141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Propose Me Properly


__ADS_3

Shafiya tampaknya enggan melepaskan Hamna. Sejak Hamna turun dari mobil, Shafiya terus menempelinya bagai perangko.


"Hamna baru saja pulang, Fiya. Kamu memeluknya seperti itu, dia bisa sakit nanti," Haidar mengingatkan. Sebenarnya, ia merasa iri pada Shafiya yang bisa memeluknya dengan erat.


'Jika aku bisa, aku juga ingin memeluknya dengan erat dan tidak akan melepasnya' kata Haidar.


"Iya, deh, aku lepas. Huh bilang aja Pak Haidar iri, kan?" ledek Shafiya sambil melepaskan pelukannya dari Hamna.


"Memang iri," gumam Haidar pelan. Ia mengambil cangkir kopi dan meminumnya pelan. Jika ia bicara lagi, Shafiya akan membongkar rahasianya pada Hamna.


Kedua gadis itu tampak asik bercengkrama. "Fatih tidak ikut denganmu, Fi?" tanya Haidar saat Shafiya sibuk menceritakan pada Hamna betapa lelahnya ia mengurus pernikahannya.


"Dia masih belum bisa cuti, katanya masih ada jadwal operasi," jelas Shafiya.


"Fatih? Maksudnya dokter Fatih yang waktu itu mengobati Bibi Ayuna?" Hamna bertanya sedikit bingung. Kenapa Pak Haidar tak mengatakan apapun tentang calon Shafiya sebelumnya?


Shafiya menatap tajam Haidar. "Pak Haidar," desisnya. "Pak Haidar gak kasih tahu Hamna?" katanya marah.


Lelaki itu hanya mengedikkan bahunya ringan. "Aku lupa, maaf. Aku kira kamu sudah memberitahunya sejak tadi."


"Hmph yaudahlah. Hamna ayo kita ke kamarmu aja, aku tadi udah merapikannya khusus untuk kamu, lho!" terang Shafiya lalu menarik Hamna pergi dari sana.


Dari bawah Haidar berteriak. "SHAFIYA!!!" Ia benar-benar tak terima Hamna dibawa pergi padahal ia juga masih merasa rindu pada gadis itu.


"Shafiya itu ... benar-benar menguji kesabaranku, awas saja kamu, Shafiya! Aku harus panggil Fatih agar dia bisa membawa gadis nakal itu dari sini."


***


Di kamar Hamna, Shafiya terkekeh geli saat membayangkan ekspresi wajah Haidar yang murka dan memelas. Hamna hanya menggelengkan kepala tak percaya, sejak kapan mereka begitu akrab?


"Shafiya, jangan begitu," tegur Hamna lembut. Shafiya cengengesan seraya menggaruk lengannya yang tak gatal.


"Maaf, ya, Na. Tapi serius aku suka banget lihat Pak Haidar yang sekarang, hanya saat sama kamu Pak Haidar jadi orang yang berbeda," aku Shafiya.


"Berbeda gimana maksud kamu, Fi?"


"Aih, kamu gak tahu, ya. Kalau di kantor, Pak Haidar tuh datar banget, jarang ngomong. Sekalinya buka suara langsung bikin staff sakit hati semua. Cuma sama kamu aja Pak Haidar kelihatan lebih bisa berekspresi."

__ADS_1


"Kamu itu dunianya Pak Haidar, Na. Setelah ini jangan pergi lagi, ya," pinta Shafiya. Ia menggenggam jemari Hamna lekat.


"Kamu gak marah sama aku, Fi? Kamu gak kecewa sama aku?" tanya Hamna. Ia sudah ingin menanyakan hal itu sejak ia sampai di sini. Tapi ditahannya.


Shafiya menggeleng. "Aku kecewa, sedih, marah banget waktu tahu kamu pergi tanpa pamit. Tapi, Bunda bilang setiap orang punya pilihannya sendiri." Shafiya melepaskan tautannya. Ia mengajak Hamna untuk duduk di sofa.


"Jujur, aku kecewa banget, Na. Walaupun aku udah tahu kamu punya rencana untuk lanjut studi, aku cuma gak mengira aja kalau kamu perginya tiba-tiba. Kamu tahu gak betapa terpuruknya Pak Haidar waktu itu?"


Shafiya terhenti sejenak sebelum melanjutkan ceritanya, sedang di sampingnya Hamna lebih banyak diam mendengarkan. "Sejak itu, aku gak pernah lihat lagi Pak Haidar yang ceria dan banyak senyum. Bahkan waktu aku masuk dan kerja jadi sekretarisnya, Pak Haidar jarang banget senyum," sambung Shafiya lagi.


Hamna terpekur dalam duduknya, merasa bersalah. Hamna akui ia egois waktu itu, tak ada hal yang dipikirkannya selain jadi perempuan yang lebih hebat lagi.


"Ah, kenapa jadi ingat itu sih, ya. Lupain, lupain, yang penting sekarang kamu udah pulang," ujar Shafiya bahagia. Hamna kembali merekahkan senyumnya.


"Sampai mana persiapan kamu, Fi? Ada yang perlu aku bantu?"


"Ada, dong, jadi bridesmaid aku yang paling cantik. Nanti kita pergi fitting bajunya, ya. Pokoknya kamu harus jadi yang paling cantik! Biar Pak Haidar makin frustasi," Shafiya terkekeh di akhir kalimat.


"Kok jadi aku yang harus paling cantik? Harusnya kamu dong, Fi, kan kamu yang jadi pengantin ... "


Mendapat tatapan tajam dari Haidar, Shafiya pun langsung bangkit dari duduknya dan meninggalkan Hamna dan Haidar di sana. "Kok bisa datang? Katanya tadi sibuk!" Shafiya langsung berlari turun ke bawah.


"Sejak kapan mereka bisa kenal?" tanya Hamna begitu Haidar duduk di sofa.


"Entah, yang aku tahu mereka sering berkomunikasi. Bahkan saat Shafiya di kantor, Fatih sering menjemputnya dan mengajaknya makan. Sepertinya dari sana hubungan mereka mulai dekat," jelas Haidar singkat.


"Kamu mau fitting baju untuk pernikahan Shafiya, kan? Mau pergi sekarang atau kamu mau istirahat dulu?"


Hamna tampak menimbang sejenak. "Sekarang aja, pernikahannya tinggal beberapa hari lagi, kan?" Haidar mengangguk.


***


Di sebuah butik khusus pengantin. Seorang designer tengah mengukur dan menetapkan model baju yang tepat untuk Hamna. Sang designer tampak bersemangat sekali saat mengukur tubuh Hamna.


"Porsi tubuh Bu Hamna sangat proporsional, mengenakan gaun model apapun pasti akan terlihat sangat cantik," pujinya tulus. Hamna hanya tersenyum singkat.


Di ruang tunggu Haidar menunggu dengan sabar, ia sudah selesai mengukur pas badannya sejak tadi. Tinggal mencocokkan warna setelan vest yang cocok dengan gaun yang dipilih Hamna saja.

__ADS_1


Tak lama, Hamna keluar dengan mengenakan gaun berwarna dark brown dengan hiasan manik-manik di sekitar bahu, Hamna tampak cantik dalam balutan gaun itu.


"Cantik," seloroh Haidar tanpa sadar. Matanya tak berkedip memandangi Hamna membuat beberapa staff ikut tersenyum melihat tatapan Haidar itu.


"Cocok tidak, Pak? Kalau tidak aku ganti yang lain saja."


"Tidak, tidak, eh maksudku ... kamu, kamu cocok banget pakai gaun itu. Kita pilih yang ini saja," kata Haidar dengan gugup.


Ia memberikan sebuah kartu debit pada staff. "Untuk setelanku tolong siapkan warna yang senada. Kirimkan keduanya ke alamat rumahku."


"Baik, Tuan."


Setelah menyelesaikan fitting baju hari itu, Haidar mengajak Hamna untuk minum kopi di Kafe tak jauh dari butik.


Hamna tampak menikmati suasana kota siang itu dengan ditemani secangkir kopi. Di hadapannya, Haidar terus memandangnya dalam diam. Memandang Hamna selama apapun, ia tak akan bosan.


"Kamu sering melamun seperti ini juga, Na?" tanya Haidar iseng. Hamna sontak memalingkan wajahnya, menatap Haidar yang memangku wajahnya di kedua tangan.


Hamna mengangguk, membenarkan. "Sering. Kamu tahu, Pak? Saat selesai bekerja atau saat luang, aku sering melamun dengan secangkir kopi, menatap kota LA dari ruanganku," kata Hamna lalu meminum caramel macchiato-nya pelan.


"Apa yang kamu pikirkan?"


"Banyak. Salah satunya Pak Haidar," jawab Hamna jujur.


Haidar tertegun. "Apa?" tanyanya seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Itu benar. Meski tanpa kabar, aku terus mengingatmu, setiap hari. Tak pernah lupa."


Haidar sedikit tercengang dengan pengakuan Hamna. Jadi, selama ini, Hamna tak sekali pun melupakannya? Bukankah itu berarti perasannya selalu bersambut?


"Kalau gitu, Na ... " kata Haidar ragu-ragu. Jujur saja, Haidar kurang yakin dan takut jika akan tertolak lagi. Ia tahu betul menghadapi Hamna ia tak bisa tergesa-gesa.


Hamna menatapnya sesaat, mengulum senyum penuh arti. "Propose me properly," ungkap Hamna meyakinkan Haidar. Lelaki itu tampak bangkit.


"Kamu serius, Na?" ulang Haidar. Gadis itu mengangguk mantap. Mungkin memang sudah saatnya mereka mengupayakan kebahagiaan mereka sendiri.


Haidar bersorak gembira, ia bahkan sampai berjingkat saking senangnya. Penantian itu tak pernah sia-sia.

__ADS_1


__ADS_2