
"EL-GHAZY, ENOUGH!" teriak Haidar yang sedari tadi masih sibuk mengejar El di taman. Anak kecil itu berlarian dengan riang, tak memedulikan pamannya yang sudah kewalahan. "Tak mau, tak mau. Kejar El kalau Uncle bisa" ejeknya, lalu ia berlari ke dalam.
Tak memerhatikan jalan, El justru menabrak Hamna dan membuat gadis itu terlonjak kaget. "Aduh, El, kok lari-lari?" tanyanya seraya mengangkat El yang terjatuh. El menangis kencang, kakinya terkilir. Dengan panik Haidar menghampiri keduanya.
"El, Hamna, kalian baik-baik saja?" Hamna mengangguk, lalu beralih melihat El, anak kecil itu masih menangis kencang, "El, bagian mana yang sakit? Coba Uncle lihat" Haidar membawa El masuk ke dalam diikuti oleh Hamna.
Haidar meletakkannya di sofa, dengan panik Hamna meminta ART untuk mengambil P3K. Keduanya memeriksa keadaan El dengan seksama. "Tidak apa-apa, sepertinya El hanya tersandung saja" Hamna bernapas lega.
"El kenapa tadi lari-lari?" Tanya Hamna setelah ia memastikan El tidak menangis lagi. Mata El mengerjap-ngerjap, "Kakak, Uncle terus kejar El. Uncle suruh El belajar padahal kan El gak mau. El maunya main, jadinya El lari-lari, tapi El malah jatuh" adunya pada Hamna.
"Itulah sebabnya El tak dengar Uncle. Anak nakal!" Seru Haidar tak mau kalah oleh El. Melihat keduanya, Hamna tertawa sendiri. "Kalian ini, ya. Sudah, sudah. Sekarang Kakak mau tanya sama El. Kenapa El gak mau belajar?"
__ADS_1
El tampak berpikir, keduanya memperhatikan gerak-gerik El yang seperti orang dewasa. "El?" Panggil keduanya bersamaan. El menoleh.
"El gak suka belajar" jawabnya murung. "Alasannya?" Tanya Hamna lagi. Ia masih penasaran dengan El. "Mama sama Papa selalu suruh El belajar. Them have no time to playing with El. Mereka hanya main sama baby Al" ujarnya pelan. Di wajahnya, garis kesepian tampak dengan jelas. El butuh teman bermain.
Hamna dan Haidar berpandangan. "El punya adik?" Haidar memandang El yang dipeluk Hamna. "Iya, namanya Almaida, usianya baru 3 tahun. Bibi Hafsha memang lebih fokus menjaga Alma, sedangkan El diurus oleh nanny" Hamna mengangguk, mengerti, itu sebabnya El berulah pagi ini.
"El sukanya main, ya? Mau main sama Uncle dan Kakak?" El menatapnya, ia mengangguk antusias. Hamna tersenyum lembut, jemarinya yang halus mengusap pucuk kepala El. "Boleh. Tapi, El tahu gak kalau yang El lakukan tadi itu gak baik, lho. Kalau El dipanggil, El harus apa?" Haidar mendengarkan keduanya seksama.
"El paham sekarang Kakak" jawabnya, lalu ia beralih kepada Haidar. Dipeluknya lutut Haidar erat. "Uncle, El minta maaf, ya. Maaf El sudah bikin Uncle lari-lari" Haidar tersenyum, ia mengangkat El. "Oke, jagoan El. Kita pulang ke rumah sekarang?"
"Ta-tapi, El gak mau pulang, Uncle. El mau di sini sama Kakak Hamna" El mulai merengek lagi. Ia meronta-ronta. "El, El tenang dulu, ya. Jangan marah-marah, bicara baik-baik, oke?" bujuk Hamna.
__ADS_1
El menurut, ia turun dari gendongan Haidar dan memeluk Hamna. "Good Child. El anak baik, ya. Kenapa El gak mau pulang sayang?" ujar Hamna lembut.
"Gak, gak, gak, pokoknya El gak mau pulang! El mau di sini" Hamna menatap Haidar, seolah meminta pendapatnya. "Bagaimana jika El di sini beberapa hari?"
Haidar pasrah, ia akhirnya mengangguk. "Saya akan mintakan ijinnya. Kalau begitu, saya pamit ya, nanti malam saya kembali lagi"
El berseru senang, ia melompat dengan riang. "Hati-hati El, nanti jatuh"
"Baik, Pak. Terima kasih, hati-hati di jalan"
Setelah itu, Haidar beranjak dari sana. Sedangkan El dan Hamna bermain dengan gembira seharian.
__ADS_1