
Keesokan paginya, Haidar mengendarai mobilnya menuju Zuhayri Group, bersama dengan Erick, ia menemui resepsionis untuk melapor. Suasana perusahaan hari itu begitu sibuk, hilir mudik pegawai ke sana ke mari sambil membawa berkas.
"Pimpinan. Resepsionis bilang presdir mereka sedang ada rapat internal. Kita harus menunggu di ruang tunggu VIP di atas, kemungkinan 30 menit baru selesai," terang Erick membuyarkan pengamatan Haidar.
Lelaki yang dipanggil Pimpinan itu pun mengangguk singkat lalu berjalan dengan ditemani resepsionis menuju ruang tunggu yang dimaksud. Erick mengekor di belakangnya.
"Terima kasih, kami bisa sendiri," ujar Erick kepada resepsionis yang mengantar mereka. Lalu tak lama setelah mengangguk sopan, resepsionis itu kembali ke counter melanjutkan pekerjaannya.
Di ruangan yang lain, Alice tergopoh hendak memberitahu Hamna hal penting. "Bu ... Bu Nana ... " napasnya tersengal. Hamna yang baru duduk setelah menyelesaikan rapat internal pagi itu menatapnya heran.
"Ada apa Alice?" tanyanya seraya memberikan Alice sebotol minuman. Setelah menenggak sedikit minuman itu, Alice melanjutkan. "Bu Nana, pihak investor yang dari Indonesia itu sudah datang! Sekarang sedang menunggu Bu Nana di ruang tunggu."
Hamna terlonjak bangkit dari duduknya. "Apa?! Sejak kapan mereka datang? Begitu cepat datangnya." Hamna merapikan penampilannya.
"Alice! Kamu jangan lupa bawakan kontraknya, ya. Aku pergi menyambut mereka dulu, kamu jangan lupa menyusul." Setelah mengatakannya, Hamna langsung bergegas ke ruang tunggu itu.
Di dalam ruang tunggu itu, Haidar tampak gusar, berkali-kali melirik arloji mahalnya. Rasa penasarannya begitu mendesak.
"Pimpinan?" panggil Erick yang sedari tadi memerhatikan gelagat atasannya yang tampak berbeda. Biasanya atasannya begitu tenang, namun kali ini tampak gusar.
__ADS_1
"Apakah ada masalah, Pimpinan?" tanya Erick lagi, Haidar menggeleng, enggan menjawab. Matanya masih memandang ke luar. Suara pintu terbuka mengagetkan keduanya, sontak Haidar menoleh ke arah pintu masuk.
"Maaf, maaf sekali telah membuat Anda sekalian menunggu," kata Hamna begitu memasuki ruangan. Erick tersenyum ramah lalu mempersilahkan Hamna sambil memperkenalkan diri.
"Senang bertemu dengan Anda. Saya Erick, asisten pribadi Tuan Haidar ... " Erick menunjukkan keberadaan Haidar yang terpaku di tempat.
Baik Hamna dan Haidar, keduanya sama-sama membeku. Tatapan keduanya beradu, menelisik jauh sosok yang berada tepat di depan pandangannya kini. Sama-sama tak mengira akan berada dalam situasi yang canggung dan membingungkan.
Hamna lebih dulu memutus tatapannya. Ia tersenyum sedikit terpaksa, berusaha bersikap profesional. Haidar yang berada di depan matanya sekarang bukanlah Haidar yang 3 tahun lalu mencintainya.
Sorot tajam Haidar seolah menghunus hatinya dengan rasa bersalah. "Maaf ... " lirih Hamna. Haidar mengernyit.
Beruntung kedatangan Alice mengurai kecanggungan di antara mereka. Erick yang tak tahu menahu hanya bisa memerhatikan keduanya dalam diam. Kehadiran Alice di ruangan itu benar menjadi peredam ketegangan.
"Bu Nana, ini kontraknya," Alice menyerahkan sebuah berkas. Hamna menerimanya dengan tangan sedikit gemetar. "Terima kasih, Alice ..." gugup Hamna.
Sejenak ia memandang Alice dengan tatapan memelas, membuat Alice bingung. Ke mana sikap tegas Bu Nana yang sering dilihatnya?
Lalu Hamna turut duduk di sofa melingkar. Haidar dan Erick sudah duduk lebih dulu. Dengan gemetaran Hamna mengajukan berkas proposal dan kontrak kerja sama itu ke hadapan Erick dan Haidar.
__ADS_1
"Bisa kita mulai pembahasan kerja sama ini?" Hamna bertanya setelah berhasil mengatasi kegugupannya.
Erick hendak membuka berkas itu untuk membaca isinya namun ditahan oleh Haidar. "Tidak perlu dibaca, langsung setujui saja," katanya langsung menandatangani berkas kerja sama itu. Mengundang tatapan tak percaya dari semuanya.
"Pimpinan, bukankah ini ... " Erick menggantung ucapannya. Apa yang Haidar lakukan sama sekali tak sesuai aturan.
"Apakah kau berhak menanyakan keputusanku?" sentaknya dengan nada meninggi. Hamna dan Alice bahkan terlonjak lebih tak percaya.
"Bisakah kalian berdua keluar? Ada hal yang perlu kami bicarakan lebih lanjut," tukas Haidar setelah beberapa menit hening.
Erick dan Alice saling berpandangan. "Bu Nana?" Alice tampak ragu, Bu Nana tak pernah berdiskusi dengan klien secara pribadi. Jika pun ada masalah personal, Alice pasti disuruh menemaninya dalam jarak.
Hamna mengangguk singkat. "Keluarlah dulu, kami masih memiliki beberapa hal untuk dibicarakan," jelas Hamna. Ia tahu, Alice pasti mengkhawatirkannya sekarang.
Mau tak mau, Alice dan Erick keluar dari dalam ruangan. Meninggalkan atasannya untuk berbicara secara pribadi. Entah apa yang akan dibicarakan keduanya, Alice benar-benar cemas.
"Jangan khawatir, mereka mungkin memiliki masalah yang harus diselesaikan," Erick berbicara, menepis sedikit kecemasan sang asisten di sampingnya itu.
"Kita hanya asisten, sebaiknya jangan ikut campur terlalu banyak," katanya lagi lalu berjalan menjauh dari pintu ruangan itu.
__ADS_1
"Aku memang hanya asisten. Tapi Bu Nana bukan hanya atasanku saja, dia melebihi Ibu bagiku," gumam Alice, tak lama ia pun menyusul Erick menjauh dari ruangan tersebut.