
Hamna terus memandangi dirinya di depan cermin. Pantulan diri yang sedang dipandanginya itu tampak berbeda hari ini. Tubuh ramping nya yang dibalut gaun satin berwarna kecoklatan dengan hijab warna senada membuatnya terlihat lebih anggun dan elegan. Hamna, tampak sangat cantik malam ini.
Bibirnya merenda senyum kala melihat cerminan dirinya. "Mbak Na cantik sekali hari ini" puji Bi Ina yang sedari tadi membantunya bersiap. Perempuan setengah baya itu tak berkedip memandangi wajah Hamna, lisannya terus mendendangkan tasbih.
Hamna tersipu, pipinya semakin berwarna kemerahan. "Terima kasih, Bi Ina. Ayo turun ... Oh iya, Bibi sudah berkemas?" Tanyanya, ia teringat bahwa Bibi Ina-nya itu akan pulang kampung.
Bi Ina mengangguk, "sudah sejak sore, Mbak" Hamna bernapas lega. "Alhamdulillah. Berangkat lebih awal ya, supaya tidak ketinggalan pesawat juga supaya tidak terjebak kemacetan" ucapnya panjang lebar, Bi Ina hanya mengangguk-anggukkan kepala. Dalam hati, diam-diam ia bersyukur memiliki majikan yang baik hati dan pengertian.
Hamna berjalan membuka lemarinya, ia mengambil amplop berisi uang, lalu ia memberikannya kepada Bi Ina. Perempuan itu kebingungan. "Mbak Na ini apa?"
"Itu ongkos Bi Ina buat pulang, semoga bisa sedikit membantu keluarga di sana, ya" mata Bi Ina sudah berkaca-kaca menahan tangis. "Masyaa Allah, terima kasih banyak Mbak Na. Semoga Allah membalas kebaikan Mbak Na berkali-kali lipat ... "
"Aamiin, aamiin, aamiin. Sudah, Bi, jangan menangis. Semoga Ibunya Bi Ina cepat sembuh, ya" ucap Hamna sambil mengembangkan senyumnya. Tangannya yang halus mengusap air mata perempuan itu.
Suara klakson mobil terdengar dari luar rumah. "Mbak Na, sepertinya Pak Dosennya Mbak Na sudah datang" ujar Bi Ina sumringah. "Sepertinya begitu. Baiklah, ayo turun sekarang, Bi. Oh ya, Bi Ina jangan lupa kunci semua pintu ya. Aku kayaknya pulang terlambat. Kabari aku kalau Bibi sudah mau berangkat, oke?"
__ADS_1
Ina mengangguk, "baik Mbak Na, hati-hati ya. Semoga berhasil." Hamna mengambil tasnya lalu turun ke bawah. Ina mengantarkannya sampai ke depan gerbang. Ditatapnya kepergian Hamna dengan doa-doa kebaikan. Semoga tuan putri yang dijaganya selama ini selalu dalam lindungan-Nya dimanapun ia berada.
...*****...
Haidar menatap Hamna tanpa jeda. "Cantik sekali" gumamnya saat melihat Hamna yang berjalan pelan ke arahnya dengan anggun. "Dia seperti bidadari yang baru turun ke bumi, ya kan?" Ia berbicara pada dirinya sendiri. Bahkan saat Hamna sudah berdiri di hadapannya, ia tak bisa memalingkan pandangannya ke arah lain.
"Pak Haidar?" panggil Hamna. Haidar tampak terperanjat, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal "ah? Oh. Kamu ... Terlihat cantik sekali malam ini, Na" pujinya tulus membuat pipi Hamna bersemu merah.
"Kita berangkat sekarang, Pak?" Hamna mengalihkan topik pembicaraan. Haidar mengangguk lalu membukakan pintu mobil untuk Hamna. Perlakuan Haidar padanya membuat degup jantung Hamna berdetak lebih cepat. Hamna berulang kali menarik napas, berusaha menenangkan irama jantungnya.
Lalu setelah memasang seatbelt dengan benar, dan memastikan Hamna duduk dengan nyaman. Haidar melajukan mobilnya. Hening beberapa saat, Hamna lebih senang memerhatikan jalanan dibanding berbicara. Sedang Haidar sibuk dengan gelisah yang menangkup hatinya. "Kuharap tidak ada keributan atau apapun" ia memohon dalam hati.
Matanya beralih memandang Hamna, gadis itu tampak sempurna bahkan hanya dengan menopang dagu. "Na, mau pergi makan dahulu?" tanyanya, Hamna menoleh keningnya berkerut. "Kenapa? Bukannya di rumah Musyaffa ada jamuan besar?" Ia bertanya heran.
Haidar menggeleng, "kamu percaya kita akan sungguhan makan di sana? Saya bahkan berpikir kita tidak akan bisa meminum segelas air pun, Na. Tolong jangan terkejut dan mainkan peran kita dengan baik, oke?" Haidar tertawa sumbang.
__ADS_1
Hamna seolah mengerti, "baiklah ... " ia kembali menatap jalan di hadapannya, tak mau tahu lebih banyak. Ia sudah cukup tahu dengan hal-hal semacam itu dan sering menghadapinya. Orang-orang kalangan atas selalu mempertimbangkan pernikahan bisnis demi merger dan reputasi perusahaan.
Dan Hamna merasa muak dengan itu, seolah pernikahan adalah hal yang biasa dilakukan demi bisnis. Terlebih lagi, ia merasa heran, ternyata dosennya, yang sudah menyandang nama besar keluarga Musyaffa pun akan mengalami pernikahan paksaan semacam ini. Dunianya orang kaya memang rumit.
Baik Haidar dan Hamna sama-sama menghela napas.
"Kamu tidak bertanya kenapa, Na?" Haidar membuka obrolan kembali. Hamna yang tengah fokus memerhatikan lalu lalang jalan raya seketika mengalihkan pandangannya kepada Haidar.
"Tidak ... Saya sudah cukup tahu, Pak. Jangan khawatir."
Haidar menghela napas berat. "Aih ... kenapa saya juga bisa terlibat dalam pernikahan semacam ini? Tanpa cinta, pernikahan tak lebih dari hal yang dipaksakan. Menyedihkan sekali" keluhnya.
Gadis itu mengerutkan kening, tak percaya, ternyata seorang Haidar juga bisa mengeluh, ia tertawa singkat. "Konon katanya, cinta bisa hadir dengan sendirinya setelah pernikahan, lho, Pak" ejek Hamna.
Haidar mendengus "oh, please. Don't say anything right now, okay?" Hamna menutup mulutnya, menahan tawa melihat Haidar yang tampak frustasi. "Okay, sorry" ucap Hamna sambil mengacungkan dua jarinya.
__ADS_1