
"Jadi, apa masalahmu? Aku harap kali ini kamu bersedia memberitahuku. Kamu sudah berjanji untuk memulainya dari awal bersamaku, Na. Yang artinya, antara kamu dan aku tidak saling menyembunyikan sesuatu apapun. Kita akan belajar untuk menghadapinya bersama, kamu ingat itu, kan?" cecar Haidar.
Usai makan siang tadi, Haidar terus memberondong Hamna dengan pertanyaan-pertanyaan. Membuat Hamna makin tersudut, tak memiliki pilihan lain. "Iya, aku tentu saja mengingatnya. Tapi bukan berarti aku harus menggantungkan diri padamu, kan, Pak? Ini masalah internal perusahaanku, aku harus bisa menyelesaikannya sendiri."
"Astaga, Hamna. Kamu ini tidak mengerti maksudku. Aku bukan ingin membuatmu bergantung. Aku, dengarkan baik-baik! Aku hanya ingin kamu menceritakan apa masalahmu, dengan begitu, aku bisa tahu atau bahkan membantumu menganalisa masalahmu dan mungkin memberimu sebuah solusi yang masuk akal!" Haidar mulai gemas.
Sampai kapanpun, ia rasa, dirinya tak akan bisa menghilangkan keras kepalanya Hamna. Meski sudah dijelaskan berkali-kali, diberi pengertian, gadis itu tetap saja berpegang teguh pada pendiriannya. Selalu ingin menerima semua hantaman masalah itu sendirian.
Hal yang paling tak Haidar sukai adalah, meski sudah sejauh ini, Hamna tetap tak bisa meyakininya dan hal itu juga yang membuat Haidar sedikit kecewa.
Hamna tampak menarik napasnya panjang.
"Maaf," katanya sambil duduk di hadapan Haidar. Hamna tahu, sekali lagi, ia pasti melukai ego Haidar. Hamna memahami dengan baik semua niat Haidar. Laki-laki itu pasti tak ingin melihatnya dalam kesulitan.
Tapi rasanya tetap saja sungkan bagi Hamna untuk menerima bantuan. Baginya, sudah cukup Haidar mencintainya dan membiarkannya memecahkan masalahnya sendiri. Yang ia butuhkan hanyalah cinta dan kelembutan Haidar. Bukan hal yang lain. Ia ingin berdiri sejajar, bukan terus didorong seperti sekarang.
Melihat Haidar yang terus berusaha meyakinkannya seperti ini justru membuat Hamna sedih, karena itu membuktikan bahwa dirinya memang belum mampu. "Maaf, bukannya aku tidak butuh bantuan dan tidak mau menceritakannya padamu. Tapi ... " Hamna menjeda ucapannya.
Haidar menunggu, menatapnya dalam bisu. "Tapi aku sudah berjanji untuk tidak merepotkanmu," lanjut Hamna lagi. Tangannya bergerak membuka buku secara asal.
"Apa maksudmu itu? Kamu masih merasa bahwa kamu akan jadi bebanku, Na? Justru jika kamu tidak terus terang, aku baru akan merasa terbebani." Haidar benar-benar sudah menyerah meyakinkannya.
"Oke, jangan ceritakan kalau begitu. Yang harus terus kamu ingat, aku selalu ada bersamamu, kapanpun kamu membutuhkanku, aku akan ada di belakangmu. Kamu harus percaya bahwa aku bisa menjadi pendukung terkuatmu," jelas Haidar serius. Percuma saja memaksa Hamna, gadis itu akan semakin kukuh. Lebih bagus jika langsung menjelaskan posisinya.
Hamna tertegun untuk sesaat. Apakah dia sedang kecewa? pikir Hamna. Lalu ia tersenyum. "Iya, aku akan menghargainya. Bagaimana mungkin aku tidak mengakui dukunganmu?" Haidar tersenyum kaku.
__ADS_1
"Ya, untuk sekarang mungkin hanya dukungan dana yang bisa kuberikan. Aku juga bisa memberimu investasi yang lebih besar di beberapa proyekmu jika kamu mau. Tapi, tentu saja aku tak bisa seoptimis itu kamu akan menerimanya," kata Haidar sambil mengedikkan bahu. Lalu meminum kopi yang sudah setengah dingin itu.
"Kenapa tidak? Business is business, tapi tentu aku ingin mengusahakannya lebih dulu. Tidak akan menerimanya dengan tangan terbuka. Dengan begitu baru bisa menghargai jerih payah diri sendiri," jawab Hamna santai sambil berjalan ke tepi jendela kantornya. Memandangi panorama kota yang selalu ramai.
"Sangat berdedikasi, aku suka. Mungkin itu sebabnya aku tak bisa melirik perempuan lain selain kamu, Na." Haidar ikut berdiri di samping Hamna. Memandangi langit yang mulai menampakkan garis senja.
"Apa yang dimaksud dengan 'tak bisa melirik perempuan lain?' Mungkinkah seorang Investor besar sepertimu tidak bisa menggaet perempuan selain Hamna?" Hamna bertanya sambil bergurau. Ada nada tak percaya di sana.
"Itu memang benar. Siapa suruh si Hamna itu begitu sulit dilupakan? Apa kamu tahu? Ibuku pernah memintaku mengikuti kencan buta beberapa kali, katanya paling tidak aku harus menunjukkan sedikit minatku pada perempuan agar keluarga tidak salah memahami orientasiku terhadap lawan jenis," Haidar terkekeh, merasa lucu saat mengingatnya.
"Seriously? Ada hal seperti itu?" Haidar mengangguk. Hamna semakin tak percaya. Dalam 3 tahun terakhir pasti banyak hal yang dialaminya.
"Ya, bukan hanya itu. Shafiya bahkan mendaftarkan diriku di situs kencan online!"
"Sungguh? Shafiya melakukan hal itu?"
Hamna tertawa kecil. "Pasti sulit bagimu memenangkan wanita itu, ya kan? Shafiya memang selalu seperti itu," komentar Hamna.
"Tentu saja sulit. Saat hatimu sudah terpaut dengan seseorang, tak mudah bagimu untuk melupakannya begitu saja. Jangankan mencintai yang lain, memandang wajah selain dirinya saja tak mungkin bisa. Tak peduli serupawan apa orang di hadapan, kehadirannya tak akan pernah bisa menggantikan seseorang yang sudah berada di dalam hati."
Hamna tertegun. Seberarti itukah dia dalam hati Haidar? Tiba-tiba perasaannya menghangat. Haidar selalu bisa membuatnya merasa sangat dicintai. Jika diingat lagi, Hamna sendiri juga tak pernah memikirkan laki-laki lain. Dan itu cukup membuktikan bahwa posisi mereka di hati masing-masing memang begitu kuat.
Hamna memandang jauh ke luar gedung. Sinar jingga sudah menghias langit. "Shafiya ... Seperti apa dia sekarang, Pak?" tanya Hamna setelah beberapa waktu hening.
Haidar menoleh, menatap Hamna dalam kilau senja. "Dia baik dan jauh lebih dewasa sekarang, Na. Sama sepertimu, dia semakin bijaksana, Shafiya bahkan kerapkali menasihatiku," jawab Haidar sambil tersenyum.
__ADS_1
"Dia akan menikah bulan depan, sekarang mungkin sedang mempersiapkan pernikahannya," kata Haidar berikutnya membuat Hamna terkejut.
"Apa? Shafiya sudah mau menikah?" tanyanya seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya. Haidar mengangguk.
"Dia sekretarisku sekarang, Na. Aku sudah mengabarinya bahwa aku sudah menemukanmu. Kamu tahu apa respon pertamanya?"
"Apa?" tanya Hamna penasaran.
"Dia memintaku untuk mengikatmu dengan tali dan membawamu pulang ke Indonesia, katanya agar agar kamu bisa menghadiri pernikahannya," kata Haidar sambil memandang wajah Hamna dari dekat.
"Apakah itu artinya Shafiya mengundangku ke pernikahannya?" tanya Hamna kembali untuk memastikan. Haidar mengangguk pasti.
"Tentu saja, kamu masih tetap sahabat terbaiknya. Aku yakin kehadiranmu akan menjadi kejutan terbaik baginya."
"Kalau begitu ... Aku harus ke Indonesia, kan? Tapi kenapa dia tidak menghubungiku jika ia sudah tahu tentangku?" Hamna tampak ragu.
"Iya, jangan khawatir, kami tidak akan menahanmu lebih dari seminggu. Sebelum pulang selesaikanlah pekerjaanmu lebih dulu, setelah itu kembalilah ke sini. Aku akan mengantarmu nanti, soal Shafiya yang tidak menghubungimu, dia pasti sedang sibuk sekarang," ujar Haidar mencoba meyakinkan Hamna.
Hamna tampak menimbang. Ia harus pergi. Ia tak bisa mengecewakan Shafiya sekali lagi. "Baiklah kalau begitu," ucap Hamna pada akhirnya.
Haidar tersenyum. "Itu bagus sekali. Oh ya, besok aku harus ke Singapura untuk menemui kenalan lamaku. Dia termasuk pebisnis dan investor juga. Beberapa industri bisnisnya bahkan tersebar di beberapa negara."
"Begitu hebatnya," puji Hamna. Haidar mengangguk. "Untuk itu aku ingin mengajakmu ke kediamannya besok. Anggap saja sebagai membangun relasi bisnis, bagaimana? Atau kamu ada urusan besok?"
"Sepertinya tidak ada, aku akan ikut besok. Kalau begitu aku akan hubungi sekretarisku untuk beli tiket dan penginapan," Hamna meraih ponselnya guna menghubungi sekretarisnya itu. Namun tangannya dicekal Haidar.
__ADS_1
"Tidak usah, semuanya aku saja yang tanggung. Dengan alasan karena aku yang mengajakmu. Jangan pikirkan yang lain, persiapkan saja dirimu."
Hamna tak menolak. Ia tersenyum sekilas. "Baiklah kalau begitu, tolong bantuannya, ya," katanya tersenyum manis, membuat Haidar gemas sendiri.