
Ayuna memandangi langit malam dengan sendu, sejuknya malam seolah membantunya membalut luka, ditatapnya bulan dengan agak getir, "aku telah berusaha kuat, aku sudah berusaha menerima apa yang terjadi. Tapi, kenapa hatiku masih terasa sakit? Jadi, seperti inikah rasanya dikhianati oleh seseorang yang amat kita percaya? ... "
" ... Rasanya lebih baik ditikam belati dibanding dikhianati begini, setidaknya luka yang menganga sebab belati itu pada akhirnya akan sembuh setelah diobati, tapi bagaimana dengan luka hati? Aku bahkan tak tahu bagaimana cara menyembuhkan luka hatiku sendiri" batinnya perih.
Hatinya bagai diremas oleh duri, berbagai ketidakmungkinan terus berputar di kepalanya. Perempuan setengah baya itu berharap bahwa apa yang menimpanya hanyalah mimpi dan akan hilang saat ia terbangun. Tapi tidak, kenyataan tidak mudah ditampik seperti itu. Tiap kali ia mengingatnya, tiap kali pula matanya menangis.
Sore tadi, Yasser datang bersama seorang perempuan muda yang tengah mengandung. Hanya tinggal beberapa hari hingga waktu persidangan mereka tapi kedua orang itu sudah tak sabar untuk menunjukkan keharmonisan mereka. Ayuna merasa jijik ketika melihat Yasser.
"Aku pulang untuk mengambil barang-barangku dan melihat ... " Ayuna menghentikan Yasser yang akan melangkah masuk ke dalam rumah. "Berhenti di sana, Yasser!" laki-laki itu terhenti saat mendengar Ayuna meneriakkan namanya. Tak pernah Ayuna memanggilnya dengan nama, kali itu Ayuna benar-benar melupakan batasannya sebagai istri.
Yasser terdiam, ia menatap nanar Ayuna. "Tidak perlu masuk, karena ini bukan lagi rumahmu, kamu sudah tak punya hak lagi untuk masuk ke dalam saat memutuskan pulang ke dalam peluk yang lain" sarkasnya, Yasser menarik rambutnya, frustasi. Ia menyadari perbuatannya tapi tak menyangka akan diperlakukan begini oleh Ayuna.
"Dina, cepat bawakan kopernya kemari" perintahnya, Dina langsung berlari ke atas untuk mengambilkan koper milik Yasser. Sebelumnya, Ayuna sudah menduga hal ini akan terjadi, maka dari itu ia telah menyiapkan segalanya.
Tak lama, Dina kembali dengan membawa dua koper besar milik Yasser yang berisi pakaian, dokumen pekerjaan dan yang lainnya. "Ini semua barang-barang milikmu, satu berisi pakaian dan satu lagi berisi dokumen juga yang lainnya. Ambil dan cepatlah pergi" katanya, Yasser menatapnya tajam, seolah tak terima.
Perempuan yang dikenali Ayuna sebagai madunya itu maju melewati Yasser. Kembali berhadapan dengan Ayuna, tatapannya tampak pucat dan memelas. Ayuna membuang mukanya, muak melihat wajah perempuan itu. "Mbak, tidak bisakah kita berdamai dan saling berbagi suami? Aku rela kok jadi yang kedua."
__ADS_1
Ayuna menatap perempuan yang ia kenal sebagai sekretaris suaminya itu dari bawah hingga ke atas. "Riri, aku akan katakan dengan jelas, aku tak bisa berdamai denganmu, aku juga tak ingin berbagi suami denganmu. Kamu mungkin bisa menerima status sebagai yang kedua, tapi aku tidak, aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa suamiku memiliki dua istri. Berhentilah mengucapkan hal yang akan membuatmu malu" jelas Ayuna tegas.
"Tapi, paling tidak Mbak bisa kan memaafkan Mas Yasser dan memberinya sedikit hak dan kehormatan sebagai suami dari Mbak Ayuna ... " Riri memohon sembari memegangi tangan Ayuna.
"Cukup! Hentikan ... Jangan bicara apapun lagi, ayo kita pergi dari sini!" Yasser berteriak membelah ketegangan antara Ayuna dan Riri, lalu ia menarik istri mudanya untuk pergi dari sana. Sejujurnya, laki-laki itu sudah tak punya muka untuk menghadapi Ayuna. Harga dirinya telah terkoyak saat Ayuna memintanya pergi.
Belum sempat mereka melangkah, Ayuna memanggil, "Yasser ... " keduanya menoleh ke arah Ayuna yang masih berdiri menatap mereka di sana. Ia melangkah mendekat ke arah Yasser.
"Kau paling tahu dengan jelas, sebanyak apapun kesalahanmu, aku selalu bisa memaafkanmu. Tapi, agaknya kau lupa dengan prinsip pernikahanku. Biar kuingatkan lagi, aku bisa menerima keadaan sesulit apapun itu, aku bisa melewati masalah sebesar apapun itu denganmu. Tapi tidak dengan satu hal ... " Ayuna menggantung ucapannya, ia tahu pasti Yasser mengingatnya.
Semua orang tampak kalut, termasuk Yasser. Laki-laki itu menatap Ayuna dengan perasaan sesal, rasa bersalah merayapi hatinya, ia ingat dengan jelas apa yang pernah dikatakan Ayuna saat awal pernikahan mereka dahulu, "pengkhianatan ... " lirih Yasser hampir tak terdengar kecuali oleh Ayuna.
Tanpa Ayuna sadari, air matanya meleleh lagi. Dadanya terasa sesak padahal ia sudah meminum obatnya sejak tadi. "Bunda, kok belum tidur? Ini sudah malam, lho" suara Fiya menghentikan ingatannya tentang sore yang getir tadi, ia cepat-cepat mengusap air matanya.
Fiya berjalan menghampiri Ayuna, ia mengambil selimut di lemari dan menyampirkannya di pundak Ayuna. Perempuan itu tersenyum, "jendelanya kok dibuka, sih, Bun? Di luar dingin tahu. Bunda juga gak pakai selimut, nanti kalau Bunda kena demam gimana?" ucap Fiya khawatir.
"Fiya, Bunda gak apa-apa kok, Nak. Bunda cuma mau lihat langit malam sambil cari angin" jawabnya, tangannya mengelus kepala Fiya sayang. Fiya turut mengambil duduk di samping Ayuna.
__ADS_1
"Hmm, apa serunya memandang langit, Bun. Fiya gak lihat apa-apa tuh selain kegelapan?"
"Ada, Fiya sayang. Coba tutup matamu dan rasakan embusan angin yang menerpa wajahmu" katanya. Shafiya mengikuti apa yang dikatakan Ayuna. Ia menutup matanya dan merasakan embusan angin. Sunyi, temaram, tenang, itulah yang Fiya rasakan.
"Saat dunia begitu mengusik hatimu, Nak, malam bisa memberimu sedikit ketenangan. Bagi Bunda, memandang langit juga bisa memberikan kekuatan. Karena dengan memandang langit, Bunda seperti menatap langsung kekuasaan Tuhan. Bunda selalu berkata kepada diri sendiri, Tuhan saja mampu menciptakan langit dan bumi, maka Tuhan juga pasti mampu menghilangkan kesusahan manusia."
Shafiya menatap lekat-lekat Ayuna, ditatapnya Sang Ibu penuh kasih, dalam hati ia berkata, "kenapa ada suami yang bisa menyia-nyiakan istri sebaik dan sebijak ini?"
"Fiya, pernahkah kamu berpikir, Nak? Di dunia ini ada hal-hal yang tak bisa terus kita genggam. Saat tangan kita tak mampu lagi menggenggam, satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah melepasnya. Karena hanya dengan cara itu kita tidak akan menyakiti diri kita sendiri. Begitu juga dengan seseorang, Nak" Ayuna menatap anak perempuannya lembut. Ia tersenyum.
"Bunda tidak bisa mempertahankan Ayahmu, makanya Bunda memilih melepasnya pergi, agar kita tidak saling menyakiti. Bunda juga berharap kamu tidak membenci Bunda ataupun Ayah, ya? Tetaplah menjadi anak yang baik bagi Ayah. Satu hubungan boleh rusak, tapi hubungan yang lain tidak boleh. Kamu mengerti ya, Nak?" Shafiya gemetar, ia langsung memeluk Ayuna erat. Ia makin tak bisa menerima kenapa Yasser bisa mengkhianati perempuan sebaik Ayuna?
"Bunda, jangan menangis lagi" ucap Shafiya pelan. Ayuna tertawa pelan, "iya, Bunda janji tidak akan ada lagi tangis. Asal Shafiya bahagia, Bunda juga bahagia. Tapi kadang-kadang kita juga butuh menangis, lho. Menangis adalah salah satu bentuk mengekspresikan rasa, jadi sesekali nanti kita harus menangis, oke?"
"Oke, tapi menangis bahagia ya, Bun?" keduanya tertawa dalam pelukan.
"anak perempuanku sudah besar sekarang, Ya Allah, jagalah selalu putriku, beri dia kelembutan hati dan kebahagiaan hidup" doa Ayuna dalam hati. Lalu keduanya beranjak tidur dengan perasaan yang sedikit lega. Setidaknya, sedikit kesedihan mereka telah menguap dengan dibagi. Esok, mereka akan kembali membangun kebahagiaan dengan indah.
__ADS_1
Luka pengkhianatan yang diterimanya mungkin tidak semudah itu hilang, tapi Ayuna mencoba untuk ikhlas. Barangkali masa pernikahannya dengan Yasser hanya bisa sampai di sini. Menyesakkan, memang. Tapi Tuhan selalu tahu yang terbaik bagi hamba-Nya.