
Haidar mengendarai motornya pergi ke kediaman Musyaffa. Sesampainya di sana ia tak langsung masuk melainkan memberhentikan lebih dulu motornya di pertigaan yang akan mengarah ke rumahnya.
Jujur, jika bukan karena permintaan Ibunya, Ia tak akan ingin pulang dan berseteru lagi dengan Ayahnya soal pilihan hidupnya. Haidar menarik napas berat, bagaimana pun ini adalah rumahnya, di sanalah keluarganya berada, meskipun tengkar seringkali menghiasi suasana rumah itu, ia tak mungkin terus menerus menghindarinya.
Lalu ia memajukan motornya ke dalam, satpam yang berjaga membuka gerbangnya lebar-lebar untuk Haidar, dari luar ia sudah bisa melihat ada seseorang yang menunggunya. Itu Ibunya. Haidar memarkir motornya di halaman rumah yang luas itu dan menghampiri sang Ibu.
"Ibu, kenapa menunggu di luar? Ini sudah malam nanti rematik Ibu kambuh lagi" katanya, meledek sang Ibu.
"Kau ini, baru datang sudah berani begini ya, lihat saja Ibumu tak akan membiarkanmu pergi" jawab Ibunya sambil menjewer telinga anak laki-lakinya itu.
Haidar meringis, "aww, aww, aww jeweran Ibu sakit, lho, Bu" setelahnya mereka berdua tertawa lepas.
"Sudah, sudah, Ayahmu sudah menunggu di dalam. Ayo masuk!"
"Iya" kata Haidar, lalu keduanya masuk bersamaan.
Mereka melewati ruang tamu yang luas, di sana ada para keponakan Haidar yang sedang bermain dengan riang. Melihat para keponakannya yang lucu-lucu membuat Haidar bahagia.
"Nyonya, semuanya sudah siap" pelayan berkata dengan nada sopan. Hannah hanya menganggukkan kepala, dan pelayan itu pun pergi.
Hannah mengajak Haidar ke ruang makan tempat di mana ayah, paman dan bibinya berkumpul. Semuanya sudah menunggunya di sana.
"Haidar sudah datang, ya" ucap seorang perempuan yang berkerudung hijau tua, dia adalah Hafsha, istri dari paman keduanya, Youssef. Di sebelahnya ada Nadin, istri dari paman pertamanya, Hayan.
Haidar tersenyum tipis lalu mendatangi Ayahnya yang berada di ujung meja makan, ia menyalami tangan Ayahnya hormat.
"Ayah, apa kabar?" tanyanya sopan sambil menundukkan kepala.
"Baik, ayo semuanya duduk. Pelayan sajikan semuanya"
Setelahnya, para pelayan sibuk menyajikan makanan di meja. Lalu semuanya makan dengan hening, hanya terdengar suara denting sendok yang beradu dengan piring.
30 menit kemudian semua orang telah selesai makan, mereka semua berganti ke ruang keluarga. Sedangkan Haidar dipinta pergi menemui Ayahnya yang sudah lebih dulu pergi ke ruang baca.
Haidar menghela napas panjang, perdebatan apa lagi yang akan tercipta kali ini. Ia berjalan ke arah ruang baca tanpa ragu, ia sudah menyiapkan diri sebelumnya.
Ia mengetuk pintu pelan, "Ayah, ini Haidar" ucapnya meminta izin untuk masuk. Tak lama, pintu dibuka, Haidar pun masuk mengikuti Ayahnya. Mereka berdua duduk di sofa yang empuk.
Untuk beberapa saat suasana hanya hening, tak ada yang bersedia membuka percakapan. Haidar mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, ruang baca ini tak berbeda jauh bahkan tak pernah berubah, hanya saja ada beberapa foto tambahan di dinding sebelah rak-rak buku, itu adalah foto wisuda Haidar di Kanada bulan lalu.
__ADS_1
"Kau terlihat gagah dan tampan di foto itu, ya kan? Sayang sekali waktu itu Ayahmu ini tidak bisa hadir di acara wisudamu" ucap Fawwaz, Ayah Haidar memecah fokus Haidar yang sedang menatap foto-foto kenangan itu.
Haidar menatap Ayahnya seketika, ada gurat bangga di wajah Ayahnya. Barangkali melihat anaknya bisa mengejar apa yang diinginkannya adalah suatu kebanggaan. Haidar masih ingat waktu dia memutuskan melanjutkan studinya di Kanada, Ayahnya tak setuju, hampir sebulan mereka tidak berbicara dan saling melemparkan tatapan dingin.
Walaupun pada akhirnya Ayahnya membiarkannya pergi atas desakan Ibunya. Dan karena itu juga, selama masa studinya ia mendapatkan kesulitan karena Ayahnya tidak memberinya tunjangan apapun, bersyukur waktu itu Haidar sempat apply beasiswa sehingga masalah uang bukanlah hal besar baginya.
Haidar tersenyum sekilas, "Haidar tahu Ayah pasti sibuk, lagipula pasti melelahkan jika harus pergi-pulang Kanada-Indonesia hanya demi menghadiri wisuda anak Ayah" kata Haidar agak menyindir Fawwaz.
Fawwaz tertawa hambar, "kau benar, Ayah suka mengalami jet lag. Ayahmu ini sudah berumur, sudah tidak sanggup melakukan perjalanan jauh dan berpikir terlalu berat" Fawwaz berkata dengan sendu.
Sepertinya Haidar mulai mengerti ke mana arah pembicaraan ini. "Sebenarnya apa yang ingin Ayah sampaikan?" tanya Haidar langsung, ia tak suka jika harus berbasa-basi dengan Ayahnya ini. Fawwaz menyesap kopinya pelan.
"Pamanmu, Hayan, ia berbicara padaku kemarin katanya ingin menjodohkan kau dengan anak relasi bisnisnya" katanya kemudian, ia masih menyesap kopinya pelan.
Haidar yang mendengarnya seketika bangkit, "Apa-apaan ini, Ayah?! Ayah tahu kan Haidar tak suka diatur seperti ini apalagi untuk urusan pernikahan! ... Haidar berhak untuk memilih dan menentukan pilihan hidup Haidar sendiri, orang lain tak berhak ikut campur!" kata Haidar dengan marah.
"Tenang dulu, Ayahmu belum selesai bicara, duduklah lagi, Nak" ucap Fawwaz dengan santai. Haidar bahkan bingung untuk urusan yang menyangkut anaknya sendiri kenapa Ayahnya bisa sesantai itu.
Haidar mengatur napasnya yang memburu karena marah tadi. Saat amarah Haidar lebih mereda, Fawwaz melanjutkan bicaranya.
"Hayan mendesakku untuk memaksamu agar kau setuju dengan perjodohan itu"
"Tidak, tepatnya aku belum memberinya kepastian" kata Fawwaz, kemudian memandang anak laki-laki satu-satunya itu. Anak yang selalu ia sayangi dan bangga-banggakan akan menjadi pengganti kepala keluarga Musyaffa kelak.
"Kenapa?" Haidar bertanya lagi dengan heran.
"Karena aku tak mau memaksakan kehendak padamu lagi, Nak. Katakanlah kalau Ayahmu ini sedikit menyesal telah memaksakan kehendaknya padamu dulu, sampai-sampai anakku sendiri memusuhiku dan tidak pernah menghubungiku ataupun mengunjungiku selama kurang lebih 3 tahun terakhir ini" Fawwaz menjelaskan kegundahan hatinya.
Sebagai Ayah tentu ia ingin anaknya meraih keberhasilan dalam hidup, hanya saja kadang ia lupa kalau anaknya juga punya pilihan dan tujuan hidupnya sendiri. Di saat itu, dibanding menunjukkan arah jalan lebih baik membimbing anak kepada jalan yang ia pilih, dan berusaha memberi dukungan agar anak mampu mencapai tujuannya dengan baik.
Dan juga sebagai anak, Haidar kadang tak mengerti jalan pikir orang tua. Haidar berpikir jika Ayahnya egois dan mementingkan keinginan dan tujuannya sendiri tanpa memikirkan bagaimana kebahagiaannya. Padahal sebenarnya, yang diinginkan orang tua hanyalah melihat anaknya berdiri di atas kakinya sendiri dengan gagah dan berjaya.
Jalan pikir orang tua dan anak memang berbeda, kadang juga berseberangan. Sudah seharusnya keduanya memiliki kesepakatan dan membicarakannya dengan baik. Dan itulah yang sedang dilakukan oleh Fawwaz sekarang.
Haidar tampak melamun, mencoba mencerna ucapan Fawwaz tadi. Mungkin ia juga salah, tidak seharusnya ia bermusuhan dan bersikap dingin pada Ayahnya sendiri.
Ia mengangkat kepalanya tegak lalu menatap Ayahnya lekat-lekat, ia pandangi Ayahnya dari samping, di wajahnya yang tak muda lagi, Haidar harusnya tidak membuat ayahnya khawatir, apalagi mengkhawatirkan dirinya.
"Lalu, sekarang bagaimana keputusan Ayah?" tanya Haidar pada akhirnya, Fawwaz menoleh.
__ADS_1
"Yah, karena anak Ayah menolak dijodohkan, maka kamu sendiri yang harus membawa calon istrimu ke sini" kata Fawwaz dengan menunjukkan cengiran jahilnya.
Haidar mengernyitkan keningnya tak mengerti, "Apa maksud Ayah?"
"Kemarin setelah Hayan mendesakku tentang perjodohan ini, Ayah langsung mendiskusikannya dengan Ibumu, dan Ibumu bilang agar jangan memaksamu, karena katanya Haidar sudah menyukai seorang gadis di kampusnya. Cinta pada pandangan pertama seorang dosen muda" goda Fawwaz, pipi Haidar bersemu merah.
"I-itu, itu tidak benar, Ayah!" Haidar berkata dengan gugup. Ia tak menyangka Ibunya akan menceritakan kisah asmaranya pada Ayahnya sendiri dan membuatnya malu.
Fawwaz yang mendengar anaknya tergagap saat membicarakan seorang gadis seketika tawanya pecah. Tawa yang lepas sekali. Haidar sampai heran kenapa Ayahnya tertawa begitu nyaring, "apakah ada yang salah dalam ucapanku?" batinnya dalam hati.
Melihat Ayahnya yang tertawa begitu nyaring, Haidar pun turut mengembangkan senyumnya, ia merasa bahagia, dan ia menikmati pemandangan yang langka itu.
Fawwaz menyeka air matanya yang tak sengaja keluar karena tertawa lantang tadi. Ia berdeham pelan, sedangkan Haidar masih memerhatikan gerak-gerik ayahnya.
"Baiklah, karena Haidar tidak ingin dijodohkan, maka Ayahmu ini akan tegas mengatakan kepada Hayan. Tapi ... " ucapan Fawwaz menggantung, ia ragu memberitahukan hal ini pada Haidar.
"Tapi apa, Yah? Katakan cepat!" desaknya.
Fawwaz tampak menarik napas, "Kau tahu, kan bagaimana sifat paman pertamamu itu? Ia tak akan menyerah pada ambisinya. Sekalipun aku sudah mengatakan dengan tegas padanya, tapi dia pasti akan melakukan sesuatu sampai ambisinya itu tercapai" lugas Fawwaz.
Haidar tampak berpikir, yang dikatakan Ayahnya memang benar, pamannya itu memang agak ambisius, "Haidar mengerti, hal itu akan jadi urusan Haidar nanti" ucap Haidar pada akhirnya, biarlah urusan pamannya akan ia pikirkan lagi nanti.
"Kalau begitu, apa ada yang mau Ayah bicarakan lagi?" tanyanya, ia sudah ingin pergi sekarang ini, ia ingat kalau ia masih punya janji pada Hamna untuk menemaninya malam ini.
"Ada!"
"Apa itu?"
"Kapan kau akan bawakan Ayah menantu? Cepatlah kenalkan gadis itu pada Ayah" goda Fawwaz, pipi Haidar memerah lagi. Sekali lagi, Fawwaz dibuat tertawa hanya dengan melihat ekspresi Haidar yang malu-malu seperti anak kecil, padahal ia sudah dewasa.
"Aih..., anakku sangat lugu, dan sekarang ia sudah tumbuh lebih dewasa. Betapa cepatnya waktu berlalu ... " batinnya dalam hati.
"Haidar tidak bisa memastikannya, Yah. Kalau begitu Haidar permisi dulu" pamitnya, ia berdiri dan membungkukkan badannya hormat.
"Assalamualaikum" ucapnya lalu pergi dari hadapan Fawwaz. Laki-laki yang dipanggil Ayah itu menganggukkan kepalanya.
Haidar langsung pergi ke luar dan mengendarai motornya, ia sengaja tak pergi ke ruang keluarga menemui keluarganya, apalagi paman dan bibinya, bukannya tak ingin, ia hanya tak mau sampai mendengar keributan atau membuat Ibunya cemas dan susah payah melerai keributan yang terjadi.
Ia tak berpamitan pada Ibunya, lagipula esok ia pasti akan menemui Ibunya lagi. Haidar yakin, Ibunya pasti tahu dan akan memakluminya. Urusan hari ini biarlah Ayahnya saja yang selesaikan. Ia sudah lelah. Membayangkannya saja sudah membuat kepala Haidar pening.
__ADS_1
Lebih baik segera pergi ke rumah sakit, ia harus segera mewujudkan keinginan Ayahnya, tiba-tiba saja senyumnya mengembang. "Hamna, calon suamimu datang ... "