141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Bukan Salahmu


__ADS_3

Fawwaz dan para polisi tengah memeriksa ruang CCTV rumah Hamna, dua polisi diminta berjaga di depan kamar Hamna untuk berjaga-jaga, sisanya sedang menggeledah rumah dan melakukan investasi di sekitar demi mencari bukti.


Haidar terduduk lemah di samping Hamna, tatapannya sayu melihat Hamna yang terbaring lemah di kasur. "Ini salahku, Na ... Jika aku tadi mengantarmu pulang, kejadiannya tidak akan begini, kan? Kamu tidak akan ketakutan dan trauma seperti ini ... Maaf, Na, maaf ... " ujarnya merasa bersalah pada dirinya sendiri.


Haidar terus merutuki dirinya sendiri, tidak seharusnya ia melibatkan Hamna dalam permasalahan hidupnya. Tidak semestinya ia meminta gadis itu untuk membantunya. Seharusnya, ia menghadapi semuanya sendirian, meski akhirnya ia harus menerima perjodohan atau beban pekerjaan yang berlipat-lipat dari pamannya, ia akan menanggungnya sendiri.


Tanpa Haidar sadari, Fatih tengah memerhatikannya dari belakang. Laki-laki itu menggeleng, "dari awal sudah kuduga hubungan mereka tidak biasa, sekarang aku melihat buktinya, aih, semoga Tuhan selalu menjaga kalian" ujarnya bermonolog.


"Bukan salahmu, Dar. Jangan menyalahkan dirimu sendiri, apa yang terjadi hari ini, baik keluargamu, kamu atau bahkan Hamna sendiri juga tidak pernah menduganya. Tenangkan dirimu" ucap Fatih mencoba menenangkan Haidar.


Haidar terdiam, meski Fatih berkata benar, hati kecilnya masih tetap tidak bisa menerima kenyataan. "Tapi, Fatih. Seharusnya aku bisa mencegahnya, seharusnya aku lebih memerhatikannya, seharusnya aku tidak melibatkannya dalam masalah hidupku. Jika tidak ... " Haidar mengusap kepalanya, merasa bersalah.

__ADS_1


Fatih mengambil duduk di sampingnya. "Dar, ada beberapa hal yang meski kita berusaha mencegahnya, hal itu akan tetap terjadi. Satu atau dua hal mungkin bisa kita atasi dengan memerhatikan sebab akibat, tapi juga ada beberapa hal yang benar-benar di luar kendali kita ... "


"Sama halnya dengan sakit, kita tentu tidak ingin jatuh sakit, ya kan? Kita akan menjaga kesehatan, berolahraga dan memerhatikan pola makan untuk mencegahnya. Tapi pada waktunya kita juga tetap sakit. Dan pada saat sakit itu, mau tidak mau kita menerima keadaan bahwa kita memang sakit meskipun kita sudah melakukan pencegahan ... "


"Dan apa yang terjadi pada Hamna malam ini, meski kita telah melakukan pencegahan, apa yang telah Allah takdirkan terjadi, pasti akan terjadi, tak peduli seberapa kuat kita mencegahnya. Jangan menyalahkan dirimu, lebih baik kamu fokus untuk menjaganya sekarang" jelas Fatih panjang lebar, mencoba membuat Haidar paham dan berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Pada akhirnya, Haidar mengangguk lemah.


Hannah masuk membawa nampan berisi kopi, "bagaimana keadaannya sekarang?" tanyanya kepada Fatih dan Haidar. Keduanya berdiri, memberi ruang bagi perempuan setengah baya itu untuk melihat kondisi Hamna. "Dia sudah lebih baik, Bu." Hannah tersenyum. "Ibu akan menjaganya, kalian istirahatlah dulu sebentar, minum kopi kalian sebelum dingin" keduanya mengangguk.


Hatinya sebagai Ibu merasa sedih, ia sudah menganggap Hamna sebagai anaknya sendiri. "Betapa malangnya kamu, sayang. Hidup sendirian selama bertahun-tahun, entah sudah berapa banyak hal buruk yang menimpamu. Jika kamu sungguh menjadi menantuku, aku akan menjagamu sepenuhnya, tidak akan kubiarkan kamu merasa kesepian dan sedih lagi. Bahkan jika anakku menyakitimu, aku akan memukulnya untukmu, tenang saja" katanya sambil tersenyum. Ia mengelus lengan Hamna penuh kasih.


"Oh ya, Haidar ... " panggilnya, Haidar berdiri dengan panik, "iya, Bu. Ada apa?" jawabnya cepat. Hannah terkekeh. "Tenanglah, Nak. Ibu hanya mau bertanya"

__ADS_1


"Ibu mau bertanya apa?" Hannah menepuk bagian kasur yang kosong di sampingnya, meminta Haidar untuk duduk. "Apakah Hamna benar-benar tinggal sendiri? Maksud Ibu, di rumah sebesar ini, kenapa dia tidak punya pembantu atau asisten?"


"Seingat Haidar ada kok, Bu. Namanya Bi Ina sewaktu Hamna di rumah sakit Bi Ina juga yang merawatnya. Dia tidak ada di sini?" Haidar balik bertanya, ia juga baru menyadari kalau Bi Ina tidak ada di rumah Hamna.


"Kalau begitu, ke mana pembantunya? Di saat seperti ini seharusnya dia menjaga Hamna, kan? Apa mungkin dia ... ?" kepala Hannah dipenuhi pikiran buruk.


"Tidak, tidak mungkin, Bu. Setahu Haidar, Bi Ina sudah bekerja di rumah Hamna sejak ia kecil, mana mungkin ia melakukan hal seperti itu"


"Kalau begitu ... Kemana dia?" Haidar menggeleng, "tidak tahu, nanti Haidar tanyakan kalau Hamna bangun"


"Baiklah, kamu jaga dia baik-baik, Ibu mau menemui Ayahmu dulu" Haidar mengangguk. Lalu Hannah pergi keluar disusul Fatih yang pamit pulang.

__ADS_1


__ADS_2