141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Nasi Goreng Cinta


__ADS_3

Ketika Haidar sampai di rumah Shafiya, cahaya langit mulai memudar ditelan senja. Dalam perjalanan pulang, ia terjebak macet sepanjang jalan. Setelah memarkir mobilnya, ia langsung masuk dengan wajahnya yang lusuh kelelahan. Di dalam rumah, Hamna dan Shafiya sedang berbincang di dapur. Keduanya sedang berencana memasak makanan untuk makan malam.


Haidar menyapa keduanya dengan agak layu. "Assalamualaikum" tangannya meletakkan bungkusan yang berisi obat-obatan Ayuna.


Kedua gadis itu menoleh, menyadari kehadiran Haidar. "Wa'alaikumussalam" jawab keduanya serempak.


"Lho, Pak Haidar baru sampai? Saya kira, Pak Haidar sudah pulang ke rumah" Shafiya menyahuti. Sedangkan Hamna sedang sibuk mempersiapkan bahan masakannya.


"Iya, tadi terjebak macet. Kalian mau masak?" Tanyanya seraya menghampiri keduanya.


"Iya, untuk makan malam. Pak Haidar juga belum makan, kan?" Tanya Hamna, ia tengah sibuk memakai celemeknya. Haidar mengangguk, "iya, kamu mau masak apa, Na?"

__ADS_1


Keduanya masih berbincang-bincang, Shafiya undur diri, tidak mau mengganggu interaksi dua sejoli itu. "Oh ya, Na. Aku ke atas dulu, ya, lihat Bunda" ujarnya kepada Hamna, gadis itu mengangguk, "iya, pergilah"


Lalu pandangannya beralih kepada Haidar, "Pak Haidar kalau mau membersihkan diri. Di kamar tamu sepertinya ada baju ganti" katanya, Haidar mengiyakan dengan senang hati, "terima kasih, Fiya"


Setelah Shafiya pergi, Haidar mulai mengacau di dapur. Lalu bergabung bersama Hamna yang tengah memotong sayuran. Tangannya sudah siap dengan pisau dan talenan.


"Kamu mau masak apa, Na?" tanya Haidar di samping gadis itu, Hamna yang sedang sibuk memotong sayuran itu memindahkan perhatiannya pada Haidar, "kamu mau apa, Pak?" tanyanya kepada Haidar yang sudah siap menggenggam pisau di tangan kanannya.


"Apa begini sudah benar?" Haidar membenarkan posisi pisau yang dipegangnya, tapi bukannya menjawab, Hamna justru mengambil pisau yang dipegang Haidar lalu meletakkannya. "Pak, lebih baik Pak Haidar pergi bersihkan diri saja, oke? Biar saya yang urus urusan dapur"


"Tapi ... " Haidar mau memprotes, tapi lebih dulu dipotong oleh Hamna, "Pak Haidar ... " ia menatap laki-laki itu tajam. "Oh, oke, oke, saya pergi. Tapi bisa kasih tahu saya dulu, kamu mau masak apa?" Haidar bertanya penasaran.

__ADS_1


Hamna memandang laki-laki yang berperan sebagai dosen itu, mata Haidar tampak memohon, membuat Hamna tak tahan, "saya mau bikin bubur dulu terus masak nasi goreng, kenapa? Pak Haidar mau request?"


Hamna mulai menggoreng bawang, cabai dan yang lainnya, bau harumnya bumbu menguar di sekeliling. Membuat Haidar tak tahan, "wah, bau enaknya sudah tercium, lho, Na" ucap Haidar, hidungnya mengendus bau masakan Hamna, membuat gadis itu terkekeh geli.


"Kalau begitu, lebih baik Pak Haidar cepat-cepat pergi bersihkan diri sebelum nasi gorengnya matang" ujar Hamna, laki-laki itu tampak menimbang, ia menopang dagu dengan sebelah tangannya, "oke, deh, saya pergi bersih-bersih diri dulu. Oh ya, jangan lupa, punya saya harus lebih banyak porsinya, oke?" Pesan Haidar pada Hamna, gadis itu menganggukkan kepala tanpa mengalihkan pandangannya dari wajan.


Dua puluh menit kemudian Haidar kembali, ia sudah berganti pakaian dengan baju santai. Rambut basahnya telah disisir rapi, dan wajahnya lebih ceria. Dilihatnya Hamna yang sedang menata piring-piring dan peralatan makan di atas meja makan.


"Butuh bantuan, Na?" Haidar menghampiri Hamna, gadis itu menoleh, "Pak Haidar bisa melakukannya? Kalau begitu tolong, ya. Saya akan antar makan dan obat ini untuk Bibi Ayuna dan Shafiya ke atas"


"Oke, kamu pergilah"

__ADS_1


Setelahnya, Hamna berjalan menaiki tangga dengan serta membawa nampan. Haidar masih memerhatikannya, "lihatlah betapa baiknya dirimu, selalu mendahulukan kepentingan orang lain" batin Haidar. Lalu ia kembali menata piring dan peralatan makan lainnya di atas meja.


__ADS_2