
Rinai hujan membelai bumi dengan mesra. Mencumbu jalan dengan kenangan yang tak lekang oleh waktu. Mencandai dedaunan dengan semilir angin rindu. Mendung menambah suasana dua hati merangkai cerita yang sempat tertunda. Gegap cemas hilang entah ke mana saat yang dipinta hadir di depan mata.
Setelah mengobati luka dan memberi kesaksian kepada polisi. Haidar mengajak Hamna duduk di sebuah kafe tak jauh dari rumah sakit. Ia harus memastikan apa yang terjadi kemarin malam.
Fawwaz, Hannah dan Shafiya sudah pulang sejak 30 menit yang lalu, usai Haidar menceritakan kejadian kenapa dia sampai babak belur. Subuh itu, saat Haidar tengah terhenti dari perjalanannya mencari Hamna.
Tiba-tiba tiga orang preman mengetuk kaca jendela mobil Haidar dengan keras. Menodongkan senjata tajam kepada Haidar sambil mengancamnya agar Haidar gentar. Ia sempat berkelahi melawan dengan tegap berani namun kalah jumlah, dan berakhir dengan ketiga preman itu membawa pergi mobilnya juga serta ponsel dan dompetnya.
Dengan tenaga yang tersisa, Haidar memberhentikan ojek yang tak sengaja lewat dan pulang ke rumah. Sesampainya di rumah ia justru mendapati kabar Hamna pergi ke rumah sakit. Cemas tak terkira, tentu saja. Dengan sisa-sisa kesadarannya, ia langsung pergi ke sana.
"Maaf. Maaf karena saya telah membawamu pada kondisi ini, Pak." Hamna menunduk, masih merasa bersalah atas apa yang terjadi. Gadis itu selalu begitu. Merasa bersalah atas kesakitan dan kemalangan orang lain.
"Tidak, kamu tidak salah, Na. Semuanya sudah terjadi. Justru di sini saya yang harusnya meminta maaf padamu. Kemarin malam, kamu pergi karena Paman menghinamu lagi, kan?" duga Haidar. Tangannya terlipat di meja, bekas luka nampak di tiap buku jarinya.
Hamna terdiam membisu, menambah keyakinan Haidar. Bahwa terjadi sesuatu malam itu. "Apa yang Paman saya katakan padamu, Na? Apapun yang Paman saya katakan semuanya tidak benar, tolong jangan dimasukkan ke dalam hati," tutur Haidar.
Ia berjanji dalam hati, sesampainya di rumah ia harus jelas-jelas memperhitungkannya dengan baik!
Hamna mendongak, tersenyum, namun di matanya ada kepedihan yang tak bisa Haidar raba. "Tapi apa yang dikatakan Paman Hayan memang benar. Saya gadis yatim dan tidak pantas," Hamna menggantung ucapannya. Tak ingin Haidar membelanya seperti hari itu yang menambah rasa bersalahnya, apalagi sampai menyalahkan Pamannya sendiri.
Kini, Haidar tahu apa masalahnya. Gadis di hadapannya pasti sangat terluka, karena itu dia sampai memutuskan pergi begitu saja. Diam-diam Haidar mengutuk Pamannya sendiri.
__ADS_1
"Sekali lagi maaf, Na. Saya minta maaf atas namanya dan atas nama saya sendiri," tulus Haidar meminta maaf. Jika seandainya Hamna tidak bisa memaafkannya, ia akan melakukan apapun untuk menebusnya.
"Sudahlah, Pak, dilupakan saja. Saya justru penasaran, kenapa Pak Haidar sampai mencari saya? Seharusnya Pak Haidar mengirim pesan saja kalau mau meminta maaf." Haidar terdiam sebentar. Menyesap kopinya yang masih menguar.
"Tidak, ada hal lain yang ingin saya katakan, Na. Seharusnya kemarin, agar momentnya tepat, tapi saya tidak menyangka akan begini." Hamna membenarkan duduknya, tampaknya hal yang akan Haidar katakan lebih serius dibanding masalahnya sendiri.
Haidar tampak mengeluarkan kotak biru beludru dari saku celananya. Yang syukurnya tidak ikut diambil oleh preman-preman itu. Cincin di dalamnya adalah harta berharga yang Haidar pilih sendiri khusus untuk Hamna.
Hamna menunggu dalam keterkejutannya. Dadanya berdebur bagai ombak. Hatinya mendesir hangat. Apakah mungkin? Kepala cantiknya mulai menerka-nerka.
Haidar mengukir senyumnya semanis mungkin. "Sangat tidak tepat, tapi saya tidak bisa menunggunya lagi, Na. Saya khusus membeli cincin ini sejak sebulan lalu." Ia membuka kotak itu, di dalamnya sebuah cincin berkilau terpandang mata. Ia meletakkannya begitu saja. Seolah membiarkan siapapun melihatnya.
"Apakah kamu mengingat bagaimana kita bertemu pertama kali waktu itu, Na?" tanya Haidar setelah beberapa saat mendengar dengung riuh pengunjung. Hamna mengangguk mengingat saat-saat itu.
"Iya, saya ingat. Pak Haidar tiba-tiba datang dan mau bergabung di meja dengan saya dan Shafiya," jawabnya terkekeh.
"Tapi kamu menolaknya dengan keras, kamu bahkan menatap saya sangat tajam saat itu," Haidar tertawa. Itu pertama kalinya kehadiran dia ditolak oleh perempuan. Namun bukannya tersinggung, Haidar malah jatuh hati pada Hamna.
"Jika diingat, waktu berlalu begitu cepat, ya, Pak," ujar Hamna seraya mengulum senyumnya. Tak pernah Hamna sangka dari kejadian itu akan tercipta keadaan sekarang. Keduanya dekat dan saling terjerat rasa.
"Sudah 141 hari berlalu sejak hari itu, Na." Hamna mendongak, menatap jauh ke dalam netra Haidar. Mencari makna dalam kata yang terucap lisannya.
__ADS_1
"Sudah 141 hari saya mencintaimu, Na. Dan baru hari ini saya berani utarakan perasaan itu." Tatapnya beralih pada wajah yang dipuja.
Siapapun yang melihatnya bisa tahu, dalam tatap itu ada cinta yang tak terkata. Tak terkata bukan berarti tak nyata.
Deg... Berdebar jantung Hamna. Berpacu dengan detak jantung Haidar yang seirama. 141 hari mencintaiku? Sungguh? Hamna bertanya-tanya.
Haidar beralih meraih jemari Hamna dan memasangkan cincin dari kotak biru beludru itu. Hamna tak mampu berbicara apapun. Membisu adalah keahlian Hamna tiap kali mengatasi kejutan yang tiba-tiba.
"Saya tidak tahu apakah saya pantas atau tidak untuk ini," lirih Hamna. Ia merasa senang namun jauh di lubuk hatinya, Hamna merasa ia tak pantas menerimanya. Kata-kata Hayan terus teringat. Gadis Yatim. Gelar itu sungguh membebani hatinya.
"Kamu sangat pantas, Na. Kamu pantas untuk bahagia, pantas untuk menerima cinta lagi dan kamu pantas untuk saya. Tak apa jika kamu memang belum mencintai saya, cukup saya saja yang mencintaimu. Lagipula kita punya waktu yang panjang," tutur Haidar mendamaikan Hamna.
Tapi, sungguh, Hamna benar-benar ragu. Bukan pada Haidar tapi pada dirinya sendiri. Setelah apa yang terjadi, ia merasa harus jadi setara dulu dengan Haidar baru merasa pantas bersamanya.
Haidar tersenyum memandangi Hamna yang terus menatap cincin itu. Seperti kata Hannah, pilihan Haidar tak pernah salah. Selepas ini, ia harus segera pulang dan mengabarkan kepada Ayah dan Ibunya. Orang tua itu pasti senang, kan?
Hujan masih menggelayuti langit, hati Haidar kian berbunga bersama riuhnya angin. Titik hujan menampar jendela, mengalihkan keduanya. "Hujannya semakin deras, sepertinya kita terpaksa di sini lebih lama, Na. Tidak apa-apa, kan?"
Hamna mengangguk menyetujui. "Ayo pesan kopi lagi, Pak. Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan."
Siang itu, dinginnya hujan tak menyurutkan perasaan mereka yang merekah. Dan 141 hari mencintaimu hinggap di penghujung mata. Adakah kesan yang kau terima wahai pembaca?
__ADS_1