141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Kabar Baik


__ADS_3

Malam harinya, Hamna dan Alice—asisten Hamna— menghentikan mobilnya di sebuah Restoran di daerah Venice. The Rose Venice adalah tempat yang dipilih kliennya malam ini. Tuan Sammuel.


Hamna dan Alice pun melangkah masuk, tepat di meja kedua dari pintu, Tuan Sam berada. Hamna mengucap salam dan permintaan maaf karena sudah terlambat.


"Tidak apa-apa, silahkan duduk, Nona Hamna," jawabnya dengan aksen British.


Hamna tersenyum ramah. "Terima kasih, Tuan Sam, panggil saya dengan Hamna saja, ini asisten saya, Alice namanya."


Tuan Sam mengangguk lalu mempersilahkan Alice untuk duduk juga, Alice menolak namun Sam bersikeras. Pada akhirnya, Alice juga terduduk di samping Hamna, menunduk dalam diam. Membiarkan dua orang besar itu untuk berdiskusi.


"Jadi, bisakah kita ambil kesepakatannya Tuan Sam?" Sam mengangguk masih menatap berkas yang dipegangnya sambil sesekali mengusap dagunya pelan.


"Hm, cukup menarik. Saya merasa ini proyek yang sangat bagus dan berpeluang besar. Namun tetap saja, saya harus mendiskusikannya dulu dengan Tim Perencana. Dua hari kemudian akan saya putuskan, bagaimana?" tawarnya mencoba bernegosiasi.


Hamna tersenyum sekilas, memangku kedua tangannya dengan anggun lalu menjawab tawaran itu dengan anggun. "Itu bagus, Tuan Sam. Tapi jika Tuan Sam masih ragu, saya berencana mengajukan kontrak ini kepada pihak lain."


"Tidak, tunggu! Saya akan menghubunginya sekarang juga," ujarnya sedikit gusar. Lantas meminta ijin untuk pergi menelepon sebentar.


Hamna dan Alice saling berpandangan. "Bu, saya rasa Bu Nana akan mendapatkan satu kontrak lagi kali ini," Alice berujar senang. Harus diakui ia sangat mengagumi sosok Hamna yang berada di sampingnya itu.


Jika bukan karena kebaikannya, mustahil Alice berada di posisinya sekarang.


Hamna tersenyum lembut. "Semoga saja, jangan terlalu berharap dulu, apapun bisa saja terjadi."

__ADS_1


15 menit kemudian, Sam kembali dengan wajah berbinar. "Nona Hamna, kami setuju untuk proyek ini," kabarnya, Hamna pun langsung berdiri.


"Sudah saya duga, Tuan Sam sangat bijaksana, senang bisa bekerja sama dengan Anda," ujar Hamna tulus. Tangannya tertangkup tanda terima kasih.


"Ya, senang juga bekerja sama dengan Anda. Tapi maaf, sepertinya saya tidak bisa ikut untuk makan malam kali ini, saya harus kembali untuk mempelajari kontraknya lebih lanjut."


"Tidak apa, Tuan Sam. Kalau begitu silahkan dibawa salinan kontrak ini, saya akan menunggu Tuan Sam untuk tanda tangan kontrak besok?" Sam mengangguk.


"Baik, terima kasih. Saya permisi," pamit Sam lalu berlalu dari sana dengan langkah tergesa.


"Wah, Bu Nana sangat keren! Disetujui begitu saja?" ujar Alice memuji. "Bu Nana sangat pandai negosiasi!" lanjutnya lagi. Hamna tertawa kecil menanggapi pujian dari Alice itu. Alice sudah ia anggap sebagai temannya.


"Karena pertemuan ini, ayo kutraktir kamu makan malam. Kamu mau pesan apa?" Hamna mulai membuka buku menu di sana.


"Tunggu, Bu, sebelum merayakannya, saya juga memiliki satu kabar baik untuk Ibu."


"Sekali lagi selamat untuk Ibu, karena shareholder dari Indonesia itu menyetujui kerja sama kita! Sekretaris mereka juga mengabarkan para board of directors akan langsung ke sini untuk membahas rencana lanjutannya," jelas Alice dengan bangga.


Hamna berubah antusias. "Benarkah? Itu kabar yang sangat bagus! Satu malam kita mendapat kabar yang sangat baik. Luar biasa, kerja yang bagus, Alice!" puji Hamna membuat Alice sedikit tersipu.


"Ini juga berkat rekan-rekan yang lain, Bu. Mereka juga sudah bekerja dengan keras," sangkalnya. Bagaimana pun keberhasilan kali ini berkat kerja sama tim di bawah bimbingan Hamna secara langsung.


Diam-diam rasa kagumnya pada Hamna bertambah. Di matanya, Hamna adalah penyelamat dan wanita luar biasa berbakat dan cerdas.

__ADS_1


"Kamu benar, kalau begitu bagaimana kalau kita rayakan kabar baik ini bersama mereka? Apakah mereka masih di perusahaan?"


Alice mengangguk setuju. "Biar saya hubungi mereka dulu, Bu. Bu Nana pesan makanan lebih dulu saja."


"Baik, jika mereka masih di perusahaan, minta saja mereka untuk datang ke sini. Bagaimana pun mereka berhak untuk dapat hadiah kecil dariku," Alice kembali mengangguk kemudian langsung menghubungi satu persatu rekannya.


"Kira-kira siapa ya sosok yang begitu berbaik hati menerima tawaran kerja sama kita? Padahal sejauh ini banyak perusahaan yang menolak kita karena berbagai alasan."


"Bu Nana jangan berkecil hati begitu. Meski perusahaan kita mengalami stagnasi dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, tapi sebenarnya perusahaan kita memiliki reputasi bagus. Alice sangat percaya jika Ibu bisa membawa kembali perusahaan di puncak kejayaan."


"Kamu benar. Sekarang kita harus berjuang keras! Semoga dengan kerja sama dengan perusahaan baru ini bisa menarik proyek-proyek kecil lainnya."


"Bukan hanya proyek kecil, Bu. Proyek besar juga pasti bisa kita dapatkan!"


"Kamu sangat optimis sekali, ya, Alice. Berarti penilaianku terhadapmu waktu itu sama sekali tidak salah!"


"Bu Nana bisa saja!"


Hanna dan Alice saling tertawa. Beberapa menit kemudian pesanannya datang bersamaan dengan rekan-rekan yang lainnya.


"Aku sangat penasaran dengan Pimpinan mereka, kira-kira ia akan meremehkanku seperti Direktur yang lainnya tidak, ya?" lirih Hamna pelan, tiba-tiba merasa gusar.


•••••

__ADS_1


Shareholder \= Pemegang Saham


Board of Directors \= Jajaran Direksi


__ADS_2