
Semua orang berkumpul di meja makan, para pelayan hilir mudik menyajikan makanan. Tak ada yang berani membuka suara setelah kejadian sebelumnya. Semua orang tertunduk dan merasa tegang, kecuali Haidar yang berani menatap Hamna dengan tatapan mata terkagum-kagum.
"Hamna" panggilnya tanpa memalingkan wajahnya sedikitpun. Gadis yang dipanggil itu pun mengangkat kepala, menatap Haidar. "Iya, Pak?" jawabnya tak kalah pelan. Fawwaz, Hannah dan semua orang yang berada di meja makan tampak memerhatikan keduanya.
Ditatap begitu intens oleh semua orang membuat Hamna seketika menjadi gugup, "Pak, tolong berhentilah menatap saya, keluargamu terus memerhatikan kita" bisiknya, namun Haidar enggan memedulikannya, ia justru tersenyum penuh perhatian. "Itu karena kamu terlalu cantik malam ini, Na ... Makanya semua orang menatap ke arahmu" jawab Haidar keras, membuat semua orang mengalihkan perhatian mereka.
Alih-alih tegang, semua orang jadi bersemu merah mendengar perkataan manis Haidar kepada seorang perempuan, termasuk Hamna. Mereka lebih tidak menyangka kalau Haidar bisa menggombali seorang gadis, padahal sejak masa SMA, semua keluarga tahu, Haidar tidak pernah sekalipun dekat dengan perempuan. Karena hal itu pula, Hayan berusaha menjodohkan Haidar, ia takut jika keponakannya itu memiliki kelainan. Tapi sepertinya tidak, karena Hayan menyaksikan sendiri tingkah Haidar malam ini.
Fawwaz dan Hannah berpandangan, "kamu mengajarinya cara menggoda perempuan, ya?" bisik Hannah di sebelah Fawwaz, laki-laki itu menggeleng.
"Tidak, sayang, untuk apa aku mengajarinya hal semacam itu?" jawab Fawwaz santai.
"Lalu darimana dia belajar cara menggombal? Sekarang anakku terlihat sepertimu, tahu tak?" tanya Hannah lagi membuat Fawwaz tertawa.
__ADS_1
"Aku juga merasa heran, apakah itu bakat alami ya?" Hannah menatap tajam suaminya itu.
"Menggombal bukan bakat!" serunya seraya mencubit lengan Fawwaz, membuat laki-laki setengah baya itu meringis pelan.
Hayan berdeham keras, memecah suasana. "Bisa kita mulai makan malamnya sekarang, Kak Fawwaz?" tanyanya agak ketus. Agaknya Hayan masih kesal karena tadi ia telah dipermalukan di hadapan banyak orang.
Fawwaz menganggukkan kepala, lalu berujar "Youssef, pimpin do'a" setelah itu, semua orang makan dengan diam. Namun, baru beberapa menit tenang, tiba-tiba Haidar berulah lagi dengan mengganggu Hamna.
Laki-laki itu tersenyum penuh arti, "sama-sama hal yang indah, tapi kamu jauh lebih indah" Hamna membulatkan matanya tak percaya Haidar sedang menggombalinya. Semua orang yang mendengarnya kembali tercengang, tapi dengan cepat mereka mengalihkan pandangannya dan melanjutkan makan mereka, seolah tak mendengar apapun.
"Pak, makanlah makananmu, jangan terus memandangi saya begitu" ujar Hamna berbisik, ia merasa aneh dengan sikap Haidar malam ini.
"Tidak mau. Melihatmu makan saja, saya sudah merasa kenyang, Na" balasnya dengan keras membuat Hamna tersedak minumnya. Dengan cepat, Haidar memberinya minum, "hati-hati, sayang. Pelan-pelan saja makannya" katanya lalu mengambil tisu dan menyeka bibir Hamna dengan itu.
__ADS_1
Hamna menegang mendapat perlakuan Haidar yang tiba-tiba berubah sangat manis. "Eh, saya bisa sendiri, Pak" tangan Hamna merebut tisu yang sedang dipegang Haidar lalu menyeka mulutnya sendiri.
"Oh ya ampun, aku sudah tidak sanggup lagi berada di sini, apalagi menghadapinya. Kenapa Pak Haidar tiba-tiba jadi pandai merayu seperti ini?" batin Hamna.
Semua orang menatap keduanya terheran-heran, mendapat tatapan dari semuanya, Hamna jadi tambah salah tingkah. "Maaf semuanya, Hamna harus ke kamar mandi sebentar" pamitnya berdiri hendak pergi.
"Ayo ke sebelah sini, Na"
"Tidak usah, Pak. Saya bisa sendiri"
"Oh baiklah, kamu tinggal lurus saja ke arah sana lalu belok kiri"
"Baik, saya akan segera kembali" Hamna melangkah dengan cepat meninggalkan meja makan yang bagai siksaan baginya. Setelah memastikan Hamna pergi ke arah yang benar, Haidar kembali duduk dan menikmati makanannya.
__ADS_1