141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Sepucuk Surat


__ADS_3

Sepulang dari kantor, Haidar langsung mengurung dirinya di kamar. Sudah berhari-hari ia begitu. Kegiatan hariannya sekarang hanya bangun untuk bekerja, setelah bekerja langsung kembali ke kamar. Seperti manusia yang kehilangan semangat hidupnya.


Memang benar, semenjak Hamna pergi, Haidar berubah jadi lebih dingin dan tak peduli pada lingkungan sekitar. Bahkan untuk sekadar berbicara pada Hannah dan Fawwaz pun jarang ia lakukan.


Poros kehidupan Haidar sekarang hanya bekerja dan berusaha sibuk agar ia tak terlalu memikirkan Hamna. Tidak semudah itu untuk rela meski terakhir kali ia membaca sepucuk surat itu, Haidar berkata akan menghormati keputusan Hamna.


Bagaimana mungkin ia menghalangi Hamna yang ingin mengejar mimpi dan karirnya? Ia tidak seegois itu untuk menahan Hamna. Hanya saja rasanya tetap saja berat jika Haidar mengingat Hamna pergi tanpa pamit.


"Haidar sudah pulang belum?" tanya Fawwaz yang baru kembali dari luar kota. Ia melepas jas kebanggaannya lalu bersandar di samping istri tercintanya itu.


Hannah yang sedari tadi membaca majalah itu menoleh, menyalami suaminya. "Sudah dari satu jam yang lalu," jawabnya singkat.


"Mungkin sebentar lagi turun, sudah waktunya makan malam, biar kupanggil dia," lanjut Hannah lagi.


"Tidak usah, seperti biasa saja, antarkan makanan ke kamarnya. Jangan ganggu dia, biarkan dia sendiri." Fawwaz beranjak.


"Tapi ... " Hannah bersiap untuk menyanggah. Tapi saat Fawwaz menatapnya serius ia urungkan niatnya untuk memanggil Haidar.

__ADS_1


Hannah hanya bisa menghela napas panjang. Sekejap ia menatap ke arah pintu kamar Haidar yang tertutup rapat. "Sudah sepekan anakku murung, aih, entah anak ataupun Ayah sama-sama susah untuk dibujuk."


Setelah makan malam, Hannah mengantarkan senampan makanan ke kamar Haidar. Ia membuka pintu yang ternyata tak dikunci dengan pelan, takut mengganggu sang penghuni kamar.


"Masih bekerja, Nak? Makan dulu," pinta Hannah sambil meletakkan nampan itu di meja.


"Nanti, ya, Ibu. Haidar masih sibuk," jawab Haidar sedikit enggan namun tak menghilangkan sedikitpun kelembutan pada Ibunya itu.


Hannah menggeleng pelan. Entah anak ataupun suaminya, dua-duanya sama-sama workaholic. "Kapan selesainya? Kapan Haidar punya waktu untuk mengobrol dengan Ibu? Atau Haidar sudah tidak peduli lagi, ya?" Hannah mengungkapkan isi hatinya.


Haidar terhenti dari pekerjaannya lalu menghampiri Ibunya yang sedang duduk di sofa kamarnya. "Kok Ibu bicara kayak gitu? Ada apa? Ibu mau bicara apa? Sekarang Haidar siap jadi pendengar Ibu. Jangan marah, ya?" bujuk Haidar seraya berjongkok.


"Lalu, ini tentang Hamna?" selidik Hannah, sebenarnya ia sudah tahu kabar Hamna yang pergi ke luar negeri, tapi sebagai seorang Ibu ia merasa berkewajiban untuk memastikan segala hal.


Setelah beberapa detik dilaluinya dengan bungkam. Haidar akhirnya membuka kata. "Ibu, menurut Ibu apakah egois jika kita menginginkan orang yang kita cinta menemani kita? Apakah salah?"


Hannah menerawang, benar dugaannya, anak laki-lakinya pasti murung karena Hamna pergi. Diam-diam ia juga merasa senang, ternyata anaknya sudah jatuh cinta pada seorang gadis.

__ADS_1


"Hm, menurut Ibu sih tidak. Sudah jadi hal umum kalau tiap orang yang jatuh cinta ingin orang yang dicintainya terus menemaninya, tapi ... " Hannah menggantung ucapannya, ingin melihat reaksi anak lelakinya itu.


Haidar menengadah. "Tapi apa, Bu?" Haidar mendesak. Hannah terkekeh kecil. "Ibuuuu," rengek Haidar.


"Iya, Nak. Kamu tahu tidak, dalam sebuah hubungan, cinta saja tidak cukup. Cinta sifatnya tak tentu, tanpa kedewasaan berpikir akan cepat terasa hambar."


"Cinta yang dewasa menuntut kesetaraan, entah dalam hal status keluarga, harta, pendidikan atau juga faktor lainnya. Memang benar, cinta yang murni tidak melihat hal-hal tersebut."


"Tapi dalam hubungan cinta orang dewasa, materi selalu jadi pertimbangan. Agar statusnya tidak mengusik kebahagiaanmu. Agar pendidikannya tidak menginjak harga dirimu. Agar apa yang dia punya tak merobek egomu."


Haidar setia mendengarkan. "Sebuah hubungan haruslah ringan sama dijinjing, berat sama dipikul, saling menghormati, saling menghargai, saling bertukar pikiran dan berempati. Dengan begitu barulah sebuah hubungan dapat berjalan baik." Hannah menatap Haidar sekejap.


Tampaknya anak lelakinya itu mulai memikirkan ucapannya. Ia tersenyum. "Jika Haidar benar-benar mencintainya, harusnya tetap menghargai keputusannya. Sebab cinta bukan hanya tentang ingin bersama atau tidak, tapi mencoba menempatkan diri agar setara, sedikit mengalah tentu tidak apa-apa," ucap Hannah terakhir kali lalu pamit dari sana.


Malam kian larut, Haidar masih termenung di tepi jendela, meresapi nasihat Ibunya dengan ditemani secangkir kopi. Hembusan angin sesekali menampar wajahnya yang meski beberapa hari tak bercukur pun tetap tampan.


Sekali lagi Haidar membaca surat dari Hamna. "Apakah kamu benar-benar terluka dengan ucapan Paman Hayan waktu itu, Na? Sampai kamu berani memutuskan pergi seperti ini. Jika iya, maka saya akan memakluminya. Kejarlah mimpimu, cita-citamu, karirmu, atau apapun yang kamu ingin."

__ADS_1


"Apapun keputusanmu itu. Saya akan mengikutinya, sesuai kemauanmu. Tapi, jangan pernah berpikir untuk lari dari saya, Na. Karena saya tidak akan pernah mengizinkannya," ucapnya bermonolog.


"Jika 141 hari tidak cukup bagimu, maka akan ada 141 bulan. Saya akan menunggumu kembali, sampai saat itu, jangan harap bisa menghindari saya lagi, Na." Ia menggenggam sepucuk surat itu lalu beranjak dari duduknya bersiap untuk tidur.


__ADS_2