141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Dusta Haidar


__ADS_3

"Seperti apa anggota keluargamu itu, Pak? Apakah mereka galak dan kejam? Apakah mereka bisa menerima orang asing seperti keluarga? Saya penasaran ba ... "


"Kenapa? Kamu takut? Atau kamu juga ingin menjadi bagian dari keluarga Musyaffa?" Potong Haidar cepat membuat Hamna menatapnya seketika. Kini keduanya berada di halaman. Sejak 35 menit yang lalu mereka berdua telah tiba di kediaman Musyaffa, tapi baik Haidar ataupun Hamna sama-sama enggan untuk masuk.


Haidar menarik napasnya berat, terlihat sekali bahwa ia khawatir soal perjodohan ini. Hamna memegang lengan Haidar lembut. "Tenanglah, Pak. Kita bisa melaluinya, saya pernah ikut kelas seni peran waktu sekolah menengah. Jadi, saya sangat yakin akan hal ini. We can do it! Fighting!" Ucapnya berusaha menenangkan Haidar, padahal dirinya juga tengah gusar.


"Bukan itu yang saya khawatirkan" jawab Haidar, tangannya berbalik menggenggam tangan Hamna yang dingin. "Oh, lalu apa?" Tanya Hamna lagi.


Haidar mengalihkan pandangannya ke depan. "Kamu tahu, Na? ... " Haidar menjeda ucapannya, ia menarik napas dalam-dalam. Meredam debaran jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat. Mampukah ia membawa dusta ini pada Ayah dan Ibunya? Bisakah ia tetap tenang saat bertatapan dengan mata Ibunya nanti? Sanggupkah ia meluncurkan kebohongan dengan mulus di hadapan Ayahnya? Haidar tak pernah berbohong soal apapun sebelumnya. Bahkan pada gadis yang ia sukai sekalipun, semuanya ia katakan dengan jelas kepada Ibunya, Hannah.

__ADS_1


"Kalau Pak Haidar tidak ingin memberitahukannya, tidak apa-apa. Beberapa hal memang tidak bisa dikatakan kepada orang lain. Tapi saya benar-benar jadi penasaran sekarang" ucap Hamna memerhatikan gerak-gerik Haidar yang sebentar-sebentar melamun dan gelisah. Hamna bisa memakluminya, tapi tetap saja Hamna merasa gemas sendiri.


Laki-laki itu menatapnya, wajahnya yang tampan berubah pias dan dahinya dipenuhi oleh keringat dingin. "Saya takut, Na. Saya tidak tahu apakah yang saya lakukan ini benar atau tidak. Saya tidak ingin membohongi keduanya, tapi juga tidak mau menerima perjodohan ini. Saya harus apa, Na?" ucapnya bergetar.


Hamna yang melihat kekhawatiran kecil dan wajah pucat pasi Haidar berusaha menahan tawanya. Ia mengambil sapu tangan Haidar dan mengelap dahi Haidar penuh perhatian. Perlakuannya itu benar-benar membuat degup jantung Haidar terus berpacu, laki-laki itu dibuat berdebar dan terpesona oleh Hamna.


"Waktu saya pertama kali bertemu Pak Haidar di kantin, saya berpikir bahwa Pak Haidar adalah orang yang tidak sopan, menyebalkan dan paling menjengkelkan sedunia. Tapi, malam ini Pak Haidar telah membuktikan sesuatu kepada saya. Pak Haidar ternyata laki-laki paling baik dan pengertian yang pernah saya temui" ujar Hamna, laki-laki itu masih fokus mendengarkan.


"Pak Haidar tahu? Saya sangat terkesan untuk itu. Dalam beberapa waktu, saya merasa bahwa Pak Haidar yang sesungguhnya memanglah orang baik. Almarhumah Ibu saya pernah berkata, orang baik akan selalu berjaya dalam hidupnya." Hamna mengumbar senyumnya membuat Haidar terpana berkali-kali.

__ADS_1


"Jadi?" tanya Haidar seolah tahu ucapan Hamna belum sepenuhnya selesai. "Jadi ... untuk hal ini, saya juga yakin kita bisa melakukannya dengan baik, karena Pak Haidar adalah orang baik. Get the point?" Haidar menggeleng.


Hamna menepuk jidatnya pelan. "Okay, saya tahu. Begini, Pak Haidar melakukan kebohongan ini bukan untuk menipu dan mengecewakan kedua orang tua Pak Haidar. Ya, meskipun kita tahu, sesuatu yang diawali dengan kebohongan tidak akan pernah berakhir baik. Tapi ... menjalani suatu hubungan atas dasar terpaksa juga tidak akan berjalan mulus" jelas Hamna.


"Kamu berpikir begitu?" Hamna mengangguk, "kamu ternyata bijak juga, ya, Na" puji Haidar membuat Hamna semakin tersipu.


"Pak Haidar masih khawatir sekarang?" Haidar menggelengkan kepalanya pelan, "tidak, kamu kan sudah menenangkan saya" jawabnya sambil tersenyum.


"Kita masuk sekarang, Na?" Hamna tersenyum manis. Lalu keduanya turun dan melangkah masuk bersama.

__ADS_1


__ADS_2