141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Rindu yang Tak Pernah Usang


__ADS_3

Usai berpakaian rapi, Hamna turun. Ditatapnya Haidar dan El yang sedang sarapa. "Selamat pagi" sapanya dengan sedikit tersenyum. El yang menyadari kehadiran Hamna bersorak gembira. "Yeay, hari ini kita jalan-jalan"


"Sarapan dulu, Na." Haidar bersuara. "Tidak usah, Pak. Nanti saja sekalian makan siang" jawabnya menolak.


"Saya tahu kamu tidak suka sarapan, setidaknya makanlah roti lalu minum obatmu. Saya takut kamu pingsan lagi seperti semalam" kening Hamna berkerut. "Semalam saya pingsan?"


Laki-laki itu mengangguk sambil menarik Hamna untuk duduk. "Makanlah, saya dan El akan menunggu di mobil"


"El, come on, little boy." Setelahnya kedua orang itu meninggalkan Hamna di meja makan, dengan cepat Hamna menghabiskan makanannya lalu menyusul Haidar dan El.


"Benarkah saya pingsan semalam, Pak?" Haidar terperanjat kaget. El sudah masuk lebih dulu dan asyik memainkan mobilnya.


"Ya. Kamu pingsan. Bukan hanya pingsan, tapi kamu juga memeluk El dengan sangat erat sambil memanggilnya Ghazy, Ghazy, Ghazy dengan histeris, lalu tak sadarkan diri"


"Saya memanggilnya dengan Ghazy?" tanyanya lagi masih penasaran. Haidar mengangguk, tangannya mulai menyalakan mesin. Ia merasa Hamna bertingkah aneh hari ini.


"Itu tidak mungkin. Nama mereka memang sama, tapi El bukanlah Ghazy. Dia bukan Adikku" batinnya merintih. Untuk sesaat rindu menyusupi hatinya. Rindu akan orang-orang terkasihnya. Mata kecil Hamna mulai berkaca-kaca.


"Na, Are you okay?" tanya Haidar melihat Hamna yang termenung. "Ya, I'm fine"

__ADS_1


"Uncle, kapan kita pergi?" suara El dari belakang mengalihkan keduanya dari kesedihan Hamna. "Hey little boy, kita berangkat sekarang, ya" jawab Hamna sambil mengelus pucuk kepala anak kecil itu penuh sayang.


Mobil melaku dengan cepat. Sepanjang jalan, El terus mengoceh dan bernyanyi dengan riang. Beberapa saat ia akan bersorak ria tatkala mobil berukuran besar mendahului mobil mereka. Ia berujar, "Uncle ayo kejar mobil besarnya!" membuat Haidar menggelengkan kepalanya. "No, El. It dangerous, you know it right?" yang dibalas cekungan bibirnya.


"El, yang Uncle bilang benar, lho. Mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi bisa sangat berbahaya. Kalau El suka mobil, nanti kita main mobil di Time Zone, mau?" ujar Hamna kemudian, mata El kembali berbinar. "Oke, deh"


Sesampainya di sana, El langsung turun menghambur keluar dan berlarian ke sana ke mari. "Jalan santai aja, ya, El. Tuh lihat, ada banyak orang" tegur Hamna seraya menggandeng lengan anak kecil itu.


Usai memarkir mobil, Haidar akhirnya menyusul. Ketiganya berjalan dengan saling menggandeng tangan, persis seperti figur keluarga bahagia.


"Ayo Uncle, lebih cepat lagi dong kejar El" seru El bersemangat saat ketiganya bermain car's race. Tak mau kalah, Haidar turut antusias bermain. "Oke, kalau El kalah, El gak bisa makan es krim, ya" katanya seraya mengemudi mobil mini itu ke arah El.


"Terima kasih, ya, Na" ucap Haidar tiba-tiba, gadis itu menoleh "terima kasih untuk apa, Pak?"


"Sudah membantu saya menjaga El dan mengajaknya bermain" Hamna tersenyum tulus. Senyum yang belum pernah ia perlihatkan sebelumnya, senyum yang membuat hati Haidar berdesir hangat. Jemarinya yang lentik membelai pipi El yang pulas di pundak Haidar.


"Dengan senang hati, Pak. Melihat El, saya seperti melihat adik kembar saya sendiri. Nama mereka juga hampir sama. Ghazi Arshaka Zubair dan Ghazan Zioshaka Zubair.


Jika mereka masih ada, mereka pasti sudah seusia El sekarang" sebulir air mengalir tanpa ijin dari pipi Hamna.

__ADS_1


Getir kerap kali menghampiri Hamna. Namun, tak ada yang bisa ia lakukan selain menerima dan bersabar atas takdir. "Kamu pasti sangat merindukan mereka" lirih Haidar.


"Tentu saja, sampai kapan pun saya akan tetap merindukan mereka. Dan itu adalah rindu yang paling menyakitkan bagi saya." Haidar terdiam, tak tahu harus bagaimana.


"Pak, biar saya yang gendong El. Pak Haidar ambil mobil saja" ujar Hamna setelah beberapa menit hening. Tanpa Haidar sadari, ternyata mereka sudah sampai di tempat parkir. "Oh, ya, baiklah. Kamu tunggu di sini, saya tak akan lama" jawabnya yang diiyakan Hamna.


Tak lama, Haidar kembali, lalu ketiganya kembali pulang membawa serta rindu yang tak pernah usang.


•••••


Selamat Membaca


Jangan lupa dukungan, vote dan bagikan, ya.


Salam Cinta,


Author


— HK

__ADS_1


__ADS_2