141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Toko Buku


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Hamna sudah berdiri di depan pintu kediaman Musyaffa. Ia memencet bel. Tak lama seseorang membukakan pintunya.


"Siapa yang datang, Bi?" Teriak Hannah dari dalam, Ia pun menghampiri sang Bibi yang masih berdiri di depan pintu.


"Selamat pagi, Nyonya Musyaffa" sapa Hamna sopan. Hannah terkejut sekaligus bahagia ketika tahu bahwa tamu yang datang adalah Hamna. Senyum bahagia menghiasi wajahnya pagitu itu, 'wah calon menantu datang' batinnya.


"Pagi juga Hamna. Ayo ayo masuk dulu" ucapnya sembari mempersilahkan Hamna masuk. Ia memelototi ART-nya yang tidak langsung mempersilahkan calon menantunya masuk. Si Bibi hanya tertunduk malu, lalu tangannya dengan cekatan membawakan keranjang buah yang tadi dibawa Hamna.


"Hamna sudah sarapan belum? Ayo ikut sarapan dulu?" Hannah menawarkan.


Hamna menolak dengan lembut. "Sudah, Nyonya. Hamna sudah sarapan. Terima kasih"


"Eh, kenapa panggil Nyonya. Panggil saja Ibu, jangan sungkan begitu! Ayo ikut duduk, minum kopi atau teh bagaimana?" Hamna mengangguk


Mata indah Hamna menatap ke arah meja makan. Di sana ia melihat kepala keluarga Musyaffa yang sedang sarapan. Ia tersenyum kaku kepada laki-laki setengah baya itu.


Fawwaz Musyaffa tersenyum hangat kepada Hamna ketika melihat kode istrinya yang menyebut 'calon menantu' ia geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya yang begitu semangat dengan kehadiran Hamna di rumahnya.


"Selamat Pagi, Pak" ujar Hamna sambil menundukkan kepala penuh hormat. Melihat Fawwaz, ia seperti melihat ayahnya di setiap pagi saat mereka akan sarapan. Hamna juga melakukan hal yang sama, jika ia mendapati ayahnya berada di meja makan lebih dulu, ia akan mengucapkan selamat pagi dan menundukkan kepala sebagai rasa hormat. Lalu Ayahnya akan mengusap kepalanya dan menuntunnya untuk duduk.


"Mari Hamna duduk. Sarapan dulu" Fawwaz mengusap pucuk kepala Hamna dengan tangannya dan mengarahkannya agar duduk di samping kiri meja makan. Perlakuan Fawwaz membuat Hamna tertegun sesaat. Ia benar-benar merasa seperti berada di tengah keluarga. Fawwaz benar-benar memperlakukan Hamna dengan istimewa, semata agar istrinya merasa senang.


Hamna duduk dengan perasaan yang sulit ia gambarkan. Ia merasa senang dan sedih sekaligus. "Terima kasih, Pak. Hamna tadi sudah sarapan di rumah." Hamna berusaha mengembangkan senyumnya.


"Hamna mau jenguk Haidar ya?" tanya Hannah. Hamna menoleh ke arahnya, "Eh, iya Bu. Pak Haidar bagaimana keadaannya?"


"Haidar sudah sehat, dia ada di kamar. Hamna langsung naik saja. Bibi, tolong antar Hamna ke atas ya"


Hamna minggir dari meja makan dan membiarkan Hannah dan Fawwaz. Lalu ia beranjak mengikuti sang Bibi ke atas. Sesampainya di atas, Sumi—ART yang mengantarkannya langsung pergi, meninggalkan Hamna di depan pintu kamar Haidar.


Hamna langsung membuka pintu yang ternyata tidak dikunci. Sedang di dalam kamar, Haidar baru saja selesai mandi dan sedang berpakaian. Ia menoleh ke arah pintu ketika terdengar suara derit pintu yang dibuka. Hamna mematung melihat Haidar yang masih mengenakan handuk putih. Begitu juga Haidar yang terdiam tak percaya melihat sosok Hamna yang muncul tiba-tiba di pintu.


Belum sempat Haidar bersuara, Hamna buru-buru menutup pintunya dengan keras hingga menimbulkan bunyi bedebam yang keras. Haidar cepat-cepat mengenakan jubah mandinya untuk menutupi dadanya. Haidar membuka pintu. Hamna masih mematung di sana.


'Oh astaghfirullah... Aku seharusnya mengetuk pintu dulu. Ya ampun Hamna... Apa yang sudah kamu lakukan?' batinnya.


"Hamna? Kamu ada di sini?" tanya Haidar. Kepalanya yang masih basah sehabis mandi, menyembul dari balik pintu. Membuat Hamna terlonjak kaget.


"Eum ... Iya ... Itu ... Aku, eh ... Saya datang untuk menjenguk" jawabnya tergagap. Haidar mengernyitkan kening.


"Maaf, Pak. Saya akan tunggu di bawah saja. Permisi" ucap Hamna langsung berlalu pergi. Membiarkan Haidar yang masih kebingungan. "Ada apa dengannya?"


Setelah Haidar merasa dirinya sudah rapi dengan setelan berwarna navy ia akhirnya turun. Sekali lagi, laki-laki itu mematut dirinya di cermin, memerhatikan penampilannya hari ini, tak lupapula menyemprotkan parfum favoritnya. 'Maa syaa Allah kamu tampan sekali!' ujarnya, memuji diri sendiri.

__ADS_1


"Selamat pagi, Ayah Ibu" sapanya pada Fawwaz dan Hannah. "Pagi juga, Nak. Mau cari Hamna ya? Dia ada di ruang tamu" belum sempat Haidar berkata, Hannah sudah menebak isi pikirannya.


Gadis cantik itu sedang duduk di sofa sembari memainkan ponselnya. Haidar berdeham, "Sorry, ya Na sudah menunggu" ujar Haidar sembari tangannya meletakkan dua cangkir kopi yang tadi dibawanya dari dapur ke atas meja. Lalu duduk tepat di hadapan Hamna, membuat gadis itu kehilangan fokus.


"Eh. Pa ... Pagi, Pak" jawabnya tergugup. Sejujurnya ia merasa malu jika mengingat apa yang telah dilakukannya tadi.


"Kenapa nada bicaramu gugup begitu, Na? Kamu lagi radang tenggorokan ya?" tanya Haidar merasa heran dengan sikap Hamna yang tidak seperti biasanya.


"Tidak ada apa-apa" elak Hamna menyangkal.


Lalu keduanya meminum kopi mereka dengan pelan. Hamna diam-diam menarik napas lega, 'fyuuuuh, untunglah dia tidak mempedulikannya. Yang tadi itu benar-benar memalukan.'


"Oh, ya ... Ada apa datang ke sini pagi-pagi? Tidak mungkin kan kalau kamu mau bimbingan." Haidar bertanya, saat di atas, Haidar hanya mendengar kalau Hamna hanya berniat menjenguk. Tapi, gadis itu langsung pergi sebelum ia bertanya menjenguk siapa.


"Eh kalau itu ... Tadinya ... Saya mau menjenguk dan melihat keadaan Pak Haidar. Tapi, sepertinya Pak Haidar sudah lebih sehat hari ini."


Haidar tertawa, "hahaha... Iya, saya sudah lebih sehat. Semuanya berkat dokter Hamna yang sudah berbaik hati merawat dosen yang kurang perhatian ini." Katanya. Mata kebiruan miliknya menatap Hamna intens.


"Itu hanya sebuah balas budi" jawab Hamna mulai agak ketus lagi. Ia mengalihkan pandangannya dari wajah Haidar, tak sanggup kalau harus ditatap begitu intens oleh Haidar.


Haidar memiringkan wajahnya, tangan kirinya menopang wajahnya yang tampak berseri itu. Katakanlah bahwa menatap wajah seseorang yang kau cintai adalah sebuah kebahagiaan. Maka Haidar ingin menatap wajah Hamna dengan lama. Selama waktu yang ia punya.


"Kalau begitu, saya akan membuat kamu terus berhutang budi, bagaimana?" Haidar menatap lucu Hamna yang memutar bola matanya.


"Tidak. Untuk apa saya ke kampus kalau Pak Haidar saja berada di rumah dan bersantai?"


"Kamu ada benarnya juga, kehadiran saya ternyata begitu penting, ya. Lalu, apa kegiatanmu hari ini, Na? Kamu tidak mungkin bermalas-malasan seharian, kan?"


"Tidak, rencananya saya akan ke toko buku hari ini, setelah itu mungkin akan pergi mengunjungi Fiya dan Bibi Ayuna"


"Ke toko buku? Kamu mau beli buku?" rasa penasaran Haidar timbul lagi. Rasanya, ia ingin menelisik lebih jauh semua hal tentang Hamna. Apa saja hal yang disukainya? Apa hal yang ia benci? Apa bunga favoritnya? Warna apa yang ia sukai? Sepertinya benar bahwa seorang pecinta selalu ingin tahu apapun tentang kekasihnya.


"Tidak tahu pasti, mungkin hanya sekadar jalan-jalan dan melihat-lihat saja. Jika ada buku yang saya suka, saya akan membelinya" jawab Hamna, ia kembali meminum kopinya yang tersisa.


"Ooow ... Begitu ya" Haidar mulai memikirkan sesuatu. Hamna sepertinya menyukai buku-buku. Kalau begitu aku akan menghadiahinya beberapa buku, tapi buku apa yang disukainya? Oh atau tidak nanti ketika di sana ia akan mengejutkan Hamna dengan membayar semua buku-bukunya, ya seperti itu pasti akan membuat Hamba terkesan.


Haidar mengembangkan senyumnya, bangga dengan rencananya. Lalu ia bangkit, "Ayo pergi sekarang!" Teriaknya, membuat Hamna sedikit terkejut.


"Eh? Pak Haidar mau ke mana?"


"Ke toko buku. Tunggu sebentar ya! Saya ambil kunci mobil dulu ke atas. Kau tunggu di sini." Haidar bergegas berlari ke atas.


"Tapi ... "

__ADS_1


"Ada apa Hamna? Kenapa Haidar pergi dengan berlari begitu?" Hannah muncul sesaat Haidar pergi. Perempuan setengah baya itu membawa nampan berisi kudapan ringan.


"Hah? Oh, aku tidak tahu, Bu. Tiba-tiba saja dia pergi"


"Aduh, Haidar itu memang suka bertindak seenaknya. Jangan terlalu dihiraukan, ya! Ini ayo dimakan dulu camilannya."


Netra Hamna mengikuti gerak-gerik, perawakan dan gaya bicara perempuan setengah baya itu. Semakin diperhatikan, semakin rindu ia pada mendiang ibunya. 'Ibu, jika engkau masih ada, engkau pasti akan menyayangi dan memanjakan aku, kan?'


"Hamna? Kok bengong, Nak? Ada yang mengganggu pikiranmu, ya?" Tanya Hannah sembari mengusap pundak Hamna lembut.


"Tidak ada apa-apa kok, Bu"


"Kalau ada sesuatu jangan sungkan untuk bilang, ya. Jangan dipendam sendiri, tidak baik."


"Iya, Bu."


"Ya sudah, ayo dimakan dulu camilannya. Kopinya mau ditambah lagi?"


"Tidak, Bu. Ini sudah cukup. Lagipula sebentar lagi Hamna sudah mau pergi, kok"


"Ah? Sudah mau pergi? Aih tinggallah lebih lama di sini, nanti Ibu ... "


"Ayo, Na. Kita berangkat" Haidar datang menyela obrolan Hannah dan Hamna. Haidar sudah rapi, kali ini ia mengenakan jaket denim dan sepatu yang berwarna senada.


"Lho kalian mau pergi bersama?" Hannah bertanya, sang Ibu itu baru menyadari sesuatu. Rupanya anak laki-lakinya itu mau berkencan. Pantas saja ia pergi terburu-buru tadi. Mendadak perasaan bahagia menyerang hatinya.


"Iya, Bu. Mau ke toko buku. Kenapa?" Jawab Haidar santai.


Mata Hannah semakin berbinar. "Tidak apa-apa!" Ia menarik pundak Haidar dan berbisik pelan, "Kamu jangan lupa nanti belikan Hamna sesuatu! Bayarkan semua buku-bukunya atau tidak belikan juga dia bunga yang paling bagus, cokelat atau langsung cincin juga tidak apa-apa. Ini, kamu bawa saja kartu kredit punya Ibu!"


Hannah memberikan kartu kreditnya itu kepada Haidar. Mendengar celotehan Ibunya itu Haidar malah kebingungan.


"Ya sudah, hati-hati ya! By the way, baju kalian sangat serasi. Kalau begitu Ibu pergi dulu, Ibu masih ada pekerjaan. Kalian hati-hati ya di jalan. Haidar jangan mengebut bawa mobilnya, kamu harus menjaga Hamna dengan baik" suara Hannah menghilang bersamaan dengan dirinya pergi menjauh.


Hamna terpaku di tempat. Sedang Haidar menepuk jidatnya, merasa aneh dengan kelakuan ibunya. "Sorry, ya Na. Ibuku memang terlalu over dalam beberapa hal"


"No. I like your mother, Sir. Ibumu sangat ceria dan periang." Jawab Hamna memuji.


"Dan ... Saya juga baru sadar kalau kita pakai baju warna senada" ucap Hamna lagi masih dengan senyum yang tak disadarinya.


Mendengar itu, Haidar pun ikut tersenyum. Hatinya berdesir hangat. "Ya, saya juga baru menyadarinya. Kita pergi?"


"Iya. Ayo"

__ADS_1


__ADS_2