
"Ada apa?" Tanya Hannah, Fawwaz menoleh lalu menghampiri Hannah yang berdiri di depan pintu.
"Bagaimana keadaannya?" Ia menggenggam lengan istrinya lembut. Hannah balik menggenggam jemari Fawwaz. "Dia baik-baik saja" ujarnya lembut, ia tahu suaminya itu pasti sangat khawatir.
Fawwaz menghela napas berat, "aku tidak menyangka masalahnya akan jadi sebesar ini, Anna" Hannah mengelus lembut lengan suaminya, benar saja, seperti Haidar, Fawwaz juga merasa bersalah. "Aku juga tidak menduganya, tapi syukurlah dia baik-baik saja, sekarang kita harus memastikan bahwa Haidar akan menjaganya dengan baik"
Fawwaz mengangguk, "hmm, itu benar ... Anna, ayo ikut aku, biar kutunjukkan sesuatu." Fawwaz berjalan ke arah dinding yang ditutupi kain putih besar lalu membukanya. Sebuah foto terpampang jelas di sana, sepasang suami istri, putri dan dua anak laki-laki yang masih belia. Hannah tampak terkejut melihatnya.
"Ini ... Ini Hunain dan Zu? Aku tidak salah lihat, kan? Fawwaz katakan sesuatu!" sentaknya merasa terkejut. Fawwaz menganggukkan kepala tanda bahwa dugaan Hannah benar.
"Kamu benar, mereka adalah Hunain, Hunain Ghaniyyan Zubair dan Zuhayri Nafisa Raihana. Itu putri sulungnya dan dua anak laki-lakinya yang masih kecil" jawabnya masih menatap foto itu dengan tatapan sayu.
"Astaga, itu artinya gadis yang ada di foto itu adalah putri mereka ... Hamna? Sejak kapan kamu tahu hal ini?" Tanyanya seraya menutup mulutnya, Hannah benar-benar terkejut mengetahui faktanya.
__ADS_1
"Aku juga baru mengetahuinya saat tadi menggeledah ruangan ini. Aku sama terkejutnya denganmu, Anna. Awalnya aku hanya mengira, tapi sejak aku mengetahui nama belakangnya Hamna, aku seketika teringat dengan Hunain, mata mereka dan sifat mereka begitu mirip" Hannah meraba-raba foto itu.
"Selama 7 tahun kita tidak bertemu mereka, aku terus bertanya-tanya kemana mereka pergi sampai tidak terdengar kabarnya. Kenapa kenyataan begitu menyakitkan, Fawwaz?" Hannah terduduk, tak kuat menahan kesedihannya lagi. Fawwaz memeluknya erat.
"Sayang, tenangkan dirimu" laki-laki itu mengelus pundak istrinya. "Tapi, Fawwaz. Kenapa Hamna juga ada di foto in memoriam ini? Bukankah dia masih hidup? Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka?" Hannah mendongak menatap suaminya tajam, mencari jawaban dari kedalaman mata Fawwaz.
Namun, Fawwaz menggeleng. Ia juga tak paham apa yang terjadi, ia sama terkejutnya dengan Hannah. "Hanya ada satu kemungkinan ... " ia menjeda ucapannya. "Apa?!" tanya Hannah tak sabar. "Pengalihan" kening Hannah berkerut, "maksudmu?"
"Ya. Aku rasa itu hanyalah pengalihan dari Dewan Direksi Zubair. Bagaimana pun, sejak dulu, banyak yang tidak menyukai Hunain dan Zuhayri, banyak yang menentang hubungan mereka. Kamu juga ingat, kan? Bagaimana perjuangan mereka untuk bersama"
"Yang pasti, ada alasan tersembunyi dibalik foto ini, Anna. Mungkin, dewan direksi khusus yang dibentuk Zubair menyadari adanya pihak yang berkolusi, untuk itu mereka menyembunyikan fakta demi keselamatan Hamna sendiri ... " Fawwaz berdiri, ia kembali menatap foto in memoriam itu lagi dengan seksama.
"Saat waktunya tiba, dewan direksi khusus akan menunjukkan identitas aslinya sebagai penerus Hunain dan membuat kaget jajaran eksekutif dan para pemegang saham. Ke depannya tidak akan mudah bagi Hamna, setelah umurnya mencapai usia 25 tahun, Hamna akan menerima beban yang berat itu, sama seperti Haidar."
__ADS_1
Hannah menarik napas panjang, "sama seperti orang tuanya, jalan cinta mereka juga tidak akan mudah, kan? Menurutmu, apakah Hamna akan mampu memikul tanggung jawab yang sebesar itu?"
"Kenapa tidak? Haidar ada di sisinya, terlebih lagi dia adalah anaknya Hunain dan Zuhayri. Tanggung jawab yang dibebankan kepadanya mungkin besar, tapi tekadnya juga tidak kecil, ia tidak akan semudah itu menyerah, seperti Hunain" jawab Fawwaz yakin. Ia tersenyum sendiri saat mengingat kenangannya dan Hunain, sahabat karibnya.
"Aku tidak tahu takdir apa yang mungkin kita terima. Tapi, aku sangat yakin, kedua anak kita akan mengulang sejarah itu, Hunain" batin Fawwaz.
"Zu, aku berjanji padamu, aku akan menjaga anakmu dan menjadikannya menantu terbaikku!" ucap Hannah dalam hati, ia tersenyum menatap foto in memoriam itu.
"Ayo, kita kembali" ajak Fawwaz seraya menggandeng istrinya. Hannah mengangguk, lalu keduanya kembali menutup foto itu dengan tirai putih.
"Kita harus ke luar kota untuk mengurus sesuatu."
"Baiklah, tapi sebelum itu, mari buat kesempatan untuk mereka saling jatuh cinta"
__ADS_1
"Oke, sayang!" keduanya berjalan sambil bergandengan tangan.