141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Berhak Bahagia


__ADS_3

Pukul 9 pagi Haidar sampai di kediaman Musyaffa. Setelah memarkir mobilnya ia lantas masuk dengan langkah besar. Ia langsung naik ke atas, ke kamarnya, mengabaikan Ibu dan Ayahnya yang sedang duduk santai di ruang tamu.


"Kenapa dengan Haidar? Lusuh sekali penampilannya, dan tumben sekali, biasanya paling tidak dia akan menyapa kita kan?" Fawwaz bertanya heran, Hannah pun menggeleng tak tahu.


"Mungkinkah dia ada masalah? Kamu pasti memberinya tugas yang berat, ya kan?" selidik Hannah, Fawwaz yang tengah memegang koran itu urung membacanya.


"Tidak, kok. Tugas perusahaan semuanya pasti bisa dia tangani." Fawwaz meminum kopinya pelan.


"Jika pun anakmu menemui masalah setidaknya dia bisa katakan pada Ayahnya," lanjutnya lagi.


Tak berapa lama Haidar turun, usai mandi tampilannya tampak lebih rapi. "Aku pergi dulu," pamitnya seraya menyalami tangan Fawwaz dan Hannah hormat.


"Eh, cepat sekali?" Haidar mengangguk, "Ya, ada urusan mendesak, Bu" jawab Haidar sekenanya.


"Kamu pulang cuma buat mandi saja?" Fawwaz menimpali. Haidar menampilkam cengiran khasnya, "mau sekalian tukar mobil sama mobil Ayah, boleh?"

__ADS_1


Fawwaz menaikkan satu alisnya, bingung, tak biasanya Haidar mau meminjam mobil Ayahnya. Biasanya Haidar memakai motor atau mobilnya sendiri. "Boleh, pilih saja. Kuncinya minta saja di Pak Karim"


"Oke, thanks Ayah!" ujar Haidar langsung pergi dari sana.


Tepat tengah hari, Haidar kembali ke rumah Hamna dengan membawa serta buah-buahan yang sengaja dibelinya di perjalanan tadi.


Hamna yang mengetahui Haidar kembali pun tampak senang, ia kira Haidar marah karena apa yang telah dilakukannya. Haidar meletakkan buah yang dibawanya di atas nakas. "Kamu sudah makan siang, Na? Sudah minum obat?" Hamna mengangguk pelan.


"Bagus, mau buah? Tadi saya sengaja beli buah, siapa tahu kamu suka." Haidar mengambil satu buah jeruk lalu mengupasnya.


"Maksud saya, Pak Haidar pasti sibuk, kan. Dengan urusan pekerjaan," balas Hamna, ia mengambil satu buah jeruk lalu memakannya. Rasa manis dari jeruk menghiasi indra perasanya yang terasa pahit sejak pagi.


Haidar mengambil napas, sebelum akhirnya menjatuhkan tatapannya pada Hamna. "Tidak ada yang lebih penting dari kamu, Na." Ujarnya singkat. Dan, ucapan Haidar itu mampu membuat Hamna tersedak. Dengan cepat ia memberi Hamna minum.


"Omong-omong, Pak. Saya masih penasaran dengan kejadian semalam," Hamna membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman. "Apa yang terjadi semalam sampai Pak Haidar terluka?" tanyanya masih penasaran.

__ADS_1


Manik matanya yang cokelat indah itu menatap Haidar serius. "Kamu benar-benar tak ingat apapun?" Haidar balik bertanya, yang dijawab oleh gelengan Hamna.


Haidar tampak pasrah, "kalau begitu, lupakan saja, Na. Kalau harus mengingat dan menceritakkannya, dada saya terasa sesak dan berdenyut sakit, tahu?" ucap Haidar agak berlebihan.


Lelaki itu tampak menarik napas sebelum berujar, "Saya hanya ingin mengatakan satu hal padamu, jangan memendam sesuatu yang dapat menyakitimu. Lepaskanlah segala hal yang membuatmu menderita. Kamu juga harus ingat, Na. Meski telah berulang kali terluka, kamu tetap berhak memangku bahagia,"


"Masa lalu bisa saja terasa begitu menyakitkan, tapi di masa sekarang, masa lalu tetaplah masa lalu, Na. Jangan membuat kehidupanmu yang sekarang selalu dibayangi olehnya. Tinggalkanlah ia di belakang masa, sekarang waktunya kamu menatap ke depan," lanjutnya lagi.


Ia tampak berhenti sebentar sebelum melanjutkan nasihatnya. "Serta belajar juga untuk menerima keadaan, seiring waktu, orang harus berubah dan mengambil keputusan hidup. Jika kamu terus terpaku pada masa lalu saja, sampai kapan pun kamu akan tetap terjebak di sana."


"Apabila masih ada hal yang belum selesai, lekas selesaikan lalu lepaskan dengan penuh keikhlasan, agar hatimu lega. Jadi orang yang merela memang tak mudah, tapi dibanding terus memendam benci, lebih baik belajar untuk ikhlas, bukan?" Haidar tersenyum, lalu beranjak dari tempat duduknya.


"Saya ke dapur dulu, ya, mau buat kopi." Haidar berlalu, sekejap ia menatap Hamna yang sedang tertunduk, gadis itu tengah berusaha meresap semua ucapan Haidar tadi. Haidar seolah tahu perasaan hatinya sekarang.


"Aku harus bagaimana sekarang?"

__ADS_1


__ADS_2