141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Tenggelam


__ADS_3

Sekeliling mereka jadi riuh oleh teriakan orang-orang, seorang anak kecil terbawa arus. Mendengar hal itu, Haidar dan Zayan pun ikut menghambur ke dalam kerumunan.


Detak jantung Zayan seolah terhenti saat melihat Marshanda berteriak histeris. "Nana!"


"Apa uang terjadi?" tanyanya karena masih belum mengerti akan apa yang terjadi.


Sedangkan Haidar sudah berlari ke pantai. "Hamna! Kamu baik-baik saja?" tanya Haidar panik karena gadis itu sudah basah kuyup demi menyelamatkan seorang anak kecil. Haidar lantas mengambil alih anak kecil tersebut dari gendongan Hamna.


Hamna tampak lemah, bagaimana tidak? Ia menghirup banyak air pantai saat berusaha menyelamatkan Nana. Haidar menyampirkan lengan Hamna di bahunya.


Lalu, Haidar membaringkan Nana di pasir. Marshanda dan Zayan langsung menghampirinya. "Tolong tekan perutnya seperti ini untuk membantu airnya keluar," ujar Haidar kepada Zayan. Ayah dari anak itu langsung melakukannya. Di samping, Marshanda tampak sesenggukan menahan tangis.


Sedang Haidar membantu Hamna memijit kakinya yang terkilir. "Katakan jika sakit, ya."


"Argh! Sakit, Pak! Tolong, tolong jangan ditekan." Teriakan Hamna mengalihkan perhatian Zayan untuk sesaat. Ia menatap punggung Haidar.


"Mas, Nana Mas! Ayo cepat kita bawa ke rumah sakit!" seruan Marshanda mengurungkan niatnya untuk mencari tahu. Lebih penting membawa Nana dulu, pikirnya.


Lalu, Zayan menggendong Nana yang setengah sadar. Di belakangnya, Haidar juga melakukan hal yang sama. Ia menggendong Hamna karena kaki gadis itu cedera dan tak bisa berjalan.

__ADS_1


Hamna terus merintih kesakitan. "Sabar, ya, kita ke rumah sakit sekarang. By the way, kamu masih sanggup bicara, Na?"


"Kenapa?"


"Saya ingin mengajakmu bicara agar rasa sakitnya tidak terlalu terasa."


"Memangnya bisa?" tanya Hamna, ia menatap Haidar sebentar. Jika dipikirkan lagi, lelaki ini hampir selalu ada saat Hamna kesulitan.


"Ya, coba saja. Apa yang terjadi tadi?" tanya Haidar sambil terus berjalan menuju mobilnya.


"Ya, tadi saya sedang bermain pasir, kemudian berjalan-jalan di dekat pantai. Lalu, saya tidak sengaja melihat anak kecil yang berjalan ke tengah pantai."


"Saya sudah berteriak untuk menghentikan anak kecil itu, tapi ternyata ia terkejut dan terjatuh. Saat itu pula saya langsung mengejarnya."


"Bagus, tapi apa kamu tahu? Itu sangat berbahaya, Na. Bagaimana jika sesuatu terjadi padamu? Lain kali pikirkan keselamatanmu dahulu sebelum menolong orang lain." Ucapan Haidar seketika membuat Hamna terdiam.


Dia khawatir?


"Maaf, Pak. Saya panik dan ingin segera melakukan tindakan," jawab Hamna tertunduk. Haidar menatapnya sekilas.

__ADS_1


Ia mendudukkan Hamna di mobil, tak lupa menyampirkan handuk di bahu Hamna. Setelah itu, ia duduk di kursi kemudi dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


Sesampainya di sana, Haidar langsung membawa Hamna ke IGD guna mendapat perawatan darurat. "Bagaimana, Dok?" tanya Haidar begitu melihat seorang pria berjas putih keluar.


Dokter itu tersenyum. "Tidak apa-apa, kakinya hanya terkilir dan sedikit tersedak air saja. Anda tidak perlu panik." Haidar bernapas lega. Lalu, Dokter itu ijin pergi setelah memberi resep obat kepada Haidar.


Tak lama, Hamna keluar dibantu suster. Ia tersenyum kepada Haidar. "Dokter bilang saya tidak apa-apa, Pak"


"Oh, ya? Dan kamu bangga, Na? Kamu selalu saja membuat saya takut!"


"Hehe, maaf, Pak... Oh, ya, anak kecil yang tadi dibawa ke sini juga, kan, Pak? Di mana dia sekarang?" tanya Hamna, baru teringat akan gadis kecil yang ia tolong.


"Kamu mau menemuinya?" Hamna mengangguk. "Baiklah. Tapi, Na. Tolong jangan terkejut, ya," pinta Haidar yang membuat Hamna bingung.


"Nanti kamu juga tahu sendiri," ujar Haidar. Lalu keduanya berjalan pelan ke ruangan di mana Nana berada.


Haidar menarik napas sebelum membuka knop pintu ruang rawat tersebut. Dadanya bergemuruh hebat. Ia menggenggam kuat lengan Hamna.


Pintu dibuka, di dalam, seorang lelaki tengah terduduk sayu sambil memegangi jemari kecil putrinya. Hamna menatap lurus ke depan dengan nanar. Tidak mungkin sekebetulan ini, kab? Kepala Hamna mulai berkecamuk oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa ia jawab.

__ADS_1


Zayan menoleh ke arah pintu. "Hamna... " lirihnya, tak menyangka yang datang adalah Hamna.


__ADS_2