
Sesampainya di sana, mereka bertemu dengan seorang dokter. Hamna menyapa dokter yang terlihat masih sangat muda itu. "Maaf, Anda siapa? Di mana dokter Rayyan Mubarak?"
Dokter itu tampak terkejut "Apa Anda Hamna? Saya Fatih, Alfatih Mubarak, anak dokter Rayyan. Beliau sedang ada operasi dadakan, jadi mengutus saya ke sini untuk memeriksa." Jelas dokter itu tersenyum ramah, sembari mengulurkan tangannya. Hamna menatap nanar tangan itu, ragu.
Baru saja ia akan menyambut uluran tangan dokter Fatih, tiba-tiba Haidar menggamit tangan Fatih hingga ia terkejut. "Senang berkenalan dengan Anda, Dokter Fatih!" Haidar menyalami dokter itu santun.
Fatih tampak terkejut melihat seseorang yang menggamit tangannya. "Haidar? Kau ada di sini?" Tanyanya.
Haidar tersenyum, sebuah kebetulan yang tak terduga teman lama itu bertemu. "Iya, lama tidak bertemu ya Fat, gimana kabarmu sekarang?"
Keduanya berpelukan erat, "Oh My God, dunia sempit sekali ternyata. Kabarku baik, eh tapi, kenapa kau ada di sini juga?" Tanya Fatih untuk kedua kalinya.
"Kalian saling mengenal?" Hamna menyela perbincangan kedua laki-laki itu, "Iya, kita teman lama" jawab keduanya bersamaan.
"Oh, okay, tapi bisakah reuni kalian ditunda dulu? Ada seseorang yang harus diperiksa ... "
"Oh ya ampun, hampir lupa, ayo cepat, di mana pasiennya? Semua ini gara-gara Haidar" Fatih menggerutu sambil berjalan. "Hei, kenapa jadi salahku?"
.....
__ADS_1
"Bagaimana, Dok? Apa Bundaku baik-baik saja?" Tanya Fiya, Fatih baru saja selesai memeriksa Ayuna. Wajahnya tampak pias oleh khawatir.
"Keadaannya baik-baik saja. Ibumu hanya terlalu emosi dan sedikit kelelahan juga stress. Biarkan dia berisitirahat. Oh ya dan tolong jangan biarkan dia terlalu tertekan dan berpikiran berat, itu akan mempengaruhi keadaannya. Apa akhir-akhir ini ada yang mengganggu pikirannya?"
Fiya dan Hamna tampak berpandangan, "Sebenarnya, keluarga kami sedang mengalami masalah, untuk itu dia tidak mau makan apapun meski sudah kubujuk. Aku rasa itu yang membuatnya terlalu stress sampai mempengaruhi kesehatannya" jelas Fiya, matanya tampak sembab, entah berapa kali ia menangis.
Hamna memegang pundaknya, berusaha menyalurkan energi positif untuk sahabatnya itu. "Tenanglah, Fiya, semuanya akan baik-baik saja. Bibi hanya perlu istirahat. Kamu jangan terlalu khawatir, ya, aku bersamamu"
"Benar, biarkan Ibumu istirahat." Haidar menimpali. "Kami ada bersamamu, jangan khawatir, Fiya"
Fatih berdiri dari tempatnya duduk, ia berdeham pelan, "oh ya, ini resep obat untuk Ibumu, kamu bisa mendapatkannya di apotek terdekat." Fatih berujar sambil memberikan selembar kertas itu kepada Fiya.
"Berikan itu pada saya Fi, saya akan pergi membelinya. Kalian berdua jagalah Bibi Ayuna dengan baik" ujar Haidar menawarkan bantuan, Fiya memandang Hamna, meminta persetujuannya. Hamna mengangguk sembari mengelus pundak Fiya.
"Ini, Pak, terima kasih atas bantuannya"
"Tidak usah sungkan"
Setelah mengambil kertas berisi resep obat itu, Haidar mengalihkan pandangannya kepada Fatih, laki-laki berperawakan tinggi dengan kacamata yang membingkai wajahnya itu sedang sibuk memainkan ponselnya.
__ADS_1
"Fatih, ayo pergi, kau ikutlah denganku!" katanya seraya mendorong tubuh laki-laki itu, membuat Fatih meronta, "hei, Dar, apa-apaan nih? Jangan dorong-dorong begitu dong!" teriaknya, tapi Haidar tak mendengarkannya, ia terus menarik Fatih keluar.
"Duduklah, Fiya. Ibumu akan baik-baik saja, ya" Hamna berusaha menenangkan sahabatnya yang tengah bersedih itu. Setelah kedua laki-laki itu pergi, Hamna baru bisa meluangkan waktu berbicara empat mata dengan sahabat karibnya itu.
Gadis itu menatap Hamna nanar, lalu memeluknya erat. Fiya menumpahkan semua tangisnya di dekapan Hamna. Meluruhkan segala beban yang tak mampu lagi ia pikul, Hamna mengelus-elus punggungnya, berharap dengan itu ia bisa meredakan dukanya Shafiya.
"Kenapa, Na? Kenapa hal ini harus terjadi padaku? Kenapa Tuhan memberiku masalah yang tak mampu kutanggung ini? Huhuhu ... " Fiya berkata sambil tergugu. Ia meronta meluapkan segala emosinya. Jiwanya benar-benar terguncang.
Hamna turut menangis mendengar perkataan Shafiya yang memilukan itu. Hatinya pasti benar-benar terluka sampai ia bisa berkata demikian. "Tidak, tidak begitu Fiya ... Sekarang lihat aku" ujar Hamna, Fiya mengikuti ucapannya, matanya menatap Hamna.
"Kamu ingat tidak apa yang pernah kukatakan? Masalah yang datang kepada kita bukan tanpa sebab, Tuhan sudah lebih dulu menakar kemampuan kita. Apa yang kita terima hari ini, kelak pasti akan Allah berikan jawabannya. Pernah dengar kata-kata indah ini tidak? Setelah badai yang menerjang pasti akan ada pelangi yang datang?" jelasnya, Fiya mengangguk.
Hamna tersenyum lembut, senyum yang bahkan sebelumnya tak pernah ia tunjukkan. Hati Fiya turut berdesir mendengar penuturan dan senyum Hamna yang lembut. "Aku ingat, Na. Setelah ujian yang menimpa pasti ada bahagia yang akan datang. Dan, Tuhan tidak akan membebani kita dengan suatu masalah yang di luar batas kemampuan hamba-Nya"
Hamna memeluk Shafiya, "benar sekali, kamu sudah memahaminya sekarang, Fi?" tanya Hamna kepada Fiya, gadis itu mengangguk, "iya, aku sudah mengerti. Tapi, Na, duniaku rasanya hancur dalam sekejap. Ayah yang begitu kuhormati ternyata meletakkan belati di dadaku. Bunda adalah yang paling kusayangi sekarang terbaring lemah. Aku harus apa, Na? Aku harus apa sekarang?" tanya Fiya lagi suaranya bergetar, menahan tangis.
"Apa yang kamu katakan, Fiya? Kamu tidak sendirian, aku di sini, kan? Aku ada bersamamu. Aku tahu apa yang kukatakan ini pasti terdengar biasa, tapi aku tetap mau mengatakannya. Kamu harus kuat dan lebih bersabar, jika bukan demi dirimu sendiri setidaknya lakukan demi Ibumu, demi orang-orang terkasihmu. Kamu harus tetap berdiri tegak, oke? Sahabatmu ada untuk menopangmu. Kamu dengar tidak?" jelasnya panjang lebar, Shafiya mengangguk lalu memeluk Hamna kembali.
Hamna mengetahui dengan pasti apa yang dirasakan oleh Shafiya, karena ia juga pernah berada di posisi itu. Kehilangan tumpuan dan harapan, merasa putus asa. Tapi seseorang telah membantunya untuk bangkit dan tetap menjalani hidup sebagaimana mestinya.
__ADS_1
Mendengar perkataan Hamna barusan Fiya bersyukur dalam hati. Ia bersyukur di saat-saat terpedih hidupnya, ia masih memiliki sahabat, Hamna hadir sebagai pelipur laranya. "Hamna ... Terima kasih, ya" lirihnya.