
Deg! Bagai dihantam badai, Hamna membeku di tempat, cangkir kopi di tangannya sampai terjatuh dan hancur berkeping-keping. Seperti hatinya sekarang.
"Kau?"
"Kenapa kau datang ke sini?" tanya Hamna lagi setelah ia mengatur napasnya yang tercekat. Bahunya bergetar menahan tangis. Giginya bergemeletuk menahan marah.
Gadis itu tak pernah mengira sosok yang meninggalkannya 5 tahun lalu akan dengan berani tandang ke rumahnya.
Tatapannya sendu saat menatap Hamna setelah bertahun-tahun berlalu. Hamna adalah cinta pertamanya, belahan hatinya dan juga dunianya.
Ia akui dulu ia meninggalkan Hamna, tapi bukan tanpa alasan ia melakukannya. Ia berjalan hendak menggapai gadis yang dicintainya itu.
Senyumnya diukir lembut. "Nana, ini aku... Aku sudah kembali. Bagaimana... Kabarmu sekarang?" tangannya terangkat untuk meraih wajah mungil Hamna. Ia bahagia bisa melihat wajah Hamna lagi. Hatinya membuncah oleh rindu.
Namun, lain hal dengan Hamna. Gadis itu terkejut dan tak pernah mengharapkan kehadirannya. "Kenapa? Kenapa kau kembali ke hidupku?" ujarnya bergetar. Tangis mulai menguasai matanya.
__ADS_1
"KENAPA?!" teriaknya sambil mengambil jarak. Laki-laki itu tersentak. Hatinya mencelos melihat Hamna yang menangis. Air mata dengan deras mengalir di pipi Hamna. Dadanya bergetar naik turun menahan marah.
Tampak jelas di matanya kemarahan akan sosok itu. Laki-laki itu tertunduk, tak kuasa menatap Hamna yang penuh kebencian.
"Maafkan aku, Nana. Aku tahu aku salah, kuakui kesalahan itu. Tapi, meski tahun-tahun berlalu. Setelah aku menikahinya, hanya kamu saja yang kucintai, Na" jelasnya lalu kembali mendekati Hamna.
Ia berharap Hamna mau memaafkannya. "BOHONG! KAU BOHONG!" teriakan Hamna terasa menyayat siapapun. Para pelayan Hamna yang hadir di sana turut merasakan getar kepiluan Hamna.
Kebencian telah merasuki Hamna begitu dalam hingga ia hilang kendali. Ia mulai melempar apapun yang dilihatnya ke arah laki-laki itu dengan brutal seraya berteriak "PERGI KAU! PERGI DARI RUMAHKU! PERGI DARI KEHIDUPANKU!"
Harga yang pantas diterimanya. "KELUAR SEKARANG!" teriaknya seraya menunjuk ke arah pintu keluar. Laki-laki itu tertunduk lemah, merasa gagal akhirnya ia memilih pergi. Sepertinya tak ada kesempatan yang tersisa baginya.
Setelah menatap kepergian laki-laki itu, Hamna ambruk ke lantai. Ia tergugu sendirian. Para pelayan hanya menatap majikannya itu dengan sedih. Tak ada yang berani mendekat. Mereka mencoba memberi jeda untuk Hamna meredakan emosinya.
Beberapa mulai membersihkan kekacauan yang tercipta. Beberapa lagi mencoba menghubungi dokter.
__ADS_1
Di seberang, fokus Haidar terpecah mendengar suara jeritan Hamna. Ia lantas berlari ke sana bertepatan dengan keluarnya seseorang itu dari rumah Hamna.
Sorot matanya menanyakan banyak hal namun ia urungkan sebab di dalam rumah, suara barang-barang dilempar dan jeritan Hamna terdengar memekak pendengaran Haidar.
Dan benar saja, di sana di pojok ruangan. Hamna tengah bersimpuh memeluk lutut. "Kenapa? Kenapa dia datang kembali?" lirihnya pilu.
Haidar masuk dan bertanya heran, "Apa yang terjadi? Kenapa berantakan sekali?"
Tak ada yang berani membuka suara, semuanya gemetar. Haidar beralih menghampiri Hamna yang terisak.
"Hamna ... " panggil Haidar, laki-laki itu ikut berjongkok di hadapan Hamna. Memerhatikan tiap ekspresi yang tercipta di wajah mungil gadis itu.
"Jangan, jangan, jangan datang lagi" suara Hamna bergetar. Hati Haidar mencelos sakit. "Siapa? Siapa yang jangan datang lagi, Na?" tanya Haidar namun tak dijawab oleh Hamna. Gadis itu terus saja meracau.
Ingatannya beralih kepada seseorang yang tadi tak sengaja ia temui. "Mungkinkah dia?" tanyanya pada diri sendiri.
__ADS_1