141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Kaivan dan Tanaya


__ADS_3

Pukul 10 pagi, Hamna dan Haidar sudah berdiri di depan sebuah rumah yang letaknya tidak cukup jauh dari Bandara Changi. Setelah menempuh perjalanan selama 18 jam lamanya dan beristirahat selama sehari. Akhirnya keduanya memutuskan untuk mengunjungi Kaivan hari ini.


"Jangan terlalu gugup, dia cukup bersahabat. Terlebih lagi dia kenalan lamaku, aku cukup mengenalnya, dia tidak sekejam itu, jangan terlalu percaya dengan rumor di internet," Haidar kembali mengingatkan. Selama di pesawat Hamna terus membaca artikel tentang Kaivan Syahreza, pebisnis muda yang selalu tegas dan tak kenal toleransi terhadap kesalahan.


Membuat gadis itu diliputi kekhawatiran yang berlebihan. "Kamu harus belajar membawa diri, dalam pekerjaanmu ini kamu pasti akan bertemu dengan orang-orang besar. Saat itu, jika kamu terlihat gugup, mereka akan meremehkanmu tidak berwibawa," kata Haidar lagi.


Hamna mengangguk dan menarik napas beberapa kali, menetralkan kegugupannya. Seolah ucapan Haidar tadi benar-benar dicatatnya dengan baik. Memang benar, sejauh ini ia sudah banyak bertemu orang-orang hebat, ia cukup profesional sebenarnya. Tapi, ia benar-benar gugup saat mencari tahu berita Kaivan Syahreza begitu luar biasa.


"Sudah siap?" Hamna mengangguk yakin. Lalu, Haidar menekan bel pintu beberapa kali, tak lama pintu dibuka, seorang ART berdiri menyambut mereka.


"Halo, ada perlu apa?" tanyanya ramah.


"Pak Kaivannya ada? Saya sudah buat janji dengan beliau 3 hari yang lalu," kata Haidar menjelaskan. Sang ART itu tampak membuka pintu lebih lebar, mempersilahkan Hamna dan Haidar untuk masuk.


"Silahkan duduk dulu, mau minum apa Tuan dan Nona?"


"Kopi saja, terima kasih." Setelah itu ART itu pergi ke dapur untuk membuatkan mereka kopi. Hanya berselang beberapa menit dari itu Kaivan datang dengan menggendong seorang bayi.


"Hei, Dar. Sudah lama menunggu?" tanya Kaivan, Haidar sontak berdiri menyalaminya ramah dan merangkulnya untuk beberapa saat.


"Baru saja datang, bagaimana kabarmu?" Haidar melepaskan rangkulannya.


"Yah seperti yang kamu lihat, sangat bahagia," canda Kaivan sambil menepuk bahu Haidar berkali-kali.


Pandangan Kaivan beralih kepada Hamna yang sedari tadi diam memerhatikan keduanya. "Eh ini pasti Hamna yang kau ceritakan itu, kan?" Kaivan menyikut lengan Haidar.


"Iya. Hamna, ini Pak Kaivan Syahreza yang kuceritakan dan Kai ini adalah Hamna, kau pasti sudah mengenalnya." Gadis itu menunjukkan senyuman ramahnya, Kaivan mengangguk. Lalu mempersilahkan keduanya untuk duduk.


Seorang ART datang membawakan 4 cangkir kopi di meja. Setelah menata beberapa kudapan ringan, ia undur diri. Kaivan mempersilahkan keduanya untuk minum.

__ADS_1


Sedangkan ia sendiri sibuk dengan anaknya yang merengek. Bayi itu baru berusia 2 bulan. Mata Kaivan terus melirik ke arah tangga, sepertinya belum ada tanda-tanda, Tanaya, istrinya akan turun.


Melihat Kaivan begitu kerepotan, Hamna tak bisa menahan diri untuk membantu. "Maaf, Pak Kaivan. Kalau boleh biar saya bantu gendong, apakah si bayi sudah makan?" tanya Hamna. Biasanya jika bayi menangis, antara ia merasa lapar atau tak nyaman.


Kaivan tampak kewalahan, anaknya semakin kencang menangis. "Ah sepertinya belum, bisa bantu aku menggendongnya? Aku akan buatkan dia susu dulu." Kaivan memberikan Baby Kaf untuk digendong Hamna.


"Kau bisa membuatnya, Kai?" Haidar bertanya ragu. Ia cukup tahu karakter Kaivan itu. Mustahil ia bisa melakukan hal seremeh membuat susu.


Kaivan menggeleng pelan dan tersenyum kikuk. "Kau bisa membantuku, kan, Dar?" bisiknya agar tak terdengar orang lain.


Haidar menepuk keningnya. "Aku sudah bisa menebaknya, kau mana mungkin bisa membuat susu," kata Haidar sedikit meledek. "Ayo, biar kubantu," katanya lagi. Kaivan dan Haidar pun pergi ke dapur untuk membuat susu.


Dari arah tangga, Tanaya berjalan mendekati Hamna. "Maaf, kamu siapa, ya?" selidiknya. Gadis yang sedang menimang bayi itu tampak terkejut dengan kehadiran Tanaya yang tiba-tiba.


Hamna tampak memerhatikan Tanaya dari atas sampai ke bawah. "Kenapa kamu bisa menggendong anak saya?" tanyanya lagi lantaran Hamna tak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Anak? Anda pasti Bu Tanaya, ya? Istrinya Pak Kaivan?" tanya Hamna sedikit merasa lega. Tanaya mengangguk.


"Pak Kaivan dan Pak Haidar sepertinya masih di dapur untuk membuat susu," jawab Hamna.


"Eh memangnya kedua laki-laki itu bisa membuatnya? Kalau Kaivan aku benar-benar ragu," kata Tanaya seraya mengajak Hamna untuk duduk kembali di sofa.


"Sekali lagi terima kasih, ya sudah membantuku menjaga Baby Kaf. Aku sudah mengatakan kepada Kaivan untuk membangunkanku kalau Baby Kaf menangis, tapi dia bersikeras membiarkanku tidur sepagi ini," terang Tanaya seolah takut Hamna menyalahkannya karena tidak menjaga bayinya dengan baik.


Hamna tersenyum. "Tidak apa-apa, sama sekali tidak merepotkan, Baby Kaf anak yang baik. Aku cukup mengerti, menjadi seorang Ibu tidaklah mudah," Hamna bersimpati.


Memang benar, menjadi Ibu tidaklah mudah. Apalagi saat pertama kali memiliki anak. Hamna cukup tahu kesulitan menjadi seorang Ibu, di lingkungannya tinggal, ia juga memiliki tetangga yang merupakan seorang Ibu muda yang baru melahirkan. Seorang Ibu itu tampak sangat kelelahan setiap harinya. Hamna bahkan kerap membantu tetangganya menjaga anaknya saat Hamna senggang. Agar Sang Ibu itu memiliki sedikit waktu untuk beristirahat.


"Melelahkan tapi menyenangkan," timpal Tanaya. Keduanya tersenyum, sama-sama memerhatikan Baby Kaf yang pulas tertidur.

__ADS_1


Tak lama, Kaivan dan Haidar kembali dengan sebotol susu. Keduanya tampak memerhatikan interaksi dua perempuan yang bercengkrama hangat itu.


"Itu istrimu, kan, Kai? Apakah dia mengenal Hamna? Mereka tampaknya sangat akrab," tanya Haidar. Kaivan pun tampak bingung, tak biasanya istrinya bisa begitu akrab dengan seseorang.


"Entahlah, aku juga tak tahu. Perlu kuakui selama kami tinggal di Singapura, Tanaya memang jarang bergaul dengan perempuan seusianya. Aku rasa dia membutuhkan seorang teman untuk sekadar mengobrol, mungkin itu sebabnya dia bisa begitu akrab dengan Hamna-mu itu," ujar Kaivan. Ya sebenarnya ia juga tak tahu pasti.


Tapi bukankah perempuan memang begitu adanya? Mereka bisa langsung akrab saat merasa lawan bicaranya cukup sefrekuensi dengannya?


"Maaf, Sayang. Baby Kaf sudah tertidur, ya?" tanyanya sambil melirik Baby Kaf yang sudah berada di dalam Baby Bouncer. Tanaya mengangguk sebagai jawabannya.


Haidar dan Hamna memerhatikan interaksi keduanya dan saling pandang, lalu saling melempar senyum.


"Oh, ya, sebelumnya aku minta maaf karena kalian harus direpotkan dengan urusan anakku. Untuk selanjutnya, ayo kita bahas di ruang kerjaku," ajak Kaivan. Hamna dan Haidar mengikutinya ke sebuah ruangan.


Hamna mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu. Ada dua buah meja kerja saling berhadapan lengkap dengan seperangkat komputer. Di tepinya ada rak buku dan berbagai pajangan.


Setelah mempersilahkan keduanya duduk, Kaivan langsung berubah serius. Ia memakai kacamata bacanya. Ia duduk dengan menumpu kakinya pada kaki yang lain. Hal yang sama juga dilakukan Haidar. Keduanya benar-benar serius saat berurusan dengan pekerjaan.


"Aku sudah mendengar tentangmu dari Haidar sebelumnya. Katanya, kau ingin mengajukan proposal kerja sama, benar?" tanyanya serius. Hamna mengangguk cepat.


Ia mengambil sebuah berkas dari tasnya lalu memberikannya kepada Kaivan. "Ini salinan proposalnya, Anda bisa membacanya dulu, Pak."


Kaivan membaca berkas itu dengan kening berkerut, sesekali mengangguk. Sebentar menatap Haidar yang sibuk menelepon, sekejap kemudian melirik Hamna.


'Tak heran jika Haidar menyukainya selama bertahun-tahun, gadis ini memang memiliki karakter dan ambisi yang tak biasa. Ck, benar-benar pasangan yang tak bisa diremehkan' Kaivan tersenyum simpul, lalu menutup berkas itu kembali.


•••


Kisah Kaivan dan Tanaya ini ada di CS Romansa "Unexpected Marriage"

__ADS_1


Jangan lupa dibaca juga, ya, Author bisa jamin banyak hal yang bisa readers dapat saat membaca kisah Tanaya dan Kaivan.


__ADS_2