141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Apa Kamu Pernah Mencintai?


__ADS_3

Keduanya meninggalkan mall dengan perasaan yang sama-sama tak menentu. Haidar dengan gelisah dan rasa bersalahnya. Sedang Hamna dengan hatinya yang berdebum pilu.


Apa yang dilakukan Haidar tadi sungguh mengingatkan dia pada sosok itu. Seseorang di masa lalunya 4 tahun lalu. Seseorang yang pernah mengisi kekosongan hatinya. Seseorang yang juga pernah menjadi pelipur dukanya.


Benar kata Fiya, tidak seharusnya ia terus mengingatinya, ia harus lekas melupa. Tetapi, bagi Hamna, melupakannya sama saja dengan melupakan dirinya sendiri. Ia menelan napas berat.


Ucapan Fiya terngiang kembali, membuat dada Hamna terasa sesak. "Lupakan dia, Hamna, dia sudah memiliki seorang istri, dia sudah memiliki keluarga dan hidupnya sendiri, kamu jangan terus-terusan membuat hatimu menderita. Mungkin, aku harus mengikuti saran Fiya? Mencoba membuka hati dan menerima cinta yang baru? Tapi ... bagaimana?" Pikiran Hamna berputar, perasaannya makin tak menentu.


Pandangannya beralih kepada Haidar yang sedang menopang dagunya menghadap luar jendela mobilnya, wajah laki-laki itu terlihat masam, entah apa yang sedang laki-laki itu perhatikan.


"Apa kamu pernah mencintai seseorang, Pak?" Tanya Hamna masih menatap Haidar. Tak menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu, Haidar jadi terlonjak kaget hingga dahinya membentur kaca jendela mobil. "Apa, Na? Bisa kamu ulangi? Saya tidak mendengarnya dengan baik."

__ADS_1


Hamna menghela napasnya, mungkin ia tidak seharusnya bertanya. "Tidak ada, ayo jalan saja, Pak. Oh ya, kita ke kafe dulu bisa?" Haidar menganggukkan kepala, "okay" lalu mengemudikan mobilnya.


Haidar memilih kafe yang bernuansa klasik - modern setelah tiga kali mencari tempat yang cocok. Ia sengaja memilih kafe yang tidak terlalu ramai, karena laki-laki itu merasa, suasana yang tenang adalah sesuatu yang sedang dibutuhkan Hamna saat ini. Di saat keramaian dan kebisingan dunia begitu menyeruak, maka yang diperlukan seseorang hanyalah ketenangan.


Lalu laki-laki itu memesan dua cangkir kopi dan dua potong kue keju. Setelah membayarnya, Haidar menghampiri Hamna yang sudah lebih dulu memilih kursi paling ujung di kafe itu. Seperti biasa, gadis itu selalu ingin menghindari pandangan orang lain.


Haidar memerhatikan gadis di hadapannya. Dia melamun lagi, apa tindakanku benar-benar mengusiknya? Apa yang sebenarnya sedang mengganggu hatinya? Jika begini, aku lebih suka tatapan sinisnya daripada dia yang melamun. Hamna yang begini benar-benar membuatku khawatir" batin Haidar menjerit.


Tapi laki-laki itu tak bisa melakukannya, ia hanya menggelengkan kepala, pasrah. Lalu ia mengambil duduk tepat di hadapan Hamna. Suara derit kursinya membuyarkan lamunan Hamna. Gadis itu mengangkat kepala, menatap Haidar.


"Maaf" ucap Haidar lirih, sembari tangannya memegang telinganya. Hamna menatapnya bingung, tak tahu harus berkata apa pada Haidar. Suasana menjadi canggung, Haidar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ya Rabb, aku lebih baik presentasi di depan kelas bahasa asing atau di depan Professor dibanding harus menghadapi seorang gadis" keluh Haidar dalam hati.

__ADS_1


"Pak Haidar sudah pesan sesuatu?" Hamna akhirnya bertanya, memecah canggung. Haidar mengangguk, "iya, sudah. Apa kamu mau pesan sesuatu yang lain?"


Hamna terdiam beberapa saat. Haidar masih memerhatikannya. "Jika bisa, saya ingin memesan satu potong hati yang utuh," ucap Hamna berikutnya membuat Haidar termangu. Ditatapnya lekat-lekat wajah sendu Hamna. "Tentu saja bisa, saya bisa beri apa yang kamu mau" Hamba menatapnya, serius.


"Eh maksud saya, kamu bisa memesan kue yang kamu mau di sini, as your requested, you know? Kita hanya perlu membayar lebih, begitu" jelasnya agak kaku. Sejujurnya, bukan hanya sepotong kue berbentuk hati yang ingin ia beri. Jika Hamna meminta, tentu akan ia beri seluruh hatinya.


"Ya, saya mau"


"Kamu mau hatiku atau kuenya, Na? Sungguh, jika kamu mau, kamu bisa mengambil hatiku dan memilikinya. Aku bisa memberimu hati yang utuh dan cinta yang kamu harapkan. Selama kamu memberiku kesempatan itu, apa yang tidak akan kuberi untukmu?" Lirih Haidar.


"Oke, saya pergi pesankan dulu untuk kamu, ya"

__ADS_1


Tak lama kemudian, Haidar kembali lagi dengan pramusaji yang membawakan nampan berisi pesanannya, dua cangkir kopi, dua potong kue keju dan sepotong kue berbentuk hati yang diinginkan Hamna.


__ADS_2