141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
El Hilang


__ADS_3

Mobil Haidar melaju dengan lambat di jalan raya, pukul 4 sore hari, jalanan Ibukota sedikit macet. "Bagaimana dengan sidangmu?" tanya Haidar saat mereka terjebak kemacetan. Hamna yang tengah asyik dengan Ipad-nya seketika menoleh.


"Cukup baik" jawabnya singkat. Shafiya menyembul dari kursi belakang. "Sayang sekali Pak Haidar tidak di sana. Hamna menyelesaikan sidangnya hanya dalam waktu satu jam! Teman-teman 3 angkatan, semua menyelamatinya."


"Oh, ya? Saya ikut senang mendengarnya. Lalu, kamu kapan akan menyusul, Fi?" Shafiya melengos ketika ditanyai Haidar. Ia bergumam, "betapa dunia tidak adil bagi mahasisw akhir" lalu Shafiya kembali duduk menemani El bermain video game.


Di balik kemudi, Haidar tertawa diikuti gelengan kepala Hamna mendengar gumaman Shafiya. "Sejak Pak Haidar berhenti mengajar di kampus, Shafiya selalu saja mengeluh tidak ada yang membantunya. Dosen pembimbing barunya adalah seorang perempuan yang sudah lanjut usia" adu Hamna, sambil melirik Shafiya di kaca spion.


"Sangat tidak adil, ya kan?" keluh Shafiya lagi. Haidar dan Hamna yang mendengarnya hanya tertawa ringan. Haidar kembali menyetir mobilnya.


***


Kini, mereka berada di toko buku, tempat Hamna biasa membeli buku-buku. Haidar dan Hamna sedang memilih buku di rak bisnis.


"Pak menurutmu, di antara dua buku ini, mana yang bagus untuk referensi saya?" tanya Hamna seraya menunjukkan dua buah bukue di tangannya.


Haidar tampak menimbang, "hmm, keduanya bagus, sangat relate dengan isi skripsimu. Tapi, sebaiknya kau baca saja buku di sebelah kananmu itu. Isinya lebih lengkap dan rinci."

__ADS_1


Hamna mengangguk, "baiklah, beli keduanya saja." Hamna mengambil kedua buku itu dan memasukkannya ke keranjang miliknya.


"Kalau kamu berniat baca dua-duanya, kenaa kamu bertanya?" Hamna terkekeh, "hanya ingin tahu pendapat Pak Haidar saja"


Saat keduanya asyik berbincang, tiba-tiba Shafiya muncul dengan napasnya yang tersengal-sengal. "Shafiya? Kau kenapa? Di mana El?" tanya Hamna langsung.


"Tarik napas dulu, Shafiya. Kenapa? Sesuatu terjadi?" Haidar menambahi. Shafiya mengangguk, ia menyeka peluh di dahinya.


"El... El... Dia"


"El kenapa?"potong Hamna tak sabaran. Shafiya mulai menangis, "El hilang, huhuhu" ucapnya pada akhirnya.


"Na, kamu tenang dulu. El tidak mungkin pergi jauh dari sini. Kita cari dulu, kalau tidak ketemu juga baru kita buat laporan. Oke?" Lalu, ketiganya bergegas mencari El.


"El tadi ada di sini, lalu aku pergi sebentar untuk mengambilkannya buku anak-anak di rak sana" jari Shafiya menunjuk rak di ujung lorong. Hamna dan Haidar mengikuti arah telunjuk Shafiya.


Tanpa berkata, Hamna langsung berlari ke arah rak untuk memeriksa sekitarnya. Barangkali El bersembunyi. "El, El juga tidak ada... tidak ada di sana" ujarnya terbata, napasnya tertelan oleh rasa panik.

__ADS_1


"Maaf, maaf, maafkan aku... hiks... hiks... Aku seharusnya tidak meninggalkan El sendirian. Aku... Aku seharusnya terus menemani El" Shafiya mulai terisak.


"Shafiya, sudah, jangan menangis. Bukan salahmu juga, kok. El memang suka berkeliaran. Kita pasti menemukannya" Haidar berucap, mencoba menenangkan Shafiya. Padahal dirinya sendiri pun sama paniknya.


"Kita berpencar saja, agar El lebih cepat ketemu" usul Hamna, lalu diangguki oleh keduanya.


"Baiklah, saya coba tanya ke bagian keamanan. Kalian coba terus cari di sekitar sini. Saya yakin El tidak akan lari terlalu jauh. Jangan lupa kirim pesan jika kalian sudah menemukannya. Oke?"


"Ya, Shafiya, kamu cari ke arah sana. Aku akan ke arah sini" lalu ketiganya mulai berpencar.


•••


Happy Reading.


Jangan lupa dukungannya, ya.


With Love,

__ADS_1


Author.


— HK


__ADS_2