141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Maaf yang Tertunda


__ADS_3

Hamna memainkan jemarinya resah. Sepanjang jalan, jantungnya berdegup kencang saat Haidar mengantarkannya ke sebuah Kafe.


Untuk sesaat, Hamna melupakan sifat keras kepalanya dan mengikuti saran Haidar. Sebenarnya tak mudah bagi Haidar untuk membujuk Hamna. Namun untungnya, dengan segala pengertiannya Haidar berhasil melakukannya.


"Pergilah, jika kamu membutuhkan sesuatu, kamu tahu kan harus mencari saya ke mana, Na?" Hamna mengangguk. Setelah Haidar menghilang dari pandangannya, ia berjalan menyusuri area Kafe yang cukup luas itu.


Senyum tulus terukir dari bibir seorang pria yang sedari tadi menunggu kedatangan Hamna. Ia bangkit dari duduknya dan mempersilahkan Hamna untuk duduk. Tak lupa pula ia memesankan kopi kesukaan Hamna.


Hamna berusaha mengulas senyumnya dan berterima kasih. Lelaki itu kembali duduk.


"Terima kasih karena kamu sudah mau meluangkan waktu untukku, Na. Kamu tahu? Aku sangat senang, akhirnya kamu tidak menghindariku lagi," ujarnya sambil menatap Hamna.


Namun gadis itu membuang muka. Tak mau menatap Zayan, yang sampai hari ini masih menatapnya penuh puja. Dulu, Hamna pasti akan tersipu saat dipandang seperti itu, namun, bukankah segalanya telah berbeda sekarang?


5 tahun lalu, Zayan memang orang yang dicintai Hamna setelah kehilangan keluarganya. Namun kenyataannya telah berubah sekarang.


Lelaki yang berada di hadapannya sekarang sudah menikah, bahkan memiliki seorang anak perempuan yang diberi nama persis sepertinya! Dan fakta itu membuat Hamna kesal sekaligus tak habis pikir.

__ADS_1


Tak cukupkah ia menyakitinya dulu, hingga ia membawa namanya pada seorang anak kecil yang tak tahu apa-apa?


Untuk beberapa menit, keduanya hanya saling merangkai bisu. Tak ada satu pun yang ingin membuka percakapan. Hingga Zayan tak tahan dan lebih dulu membuka suara.


"Hamna... " panggilnya lirih yang membuat Hamna mau tak mau mendongak. "Aku tak tahu harus mulai dari mana, tapi rasanya senang sekali dapat kembali bertemu denganmu setelah bertahun-tahun. Apakah kamu ingat saat kita-"


"Aku tidak ke sini untuk mengenang masa lalu Tuan Halim," potong Hamna cepat. "Aku pikir, dengan hadir di sini, setidaknya aku dapat mendengar satu saja permintaan maaf yang tulus dari Anda. Bukan hanya sebuah basa-basi, apalagi mengenang kisah yang telah usai," lanjutnya lagi.


Zayan sedikit tersentak oleh nada bicara Hamna yang meninggi. Ada sedikit nyeri yang menyentil hatinya. Sebenci itukah kamu padaku, Na?


Hamna bergeming, ia pun tak tahu apakah yang ingin ia dengar benar-benar sebuah permintaan maaf atau perasaan sesal Zayan karena telah meninggalkannya begitu saja 5 tahun lalu?


Hamna juga tak yakin, luka itu begitu menganga. Dan kehadiran Zayan saat ini seolah merobek luka itu lebih dalam dan perih. Dengan luka yang tak biasa, mampukah hatinya menerima maaf itu?


"Kamu telah berubah, Na. Kamu yang sekarang sangat tidak aku kenali. Ke mana perginya Hamna yang periang dan lemah lembut?" lirih Zayan yang sialnya masih dapat didengar baik oleh Hamna.


"Hamna yang kau maksud telah mati, Tuan Halim. Ia telah mati, dan aku telah menguburnya jauh-jauh dalam diriku," sentaknya. Ia sudah berusaha bersabar, namun mengapa Zayan seperti tak mengerti?

__ADS_1


Seorang pramusaji datang mengantarkan pesanan keduanya. Hamna hanya menatap cangkir kopi yang mengepulkan asap panas itu tanpa niat meminumnya.


Zayan tertunduk. Kini, hatinya bagai ditikam duri. Dialah alasan mengapa Hamna berubah. Ia sadar ia telah menyakiti Hamna terlalu dalam. Tapi, apa yang bisa ia lakukan sekarang?


"Ada dua alasan mengapa orang berubah, Tuan Halim," Hamna kembali bersuara. Ia menatap dalam manik mata Zayan saat pria itu mendongakkan kepalanya. Untuk sesaat netra keduanya bertemu.


Hamna menopang kedua tangannya di atas meja. Ekspresinya tak terbaca. Antara kebencian, kesedihan dan luka bercampur jadi satu. Menjadikan Zayan makin tertikam sesal.


"Antara pikirannya yang telah terbuka. Atau karena hatinya yang sudah terluka. Menurutmu alasan mana yang paling cocok untukku?" Lagi, Hamna berhasil memojokkan lelaki di hadapannya itu.


Zayan membisu, ia tahu jawabannya, dan tahu pasti alasannya. "Seseorang harus berubah, Tuan Halim. Kau tak bisa terus menjadi seseorang yang mencintai padahal kau telah dilukai." Cukup, Hamna sepertinya tak ingin memberi jeda untuk Zayan.


"Na, bisakah kau dengarkan penjelasanku sekali saja?" tanya Zayan dengan memelas.


Akhirnya ia lelah terus menjadi pihak yang disalahkan. "Kau tak bisa terus membenciku hanya karena kita tak pernah bertukar tempat. Kau tak bisa terus menghakimiku padahal kau tak tahu kenyataannya," lirih Zayan.


Hamna sedikit melunak, ya, mungkin, seharusnya ia mendengarkan yang sebenarnya. Akan tetapi bukan agar Zayan kembali mendapat kesempatan melainkan untuk membuat hatinya sendiri tenang.

__ADS_1


__ADS_2