
Langit tampak cerah di langit Los Angeles. Kota yang dijuluki City of Angels itu menjadi tempat di mana Hamna mengejar pendidikan dan karirnya. Atau bisa dikatakan kota tempatnya 'melarikan diri' dari semua orang yang disayanginya.
"3 tahun berlalu begitu cepat, apa kabar mereka, ya? Sedang apa? Apakah mereka baik-baik saja?" Hamna bertanya-tanya, matanya menerawang jauh ke luar gedung.
Gedung-gedung pencakar langit yang tinggi menjulang adalah pemandangan yang sering Hamna lihat sejak ia resmi masuk ke perusahaan ini. Perusahaan yang Ayahnya bangun.
Ingatannya terbang saat di mana mendiang orangtuanya masih hidup. Saat ia masih di kursi sekolah dasar, Ayahnya selalu mengingatkannya untuk belajar dengan giat, karena kelak Hamna harus mewarisi kedudukan Ayahnya.
Maka dari itu, Hamna selalu berusaha keras mendapat nilai yang terbaik. Dukungan Ayah dan Ibunya membuatnya kian gemilang di sekolah, seolah benar-benar mempersiapkan dirinya untuk itu.
Namun, kejadian naas terjadi pada Hunain sekeluarga, sedangkan Hamna belum siap menerima tanggung jawab besar saat itu. Ia masih terlalu dini untuk memangku jabatan Ayahnya.
Kemudian Pamannya mengambil alih hampir seluruh bisnis Ayahnya, tetapi berkat surat peninggalan Ayahnya yang menyatakan selama Hamna bersedia memangku kekuasaan dan amanah besar itu, tidak ada siapapun yang boleh menghalanginya.
__ADS_1
Awalnya Hamna tak berpikir untuk meneruskan apa yang telah Ayahnya mulai, namun setelah kejadian yang mengoyak harga dirinya itu, Hamna jadi bertekad untuk mengembangkan karirnya dan jadi lebih unggul. Sehingga di sinilah sekarang ia berada. Menggantikan posisi Sang Paman.
Pada permulaannya jajaran direksi menolak pergantian direktur yang mendadak itu. Namun dengan kemampuan dan kepercayaan diri yang kuat, Hamna berhasil membuktikan bahwa dirinya layak untuk menempati posisi direktur utama.
"Permisi, Bu. Ini laporan yang Anda minta," suara derit pintu dibuka bersamaan dengan seorang perempuan yang masuk merusak lamunan panjangnya.
"Ya, letakkan saja di meja," ucapnya seraya kembali menduduki kursi kebanggannya sekarang.
Asisten itu menunduk. "Sudah, seperti yang Ibu minta," jawabnya hormat.
"Lalu, bagaimana jawaban mereka?"
"Belum ada kepastian, Bu. Sepertinya pihak sana masih menimbang-nimbang," jawabnya sedikit ragu, takut jawabannya akan membuat Hamna kecewa.
__ADS_1
Hamna mengangguk-angguk mengerti. "Baiklah, tidak apa, beritahu aku jika sudah ada kabar baik. Bagaimana pun wajar bagi mereka untuk menimbang keputusan finalnya. Meski sebenarnya aku juga berharap besar, mereka akan menerima kerja sama ini."
Asisten itu tampak menyetujui ucapan atasannya. "Jika mereka menerimanya, bukankah ini akan jadi kesempatan besar Ibu untuk membuktikan kepada direksi dan menambah relasi yang lebih luas lagi, ya, Bu?" Hamna tersenyum.
"Kamu semakin cerdas, nanti temani aku ke Kafe menemui klien, ya." Asisten itu tampak sumringah. Lalu segera meninggalkan ruangan Hamna.
Sedangkan Hamna kembali berkutat dengan pekerjaannya, berusaha mengabaikan perasaan rindu yang mendera, menyiksa jiwanya yang ringkih. 3 tahun ini begitu sulit baginya.
Tangannya tiba-tiba terulur, netranya memandangi cincin yang hampir 3 tahun ini tak pernah dilepasnya. "Pak Haidar," lirihnya seraya tersenyum simpul. Mengingat Haidar, hatinya kembali dilanda rindu.
"Entah sedang apa kamu di sana, kuharap kamu baik-baik saja ... Di sini, rindu itu tetap kurajut meski kabar tentangmu kututup rapat."
***
__ADS_1