141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Renungan Panjang


__ADS_3

Hamna terpekur lama dalam duduknya. Setumpuk berkas baru saja selesai ditandatanganinya. Hari beranjak malam, sinar keemasan memudar berganti terangnya bulan. Ia masih enggan beranjak, kepalanya terus memutar ucapan Haidar padanya tadi siang. Perasaan itu membuatnya bimbang. Apa yang harus dilakukannya sekarang?


"Bu Nana, ini kopinya ... " Alice datang dengan membawa secangkir kopi panas dan juga makan malam. Hamna menatapnya sayu.


Alice mengiba. "Tak biasanya Bu Nana bersedih begini. Apakah ada urusannya dengan Presdir dari Musyaffa Group itu? Haruskah aku bertanya? Tapi bagaimana jika Bu Nana... " Alice menimbang.


"Alice, kenapa kamu melamun? Kamu kok belum pulang?" Hamna menyentak lamunan Alice. Benar, hubungan keduanya bukan hanya sebatas atasan dan pegawai. Lebih dekat daripada itu.


"Ibu juga belum pulang, bagaimana Alice bisa pulang?" ucapnya seraya menyodorkan secangkir kopi panas itu kepada Hamna.


"Pulanglah duluan, aku masih ada pekerjaan di sini," alibi Hamna lalu menyalakan kembali komputernya, agar Alice memercayai kebohongannya. Ia ingin lebih lama, merenungi masalahnya dengan baik-baik.


Alice menggeleng pelan. "Setidaknya, Bu Nana makan malam dulu. Bu Nana selalu baik kepada Alice, mana mungkin Alice meninggalkan Ibu sendirian di sini?" Alice mengambil duduk tepat di hadapan Hamna. Tersenyum lembut.


Membuat Hamna mengingat kejadian 3 tahun lalu saat pertama kali ia memasuki perusahaan ini. Saat itu, banyak orang meremehkannya juga meragukannya. Namun dengan lembut, Alice justru membantunya, hari itu Alice juga tersenyum lembut seperti ini.


Kelembutan dan keramahannya mengingatkan Hamna pada sosok Shafiya. Sahabatnya. Entah bagaimana kabarnya Shafiya sekarang. Jujur saja, ia sangat merindukan Indonesia.


Tapi, untuk kembali ke sana rasanya hampir tak mungkin. Susah payah ia mendapatkan kembali hak dan tanggung jawabnya, dan tak mudah baginya untuk melepaskan. Hal itu juga yang menjadi pertimbangannya.


Jangan tanya soal keinginannya untuk bersama, juga rindu yang bersarang di dada. Jika mengandalkan perasaannya saja, ia jelas akan berteriak bahwa Hamna juga masih sangat mencintainya. Namun, logikanya seolah menolak. Luka hatinya belum sembuh.

__ADS_1


Ditambah karirnya baru saja dimulai, bagaimana bisa ia menjalin hubungan cinta?


"Bu Nana lagi ada masalah, ya?" Alice bertanya lagi. Ia sudah tak tahan melihat atasannya terus-terusan melamun.


"Alice ... Aku ingin meminta pendapatmu, bolehkah?" tanya Hamna sedikit ragu. Namun Alice mengangguk. "Dengan senang hati. Bu Nana bersedia meminta pendapat Alice, Alice justru merasa terhormat.


Hamna tersenyum, mengambil jeda sebelum berbicara. Bagaimana pun ini masalah pribadinya, rasanya jadi aneh jika ia meminta pendapat karyawannya sendiri. Tapi, kebimbangan itu juga tak bisa terus ditahannya.


"Menurutmu ... Jika ada seseorang yang mencintaimu dengan tulus, maukah kamu menerimanya tapi dengan banyak resiko?"


"Maksud Ibu ... Eh, harus menurut Alice, ya?"


"Jika kamu bingung juga tidak apa untuk mengabaikan pertanyaanku, Alice"


"Kalau menurut Alice, ya, Bu. Karena Alice juga pernah menjalin hubungan, hehe. Jangan menyia-nyiakan orang yang tulus mencintai kita, karena orang yang tulus mencintai itu jumlahnya hanya satu. Sedangkan mencintai itu sendiri memang memiliki banyak resiko."


"Dan, dibanding menyesalinya, lebih baik menanggung resiko itu bersamanya," jelas Alice panjang lebar. Hamna menyimaknya dengan sungguh-sungguh.


"Sebesar apapun resiko dan rintangan di depan, jika dihadapi bersama pasti akan terasa lebih baik. Dengan orang yang kita cinta, kita pasti bisa menghadapi apapun," lanjut Alice lagi kini dengan terkekeh kecil.


"Maaf, Bu, Alice terlalu banyak bicara. Alice akan pergi kalau Ibu masih mau bekerja," Alice hendak pergi.

__ADS_1


Namun, Hamna menahannya lalu memintanya untuk duduk di sofa ruangannya. "Alice, temani aku sebentar lagi, ya?"


"Tentu, Bu Nana, dengan senang hati," Hamna tersenyum lagi. Senang rasanya memiliki seseorang yang bisa diajak berbagi perasaan.


"Tapi, aku masih ragu, Alice. 3 tahun lalu aku dengan tega pergi darinya. Kali ini, dia juga memintaku, katanya dia berharap aku mempertimbangkannya sekali lagi."


"Lalu, apa alasan Ibu tetap menolaknya?"


"Aku tidak menolaknya. Posisiku sekarang sangat rumit, Alice. Ada banyak hal yang kutakutkan. Aku takut ia akan ikut terbawa masalahku, aku takut ia mendapat banyak masalah dan akhirnya memperumit hubungan itu sendiri," jujur Hamna. Alice setia mendengarkan.


Sekali lagi, Alice belajar tentang apa itu cinta yang sesungguhnya. Diam-diam kekagumannya bertambah lagi. Ternyata Bu Nana sekuat itu. Dibalik kecerdasan, kecantikan dan kebijaksanaan, rupanya Bu Nana menyimpan kisah cinta yang memilukan.


Hamna tampak mengaduk kopinya pelan. "Kalau menurut Alice, Bu Nana seharusnya tak perlu ragu. Jika seseorang tetap mencintai Bu Nana selama 3 tahun, bukankah itu cukup membuktikan bahwa cintanya pada Ibu sungguh besar?" Hamna terdiam.


"Lagipula, selain menjaga satu sama lain, cinta juga seharusnya berarti berani berjuang bersama. Alice yakin, jika ia benar mencintai Bu Nana, keinginan terbesarnya adalah bersama Ibu, tak peduli serumit dan sesulit apapun masalah yang akan dihadapi nanti. Ia pasti siap melaluinya bersama, Bu."


Hamna tampak memikirkan baik-baik ucapan Alice. Ia kembali mengingat perkataan Haidar tadi siang. Haidar juga mengatakan hal yang sama. Mungkinkah seharusnya Hamna sedikit menundukkan keras kepalanya dan mencoba kembali?


"Alice, kamu tahu kontak Tuan Musyaffa itu, kan? Berikan padaku, ada hal penting yang ingin kubicarakan," katanya kemudian. Alice mengirimkan Hamna kontak asistennya.


Setelah melalui perenungan panjang, akhirnya Hamna berani memutuskan. Ia akan memperjuangkan cintanya. Karena seseorang yang tulus tak akan datang ketiga kalinya.

__ADS_1


Dalam sekali tekan, panggilan itu langsung diterima. "Halo ... "


__ADS_2