141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Masa Lalu Hamna


__ADS_3

Haidar mengendarai mobilnya menuju sebuah Kafe yang terletak di pinggiran kota. Sesampainya di Kafe tersebut, matanya memicing, mencari keberadaan seseorang yang sudah ia hubungi sebelumnya.


"Maaf mengganggu waktumu, sudah memesan sesuatu?" tanyanya seraya mengambil duduk tepat di hadapan perempuan itu.


Shafiya tersenyum, ramah. "Tidak apa, Pak. Hal apa yang ingin Pak Haidar tanyakan? Oh, ya, Pak. Silahkan pesan dulu," ucap gadis itu Haidar berdeham pelan "Terima kasih," ucapnya sambil membaca menu.


Setelah memesan minumannya sendiri, lelaki itu tampak menyugar rambutnya ke belakang. Kentara sekali bahwa Haidar tengah banyak pikiran, hal itu disadari oleh Shafiya.


Setelah beberapa menit ia menarik napas dalam, akhirnya ia bersuara. "Saya ingin bertanya sesuatu, tapi sebelum itu saya harap kamu jangan tersinggung atau pun menganggap saya berlebihan, ya."

__ADS_1


Shafiya menatap laki-laki yang pernah jadi dosennya itu, heran. "Ini tentang... Hamna, ya, Pak?" Haidar mengangguk sebagai jawabannya.


Raut wajah Haidar berubah sendu. Ia menghela napas berat sebelum berujar, dengan sabar, Shafiya menunggu, tak pernah ia lihat dosen yang menyukai sahabatnya itu tampak tak bersemangat.


"Iya, ini tentang Hamna. Lebih tepatnya, sih, saya ingin tahu seperti apa masa lalu Hamna," jelasnya, Shafiya tampak bergeming. Kenapa tiba-tiba Pak Haidar ingin mengetahui masa lalunya Hamna? Mungkinkah? batin Shafiya.


"Kenapa, Pak? Mungkinkah Pak Haidar?" tanya Shafiya ragu, takut kalau apa yang ia tanyakan itu menyinggung dosennya. Sebenarnya ia juga takut kalau Pak Haidar pada akhirnya menyerah dan meninggalkan luka tak berbekas bagi sahabatnya, Hamna.


"Saya bahkan tak peduli jika ia pernah mencintai seseorang, saya hanya ingin tahu sebagai bentuk antisipasi saya, Shafiya. Jangan sampai kejadian kemarin malam terulang kembali."

__ADS_1


"Kejadian? Kejadian apa, Pak? Terjadi sesuatu kah?" tanya Shafiya yang dijawab helaan napas berat dari Haidar. Shafiya makin penasaran. Ia menegakkan punggungnya saat Haidar tak kunjung bersuara.


"Ya, Hamna... Kata apa, ya, yang tepat untuk menggambarkan situasinya. Pokoknya sangat, sangat buruk, Shafiya. Saat saya datang ke rumahnya malam itu, keadaannya sudah kacau, Hamna meraung dan berteriak,"


"Saya menduga jika seseorang dari masa lalu Hamna itu datang tiba-tiba, di saat Hamna belum siap menerima kehadirannya lagi, dan itu memicu reaksi berlebihan dari trauma masa lalunya," jelas Haidar tanpa jeda.


Shafiya yang menyimak pun tampak mengerutkan keningnya. "Tapi, bagaimana mungkin dia kembali? Bukannya dia di luar negeri? Lagi pula, dia sudah menikah. Untuk apa dia mengganggu Hamna lagi?" gumam Shafiya yang sialnya dapat didengar oleh Haidar.


Untuk sesaat Shafiya larut dalam praduganya, mengabaikan sesosok lelaki di hadapannya itu. Hingga Haidar kembali bertanya. "Siapa dia yang kamu maksud itu? Mungkinkah dia orangnya?" Shafiya terperangah.

__ADS_1


"Eh, siapa, Pak?" tanya Shafiya mengalihkan tatapannya. Haidar mengedikkan bahunya, lalu menyesap kopi hitamnya pelan. "Yang kamu katakan tadi," ujarnya, ia kembali mengangkat cangkir kopinya.


Shafiya tampak menimbang dalam diam. Haruskah aku beritahu Pak Haidar segalanya? Tapi... Bagaimana dengan Hamna? Dan jika Pak Haidar mengetahui fakta-faktanya akankah dia tetap menerima Hamna dan memperlakukan Hamna dengan baik? Astaga, aku bimbang sekali, batin Shafiya.


__ADS_2