141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
WDYM


__ADS_3

Dengan enggan, Hamna perlahan membuka kedua matanya. Matanya terasa sakit, lalu ia beralih menatap punggung tangannya yang sudah terpasang selang infus. "Apa yang terjadi semalam?" ujar Hamna bermonolog sambil memegangi kepalanya yang berdenyut.


Fatih masuk bersamaan dengan seorang suster. "Oh, kau sudah bangun. Bagaimana keadaanmu? Kuharap cukup baik, ya." Fatih mengecek kondisi tubuh Hamna.


Fatih tersenyum hangat, "Ya, sudah lebih baik, Alhamdulillah. Ada yang terasa sakit?" Fatih bertanya yang dijawab gelengan kepala oleh Hamna.


"Aku sudah lebih baik, Dok. Boleh aku bertanya sesuatu?" Hamna berharap. Fatih tampak menimbang. "Soal kejadian semalam?" Hamna mengangguk.


Fatih meletakkan meja kecil untuk membantu Hamna makan lalu menempatkan bubur yang tadi dibawanya, lalu berujar "Boleh. Tapi, jangan lupa makan sarapanmu dulu, nanti suster akan membantumu minum obatnya."


Dengan patuh Hamna mulai memasukkan sesendok bubur itu ke mulutnya. Rasa hambar terasa di mulutnya. "Terasa hambar, ya? Mau pakai kaldu?" tanya Fatih saat menyadari raut wajah Hamna. Gadis itu mengangguk.


Harusnya Haidar yang melayanimu begini batin Fatih seraya menuangkan kaldu ke mangkuk bubur Hamna.


"Sudah, Dok. Aku sudah kenyang, ceritakan sekarang" Hamna menyeka mulutnya dengan tisu lalu mengambil posisi duduk yang nyaman. Siap mendengarkan.


"Yang kutahu, semalam kau pingsan saat Haidar memintaku ke sini. Selebihnya aku juga tidak tahu, Haidar hanya memintaku untuk merawatmu saja. Oh, ya, aku juga membersihkan lukanya semalam, kau tanyakan saja padanya nanti," jelas Fatih, ia lalu beranjak untuk mengambil obat Hamna.


"Apa? Pak Haidar terluka?" tanya Hamna yang membuat Fatih menaikkan satu alisnya, bingung. "Kau tidak tahu?" Hamna menggeleng.

__ADS_1


Fatih memberikan obat yang diambilnya kepada Hamna. "Minumlah obatmu, akan kuberitahu dia kalau kau sudah sadar," tanpa menunggu jawaban dari Hamna. Fatih segera pergi ke kamar yang Haidar tempati.


Sedang Hamna masih mematung bingung. Apa yang terjadi semalam? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya? Batinnya bertanya-tanya.


Seseorang berlari masuk ketika diberitahu bahwa Hamna sudah sadar. Laki-laki itu tak lain adalah Haidar. Dengan napas terengah dan wajah khas bangun tidur, ia langsung menemui gadis itu.


"Kamu baik-baik saja, kan, Na? Ada yang terasa sakit, hm? Kenapa sih kamu terus membuat saya takut?" ujarnya, Hamna menatap Haidar dari atas sampai ke bawah.


Untuk beberapa detik, netra keduanya bertemu. "Pak, tenanglah, saya sudah lebih baik," jawabnya, Haidar bernapas lega, lalu menjatuhkan bokongnya di samping bed Hamna. "Alhamdulillah, terima kasih Ya Rabb"


"Fatih, kau sudah memeriksanya dengan baik, kan?" Fatih yang tengah duduk di sofa sambil memainkan ponselnya itu pun bangkit menghampiri Haidar. "Siap, sudah sesuai perintahmu."


"Ini laporannya, kau bisa baca sendiri. Aku sibuk!" ujarnya tak mengalihkan pandangan dari ponselnya. "Kau sibuk apa?" tanya Haidar, matanya melirik sedikit ke ponsel yang sedang ditatap Fatih.


"Tentu saja, kau meragukan lisensiku?"


"Dokter mana yang bermain game susun puzzle?" Fatih mendelik, "Memangnya kenapa? Bermain puzzle bisa mengasah kecerdasan otak, tahu?" Haidar menggelengkan kepala tak percaya.


Hamna yang menyaksikan interaksi keduanya terkekeh, lucu. Sepertinya dua orang ini memang berteman baik, batinnya.

__ADS_1


Haidar kembali beralih kepada Hamna. "Na, boleh saya tanya sesuatu?"


"Apa, Pak?"


"Semalam apa yang terjadi padamu sampai kamu kehilangan kendali? Wanna tell me, hm?" Haidar menatapnya lama membuat gadis itu sedikit gugup.


"What do you mean with lost control?" Hamna balik bertanya, matanya tak sengaja menatap perban luka di lengan Haidar. "Pak? Luka itu... Apakah... Karena saya?"


Haidar menatap lengannya yang diperban, ia pun baru menyadarinya. "Oh ini... Tidak sengaja tergores. Itu tidak penting, Na. Bagaimana keadaanmu sekarang?" Haidar kembali bertanya mengalihkan pembicaraan.


Ia tak mau lagi mengungkit kejadian semalam, hal itu biarlah ia cari tahu sendiri nanti. "Jaga kesehatanmu dengan baik, beberapa hari istirahatlah dengan tenang, jangan terlalu lelah, juga jangan terlalu banyak pikiran."


Haidar bangkit, "Fatih, bisa kan kau tempatkan beberapa suster untuk mengontrol kondisi Hamna di sini?" Fatih mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.


"Bisa diatur, Pak"


Hamna menatap Haidar lama, "Pak, itu tidak perlu, saya sudah ada banyak maid, untuk apa suster?"


"Maid untuk membantumu membersihkan rumah ini sedangkan suster yang akan menemanimu selama saya pergi, Fatih tidak mungkin 24 jam bersiaga di sini."

__ADS_1


"Tapi... " Hamna siap menolak, namun tatapan tegas dari Haidar membuat niatnya urung.


"Tidak ada tapi, Na. Saya pergi dulu, ya, ada pekerjaan mendesak." Haidar berlalu, meninggalkan Hamna yang menatapnya agak sedih. Ada perasaan sedikit kehilangan yang merayapi hatinya. Sebenarnya, Hamna ingin Haidar di sisinya, menemaninya. Namun, ia juga tahu, Haidar pasti sibuk.


__ADS_2