141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Tanpa Pamit


__ADS_3

Pengumuman keberangkatan menggema. Hamna bergegas menggeret kopernya menuju pintu boarding. Ia duduk dengan helaan napas panjang, tak lama burung besi itu mengudara, meninggalkan bandara menuju cakrawala.


Hamna menatap ke luar jendela pesawat, menatap jauh ke kota tempatnya tinggal. Bangunan-bangunan megah tampak kecil dari atas. Untuk beberapa tahun ke depan, ia pasti akan merindukan kota kelahiran itu.


Tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, Hamna akhirnya memejamkan mata, menghilangkan kantuk yang mendera. Semalaman ia sudah berpikir panjang, melalui proses perenungan yang menghabiskan banyak waktu. Hari ini, ia teguhkan keputusannya untuk pergi.


"Entah Pak Haidar sudah tahu atau belum, semoga dia bisa menerima keputusanku," lirihnya sebelum ia benar-benar terlelap.


***


Haidar berjalan menyusuri koridor, sapaan hangat dari karyawan menyambutnya lembut. Ia tersenyum singkat, membalas kembali sapaan tersebut. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 tepat.


"15 menit lagi rapat akan dimulai, Pak. Mereka sudah menunggu Anda," ujar sang asisten mengingatkan. Haidar mengangguk singkat.


"Kau masuk dulu, aku akan menelepon seseorang sebentar." Sang asisten menunduk hormat lalu pergi lebih dulu ke ruang rapat.


Haidar merogoh ponselnya di saku, menekan sebuah nomor. Namun nihil, seseorang yang hendak dihubungi tetap tak menjawab.


"Ke mana dia? Mungkinkah ponselnya mati? Ah, sudahlah, mungkin juga dia belum bangun."

__ADS_1


Lalu Haidar masuk ke dalam ruang rapat, di sana jajaran direksi sudah menunggunya. Hari ini adalah rapat internal pertamanya semenjak ia memasuki perusahaan Ayahnya 2 bulan yang lalu.


Meskipun baru menggeluti pekerjaan ini, Haidar sudah menunjukkan dedikasi tinggi yang membuat Fawwaz bangga dan tenang menyerahkan tanggung jawab besar itu kepada Haidar.


Rapat itu berlangsung cukup lama, hingga menjelang makan siang. "Baik, sampai sini saja pembahasan kita, rapat akan dilanjutkan besok," ujar Haidar, bersiap meninggalkan tempat duduknya.


Para jajaran direksi menghela napas, akhirnya selesai juga. Lalu mereka pun meninggalkan ruang rapat satu persatu.


"Kevin, setelah ini apa jadwalku?" tanya Haidar pada asistennya begitu keluar dari ruang rapat menuju lobi.


"Temu klien jam 2 siang, Pak, setelah itu ada janji temu juga dengan pihak investor di jam 4 sore. Presdir ada urusan mendesak? Perlukah saya tunda jadwalnya?"


"Baik, Pak. Hati-hati di jalan."


Lalu, Haidar mengendarai mobilnya menuju rumah Hamna. Hatinya berubah cemas saat gadis itu tak ada kabar.


Sesampainya di sana, suasana rumah sangat sepi. Berkali-kali ia mengetuk pintu, tak ada sahut menyambut. Hingga akhirnya...


"Pak Haidar?!"

__ADS_1


"Shafiya? Di mana Hamna?" tanya Haidar seraya mencari-cari Hamna.


"Pak Haidar... Hamna tidak ada di sini," jawab Shafiya lemah.


"Maksudnya? Oh, dia sedang pergi, ya. Tapi kok tidak ada mengabari saya? Apa mungkin lupa bawa ponsel?"


"Bukan, Pak. Hamna memang pergi, dia tidak mengabari kita bukan karena meninggalkan ponselnya, tapi dia ingin meninggalkan kita!" Shafiya menyentak lalu terisak.


Haidar masih belum memahami apa yang terjadi. "Maksud kamu apa, Fi? Katakan yang jelas! Ke mana Hamna pergi?"


"Pak Haidar. Mbak Hamna tidak memberitahu kami akan ke mana. Saat pagi, kami sudah mendapati beliau tidak ada di kamarnya, lemarinya juga kosong. Beliau hanya meninggalkan sebuah pesan di meja kerjanya agar kami menjaga rumah ini dan juga surat ini, sepertinya untuk Pak Haidar," jelas Kepala Pelayan.


Haidar menyabet surat itu dari tangan Pelayan dan langsung membacanya. Shafiya yang turut membaca surat itu kian terisak.


"Aku ini sahabatmu kan, Na? Tapi kenapa kamu gak bilang kalau mau pergi jauh? Padahal kita udah janji mau kuliah S2 sama-sama, tapi kenapa kamu egois?!" raungnya entah pada siapa.


Haidar kian lunglai, terduduk di tanah.


Setelah semua yang saya lakukan untukmu, kenapa kamu tetap meninggalkan saya, Na? Apakah begitu sulit bagimu untuk tetap di sini? Apakah begitu sulit untukmu menerima saya? Kamu pergi seolah tidak ada yang terjadi. Mengapa? batin Haidar menjerit.

__ADS_1


Mendung menggelayuti matanya, ia remas kertas itu, lalu berjalan lemah menuju mobil. Meninggalkan kediaman Hamna dengan hati gemetar tak terima. Tak pernah ia sesedih dan seterluka ini.


__ADS_2