dia menolak maafmu, ya, tidak apa-apa. Paling tidak kau sudah berusaha. Sedangkan untuk hal lainnya..." Haidar menggantung ucapannya. Diam sejenak untuk memilih kata-kata yang tepat.
__ADS_1
Di sampingnya lelaki itu menunggu. "Apa kau pernah mendengar ungkapan, Cinta Sejati Tak Pernah Pergi? Sedangkan di sini, kaulah yang meninggalkannya," sarkas Haidar.
Sungguh, sejujurnya ia tak menyukai lelaki manapun yang dengan mudahnya meninggalkan seorang wanita.
Kepala Haidar kini dipenuhi oleh Hamna. Gadis itu juga sama, pernah ditinggalkan kekasihnya. Dan Haidar tahu bagaimana terlukanya Hamna.
"Terlebih lagi, meskipun kau mencintainya, kau tidak bisa memaksanya untuk hidup atau menerimamu kembali dalam hidupnya. Dia juga berhak bahagia pada pilihannya sendiri."
Bagai patung lelaki di samping Haidar itu terdiam kaku. Ucapan Haidar telah menyindirnya habis.
"Oh, ya, siapa namamu, Bung? Dari tadi kita mengobrol tapi aku tak tahu namamu?" tanya Haidar, ia asik menjawab pertanyaan tapi tak menanyakan namanya.
Lelaki itu menyodorkan tangannya ke depan, "Zayan, Zayan Lathif Halim."
Haidar terkejut untuk sesaat, namun dengan cepat ia netralkan keterkejutan itu dengan senyum, lalu membalas uluran tangan pria bernama Zayan itu. "Panggil saja Haidar."
Haidar melirik arlojinya. Lalu berpamitan dari sana, "sudah malam, sebaiknya aku pulang atau orang rumah akan khawatir." Haidar beranjak dari sana tanpa menunggu jawaban Zayan.
__ADS_1
Entah mengapa perasaannya jadi tak tentu begitu tahu siapa yang diajak bicara. Ternyata itu dia. Dia, Zayan Lathif Halim. Jika benar dia orang yang dibicarakan Shafiya, maka artinya...
Sedangkan Zayan masih termangu di tempat, tengah memikirkan baik-baik ucapan Haidar tadi. Namun, lamunannya buyar begitu ponselnya berdering. "Ada apa? Sudah kubilang jangan ganggu aku!"