141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Restu Keluarga


__ADS_3

Haidar bersenandung ringan, langkahnya begitu santai saat memasuki rumah, senyumnya mengembang indah sempurna. "Ibu, Ayah, aku pulang!" katanya dengan bahagia lalu mencium tangan dua orang tuanya bergantian.


Fawwaz dan Hannah tampak bingung menatap kegembiraan Haidar yang tak biasa itu. "Kenapa anakmu, Anna?" tanya Fawwaz pada Hannah yang juga sama-sama bingung.


Haidar berjalan menaiki tangga sambil terus bersenandung. Hannah menggeleng, ia juga merasa heran. "Entahlah, anakmu bukannya sedikit aneh?"


"Dia menang tender 5 milyar mungkin? Sebegitu senangnya?" Fawwaz berspekulasi.


Hannah menggeleng. "Sepertinya bukan, anak itu menang proyek seberapa banyak pun, tak mungkin sebegitu bahagianya. Kecuali ... " Hannah menjeda ucapannya. Membiarkan Fawwaz menerka alasan kenapa anak laki-laki semata wayangnya begitu bahagia.


***


Di kamarnya, tak sekalipun Haidar memalingkan wajahnya dari kotak beludru berisi cincin berlian yang baru dibelinya. "Hamna akan menyukainya tidak, ya?" tanyanya pada diri sendiri.


Ia sedikit meragukan pilihannya, tapi staff toko mengatakan cincin berlian ini cukup istimewa, karena bisa mengukir inisial di dalam cincinnya.


Ia berniat melamar Hamna pada acara pernikahan Shafiya nanti. Entah apakah gadis itu akan terkejut dan terharu atau tidak. Haidar sudah menantikan hal ini sejak lama. Ia berharap, setelah ia memberi cincin kali ini, Hamna tak akan pergi seperti 3 tahun lalu.


"Haidar, kamu memesan baju? Ada staff butik yang mengantarkan gaun dan setelan. Ibu sudah mengambilnya," Hannah masuk memberitahu. Haidar menatap Ibunya sebentar lalu mengangguk singkat sebagai jawaban.


"Ibu, coba lihat cincin ini, menurut Ibu bagus tidak?" Haidar meminta pendapat Hannah. Seorang Ibu itu tampak terkejut untuk sesaat, tetapi berikutnya ia langsung menilai cincin berlian yang tengah dipegang Haidar itu.


Sebagai pengagum berlian dan perhiasan, Hannah sangat terpesona dengan cincin itu. "Cantik. Ukirannya sangat unik, untuk siapa? Ada gadis yang mau kamu nikahi, Nak?" goda Hannah. Padahal ia tahu jelas siapa gadis yang paling dicintai Haidar.


Pipi Haidar bersemu merah karena malu. "Gadis itu ... Pasti Hamna, kan? Dia sudah setuju?" tebak Hannah. Sekali lagi Haidar mengangguk. Ia meletakkan kotak beludru itu ke dalam laci.


"Kapan kalian bertemu? Kamu hanya mengatakan Hamna akan kembali saja tapi tidak menceritakan detailnya."


"Waktu aku ke LA bulan lalu. Ibu tahu? Presdir Zuhayri Group yang ingin bekerja sama denganku itu adalah Hamna."


"Oh, yang Ayahmu ceritakan kamu sedang mengejar cinta sejati itu ternyata, ya?! Astaga! Ibu sudah menduga ini sebelumnya. Tapi, kenapa kamu tidak langsung membawanya kemari?" Hannah sangat gembira dan antusias dengan berita itu. Ia bahkan langsung memanggil pelayan untuk menyiapkan makan malam.

__ADS_1


"Ibu ... Sebaiknya jangan berharap lebih seperti itu. Aku sebelumnya sudah memintanya datang, tapi dia tidak bersedia."


Hannah berubah murung. "Gadis itu pasti sangat kecewa dengan keluarga kita, kan?" cicitnya sambil tertunduk.


"Hamna tidak seperti itu, Bu. Ia bahkan ingin bertemu dengan Ayah dan Ibu. Tapi untuk mengunjungi kediaman Musyaffa, Haidar benar-benar ragu. Ibu juga tahu, hinaan Paman waktu itu benar-benar menyakitinya," kata Haidar menjelaskan. Ia juga tak bisa melakukan apapun untuk itu.


Hannah berdecak pelan. "Benar juga, jika Ibu yang ada di posisinya, Ibu juga akan melakukan hal yang sama. Hamna pasti sangat terluka sampai dia memilih pergi waktu itu."


Haidar mencoba menghibur Ibunya yang sampai saat ini masih saja merasa bersalah. "Tapi hal itu sudah berlalu, Bu. Sekarang, bagiku cukup Hamna mau kembali ke sisiku, Haidar tak membutuhkan hal yang lain lagi."


Hannah menggangguk membenarkan. "Ya, itu juga cukup bagus. Setelah menikah sebaiknya kamu langsung membeli sebuah rumah yang besar. Hidup berdua dengan bahagia. Dengan begitu Ibu dan Ayahmu juga tidak perlu khawatir lagi."


"Tapi, Bu. Hamna yang sekarang bukanlah Hamna yang sama. Hamna sekarang memiliki kesibukannya sendiri. Dia memiliki kehidupan di LA, untuk bisa terus berdampingan sepertinya agak sulit," ungkap Haidar menunjukkan keraguannya.


Hannah menepuk bahunya pelan. "Kalau begitu, kamu yang harus sedikit mengalah, Nak. Pasti tak mudah bagi Hamna untuk mencapai posisinya sekarang. Nanti diskusikan dengannya baik dan capai sebuah kesepakatan bersama. Kamu jangan egois, harus pandai-pandai mencari solusi yang seimbang." Hannah mengingatkan.


"Jika nanti Hamna mau tinggal di sana, Haidar harus bersikap bagaimana, Bu?" tanya Haidar meminta saran. Ia takut melakukan sebuah kesalahan yang berakhir membuat Hamna pergi.


"Ya kamu juga harus tinggal di sana. Ibu harap sesulit apapun keadaan kalian nanti, kalian tetap harus bersama. Kalian sudah berpisah selama 3 tahun, jangan sampai berpisah lagi." Hannah mengusap lembut bahu anaknya itu.


"Tak ada hal yang lebih membahagiakan bagi orangtua selain melihat anaknya bahagia. Restu Ibu dan Ayahmu selalu menyertaimu, Nak. Keluargamu akan selalu mendukung kalian berdua."


"Terima kasih, Bu."


Hannah tersenyum. "Iya, Nak. Nanti diskusikan dulu tentang perusahaan ke Ayahmu, ya. Ayahmu tahu apa yang harus kamu lakukan selanjutnya."


***


Di sebuah hotel bintang lima.


Hamna sama sibuknya dengan Shafiya mempersiapkan pernikahan. Sejak pagi ia hilir mudik ke sana ke mari mengatur segalanya. Ia memastikan banyak hal agar pernikahan Shafiya berjalan lancar.

__ADS_1


Shafiya menghampirinya dengan membawa sebotol minuman dingin. Jika ia tahu Hamna akan sesibuk itu, Shafiya tak akan pernah memberitahukan Hamna apa saja yang harus dilakukan jelang pernikahan.


"Na, minum dulu, kamu dari tadi sibuk banget, istirahatlah dulu," pintanya. Ia menarik Hamna untuk duduk di sebuah kursi yang tadi diambilnya.


Hamna menggeleng. "Sedikit lagi, Fi, tinggal atur dekorasi untuk di sana saja," Hamna menunjuk sebuah sudut yang belum dipasang tirai.


Shafiya menahannya. "Cukup! Kamu itu bridesmaid bukan maid!" sentak Shafiya.


"Duduk di sini dan istirahat, sudah ada yang mengatur semuanya, kenapa kamu harus repot? Sudah ada WO yang mengaturnya, Na!" makinya lagi memaksa Hamna untuk duduk.


"Oke, oke, aku istirahat sekarang."


Hamna duduk dengan tenang dan meminum sebotol minuman yang tadi diberikan Shafiya hingga habis setengahnya. "Kamu tunggu di sini, oke? Jangan kemana-mana! Aku harus menghubungi seseorang, mengerti?"


"Iya, iya, kamu pergilah sana." Sepeninggal Shafiya dari sana. Hamna memandangi dekorasi yang hampir setengah terpasang itu. Tiba-tiba pandangannya menggelap. Seseorang menutup matanya dari belakang.


"Eh, ini ... Pak Haidar!" sentaknya. Haidar terkekeh. Ia melepaskan tangannya dan ikut duduk di samping gadis itu.


"Pak Haidar kok ada di sini?" tanya Hamna setelahnya. "Maksud saya, Pak Haidar tidak ke kantor?"


"Baru saja dari kantor. Sengaja ke sini untuk melihat kamu, Shafiya bilang kamu daritadi sibuk? Sudah makan, Na?"


"Iya, hitung-hitung bantu Shafiya dan Bibi Ayuna. Eh, memangnya sudah jam berapa sekarang?"


"Hm, sudah diduga seperti itu. Ayo kita ke kantin hotel, tadi aku sudah pesan makanan yang kamu suka. Aku juga sudah bawa gaunmu nanti kamu coba lagi, ya."


Haidar menggamit tangan Hamna menuju ke luar. Perasaan Hamna menghangat. 'Jika aku tahu perasaan jatuh cinta seindah ini, sejak dulu seharusnya aku memberanikan diri. Tapi, sekarang pun tidak terlalu terlambat, kan? Kuharap begitu. Dia laki-laki yang sama yang membuatku memahami cinta.'


Hamna terus tersenyum bahkan saat mereka sampai di depan kantin. "Kamu kenapa, Na?"


"Ti-tidak ada. Aku hanya merasa bahagia sekarang."

__ADS_1


"Bahagia karena pernikahan Shafiya?"


Hamna menggeleng pelan. "Bahagia karena takdir mempertemukan kita kembali."


__ADS_2