141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Hari Pernikahan


__ADS_3

Pernikahan Shafiya pun digelar, hotel itu sudah disulap jadi tempat resepsi megah yang memukau. Taburan bunga dari pintu masuk hingga ruang resepsi menambah kesan pernikahan makin indah.


Di ruang ganti pengantin, Shafiya sudah cantik dibalut kebaya putih yang menjuntai hingga ke bawah. Wajahnya sudah dipoles make up. Dari pantulan cermin, ia memandangi potret dirinya sendiri.


"Cantik banget pengantin ini, Masyaa Allah," puji Hamna tulus. Hamna sendiri sudah cantik dengan gaun dark brown dan hijab warna senada, hari ini ia akan berperan sebagai pengiring pengantin.


"Sudah siap, kan? Yuk turun, akadnya sebentar lagi dimulai," Hamna mengingatkan.


Shafiya menerima uluran jemari Hamna, menggenggamnya erat. "Na, aku gugup banget tahu!" jujur Shafiya.


Hamna menenangkannya dengan mengatakan semua perempuan yang hendak menikah pasti merasa gugup. Ia meminta Shafiya menarik napas dan memberinya afirmasi positif.


"Tenangkan dirimu, Fiya. Setelah ini kamu harus lebih banyak belajar jadi istri yang baik, oke? Ingat, pernikahan bukan akhir tujuan tapi awal kehidupanmu yang baru. Kamu dengar tidak?" Hamna mengingatkan Shafiya.


Gadis yang hari ini akan melangsungkan pernikahan itu tampak mengangguk mengerti. "Iya, Bu Nana. Habis ini nyusul ya?" canda Shafiya yang dibalas cubitan ringan oleh Hamna hingga Shafiya sedikit merintis.


Bersamaan dengan itu, Ayuna masuk untuk menjemput Shafiya menuju tempat akad dilangsungkan. Ketiga perempuan itu akhirnya turun.


Dari tangga, Haidar bisa melihat Hamna yang berjalan bersama dengan pengantin. Tatapannya tak lepas dari gadis bergaun yang tengah tersenyum itu. "Sebentar lagi, kita juga akan bahagia, Na," gumam Haidar pelan.


Setelah itu, akad Shafiya dan Fatih dilangsungkan. Usai akad, tamu-tamu mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Hamna kembali ke tempat jajaran para tamu, tempat di mana Haidar berada. Lelaki itu tersenyum menyambutnya hangat.


"You're so gorgeous today," bisiknya yang langsung membuat Hamna merona.


Fawwaz dan Hannah juga ada di sana. Keduanya memerhatikan Haidar dan Hamna yang tampak serasi. "Bersiaplah untuk menggelar resepsi juga," bisik Hannah. Fawwaz tampak berkerut. Namun sedetik kemudian ia bersorak dalam hati.


"Menurutmu, anak kita itu benar-benar akan melamar Hamna hari ini?" Fawwaz seakan masih tak percaya.


"Tentu saja, aku melihat sendiri cincin yang disiapkannya kemarin! Berliannya sangat indah, tunggu saja sampai saat Haidar naik ke podium, aku akan bersiul dengan keras!" Hannah sangat bersemangat. Demi menghadiri acara ini, ia bahkan memanggil penata rias terkenal agar tampil cantik paripurna.


Di sampingnya, Fawwaz hanya menggeleng pasrah, memaklumi kegembiraan istri tercintanya. Meski tak dipungkiri ia juga merasa senang bukan main.

__ADS_1


Tak lama, setelah para tamu mengucapkan selamat, Haidar bergegas naik ke atas podium yang sebelumnya sudah ia atur bersama Fatih dan Shafiya. Dari tempat pajangan pengantin, kebahagiaan Shafiya membuncah dua kali lipat.


"Sayang, lihat! Pak Haidar sudah naik ke atas podium. Astaga aku benar-benar bahagia!"


Fatih terkekeh. "Kamu kelihatannya lebih bahagia dibanding saat aku mengucapkan akad tadi," cebik Fatih. Shafiya terkekeh geli.


Haidar memulai orasinya dengan mengucapkan terimakasih kepada tamu undangan yang kebanyakan pebisnis dan pejabat itu. Lalu ...


"Saya merasa sangat bahagia atas pernikahan Shafiya, selamat ya untuk kedua mempelai. Semoga kalian berdua diberikan kehidupan pernikahan yang bahagia sampai nanti. Selain mengucapkan selamat, saya juga memiliki satu pengumuman penting," tuturnya dengan senyum mengembang.


Para mitra yang mengenal Haidar bahkan sedikit terkejut. Bisik-bisik mulai terdengar. Lalu, tanpa menunggu apapun lagi. Haidar berjalan menjemput Hamna untuk naik ke atas podium juga.


"Pak, kita mau apa di podium?" bisik Hamna merasa penasaran.


"Tunggu saja, aku akan memberimu sebuah kejutan," jawab Haidar singkat sambil terus menuntun Hamna menuju podium.


Di atas podium, dua orang staff wedding organizer menghampiri Haidar dengan membawa baki berisi kotak beludru. Haidar mengambil cincin berlian. Degup jantung Hamna mulai berdebar tak beraturan.


Haidar menatap Hamna dalam. Tatapan yang sama yang membuat Hamna merasa dicintai. Hamna mulai berkaca-kaca, Haidar selalu bisa membuatnya merasa dicintai dengan amat. Haidar tersenyum hangat. Sebelah tangannya bergerak menghapus bulir air yang tak sengaja jatuh di pipi Hamna.


"Kenapa Haidar lama sekali?" decak Hannah tak sabar.


"Tenang, ini melibatkan perasaan. Biarkan mereka merasa saling terikat dan terhubung dulu baru menyatakan cinta," ucap Fawwaz menenangkan.


Setelah tatapan yang menghanyutkan itu, akhirnya Haidar berujar.


"Hamna, kamu adalah alasan mengapa aku tak bisa jatuh cinta selama 3 tahun terakhir. Kamu adalah orang yang paling berarti di hidupku, perempuan yang sangat ingin kuajak menua bersama. Dengan semua cinta yang kumiliki, maukah kamu menikah denganku?"


Degup jantung Hamna berpacu seirama dengan Haidar. Pandangan mata Haidar tak sedetik pun beralih dari netra Haidar. Kumohon, terimalah, Na


Usai pengakuan cinta itu terlontar. Sorak sorai menggema, meneriakkan agar Hamna menerimanya. "Ayo, Na, terima!" teriak Shafiya kencang.

__ADS_1


Setelah menenangkan debaran jantungnya, Hamna mengangguk pelan. Riuh kebahagiaan pun menggema. Haidar lantas memasangkan cincin itu di jari manis Hamna, lalu mengecup punggung tangan gadis itu singkat.


Taburan bunga mawar jatuh tepat di atas mereka, tepuk tangan mengiringi keduanya.


"Meski telah berulang kali terluka, kamu tetap berhak memangku bahagia," ucap Haidar pelan.


"Terima kasih sudah bersabar dan memberiku kebahagiaan yang pantas kudapatkan itu," balas Hamna. Keduanya tersenyum.


Selang beberapa hari setelah lamaran itu, Haidar dan keluarganya mulai menyusun acara pernikahan. Hamna kembali ke LA, meneruskan pekerjaannya. Alice dan semua staff yang mengetahui Hamna telah dipinang pun turut berbahagia.


Begitu pula Haidar, beberapa hari sebelum hari pernikahan mereka, ia sibuk sekali dengan pekerjaannya. Mereka sudah berdiskusi sebelumnya, karena Hamna tak mungkin begitu saja meninggalkan pekerjaannya.


Pernikahan akan dilangsungkan di LA. Setelah itu, Haidar akan secara resmi pindah ke sana dan membangun perusahaannya sendiri. Fawwaz dan Hannah menyetujuinya.


Hari pernikahan keduanya pun digelar dengan mewah. Hamna masih tak menyangka bahwa ia akan sampai pada tahap ini. Ia tak berani bermimpi soal kebahagiaan atau apapun sebelumnya, tapi Haidar mengubah segalanya.


Haidar membawa cinta, kebahagiaan dan kehangatan yang Hamna dambakan sejak dulu. Ia kehilangan keluarganya beberapa tahun lalu, tapi sekarang, ia akan membangun keluarga kecilnya sendiri. Keluarga kecil yang bahagia.


Di sebuah kamar, Hamna memandangi pantulan dirinya di cermin. Kini, ia telah resmi menjadi istri. Haidar memeluknya penuh kelembutan.


"Sayang ... " panggilnya mesra. "Kamu tampak cantik dengan gaun ini," pujinya lagi, menimbulkan rona merah di kedua pipi Hamna.


"Jika ini mimpi, aku benar-benar tak ingin bangun," kata Hamna menyambut pelukan Haidar. Keduanya menatap ke luar jendela. Pemandangan kota Los Angels menjadi latar cinta kedunya sore itu. Senja mulai menghias langit.


Lelaki itu kian mengeratkan pelukannya. "Ini bukan mimpi, ini kenyataan. Aku sudah menantikannya selama bertahun-tahun."


Dengan penuh cinta, Hamna menautkan jemarinya. "Aku mencintaimu," bisiknya yang dibalas pagutan lembut dari Haidar.


"Aku juga mencintaimu ... "


...----------------...

__ADS_1


...T A M A T...


...----------------...


__ADS_2